Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SELALU ada pilu yang membuat lutut gemetar tiap mendengar ramalan ilmuwan tentang dunia yang makin kerontang. Krisis air bukan lagi perkara kemarau yang panjang, melainkan keniscayaan yang berjalan perlahan. Tanpa suara, sekaligus tanpa ampun.
Pada tahun-tahun mendatang, dunia akan menghadapi apa yang diperingatkan PBB melalui Konferensi Air di Mar del Plata pada 1977, yakni sebuah krisis air yang tidak lagi sekadar kekurangan, tetapi mengancam kelangsungan hidup umat manusia. United Nations World Water Development Report (2023) telah menulis, tak ubahnya seperti nubuat di lembaran kertas, 2,2 miliar manusia hidup tanpa akses air minum yang aman. Lebih dari 4 miliar orang mengalami kekurangan air musiman (seasonal water).
Di banyak tempat sungai mengering, tanah retak, dan negara-negara yang berbatasan mulai saling tuding tentang siapa yang menyedot jatah air paling banyak. Di Afrika Timur, petani bertengkar karena sungai yang menyusut. Di Timur Tengah, hulu sungai menjadi wilayah yang dipatok barisan prajurit. Ada moncong bedil yang siap meletus. Para pakar menyebutnya water wars, sebuah istilah yang terdengar samar, tapi lambat laun kenyataannya sudah mulai terjadi. Seperti ketika Mesir dan Ethiopia bersitegang soal Bendungan GERD di Sungai Nil. Atau ketika India dan Pakistan memperdebatkan kembali setiap tetes air Sungai Indus.
Dunia yang meranggas menegur kita. Bahwa air, yang dulu kita pikir abadi, bisa berubah menjadi sumber sengketa. Ia menipis, ia diperebutkan. Dalam gelap, ia merayap masuk ke urat nadi kota-kota besar. Termasuk Jakarta.
Di lembar yang berbeda, ancaman malapetaka lain berjalan berdampingan. Krisis pangan tengah bersiap menerjang. State of Food Security and Nutrition in the World (2023) mencatat 735 juta jiwa kini hidup dalam kelaparan kronis. Bumi merangkak menuju masa ketika tanah subur tak lagi mempersembahkan panen yang cukup. Di tempat-tempat yang berjarak jauh dari pandangan, gandum gagal tumbuh karena gelombang panas, sementara tanaman jagung rontok sebelum waktunya.
Perubahan iklim membuat ladang-ladang muram, panen gagal, harga pangan bergerak menuju langit. Bahkan Bank Dunia mengumumkan kenaikan harga gandum pada 2022-2023 mencapai 60% akibat perang Rusia-Ukraina. Sebuah perang yang tak cuma menghancurkan kota, tetapi juga dapur keluarga di negara-negara miskin.
Kita mulai mengerti, kelaparan bukan hanya soal tidak adanya makanan. Ia ialah bayangan panjang yang menyeret harga, distribusi, ketidakpastian, dan kerap kali, kerusuhan dan kekacauan yang sering kali bisa menggoyahkan kekuasaan.
Sementara itu, di atas kepala kita, langit yang dulu merupakan sahabat, berubah menjadi peringatan. IPCC’s Sixth Assessment Report (2023) menyebut dunia memanas 1,1 derajat celsius lebih tinggi daripada era praindustri. Es kutub retak, permukaan laut naik, badai tropis kian beringas. Cuaca ekstrem bertandang tak terduga. Hujan seperti perang, panas seperti kutukan. Bencana banjir dalam beberapa waktu terakhir di Sumatra ialah saksi baru betapa cuaca ekstrem kini bisa melibas tanpa ampun. Menghanyutkan desa-desa, merendam kota, seraya mengingatkan kita bahwa krisis iklim sedang berlangsung di depan mata.
Kita tersentak. Perubahan iklim bukan lagi menjadi definisi akademik, melainkan kenyataan sehari-hari yang menunggu waktu, bersiap mengetuk gerbang kota-kota besar.
Dari semua itu, Jakarta berdiri sebagai sebuah ironi yang memerlukan bahasa lebih dari sekadar angka. Jelang usianya yang ke-5 abad, Jakarta berada di persimpangan semua krisis itu. Ia ialah kota yang, kata para peneliti di Belanda, 'tenggelam paling cepat di dunia'. Mencapai 10 hingga 20 cm per tahun di beberapa titik. NOAA dan NASA dalam proyeksinya menyebut sebagian Jakarta Utara berpotensi tergenang permanen sebelum 2050. Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Wakil Presiden Asia Water Council, Firdaus Ali, menyebut Jakarta sebagai kota yang 'kelak berada di bawah air'. ITB dan BRIN lugas menyebut penyebabnya. Antara lain penyedotan air tanah yang brutal, penurunan tanah, kenaikan muka air laut, urbanisasi yang deras, dan sungai-sungai yang penuh beban.
Sebagian orang menganggap itu alarm berlebihan. Namun, ilmuwan bekerja bukan dengan kecemasan, melainkan data. Data, yang dingin dan tak berperasaan, menunjukkan batas-batas air semakin mendekat.
Apa yang akan terjadi pada Jakarta esok hari?
Kota ini bisa kehilangan sebagian pesisirnya. Rob lambat laun menjadi rutinitas, bukan sekadar insiden. Air tanah menjadi asin, gedung-gedung tinggi menambah beban tanah, sungai-sungai menjadi lorong lumpur yang terjebak antara beton dan sampah. Ribuan keluarga di pesisir Jakarta Utara bisa sewaktu-waktu menjadi pengungsi akibat berubahnya iklim. Industri logistik dan pangan ikut terancam sebab pelabuhan, pusat perikanan, dan gudang-gudang suplai berada tepat di garis terdepan ancaman. Ketika air merayap masuk, ia tak cuma merendam jalan, tetapi juga merendam harapan.
Akan tetapi, sejarah selalu memberi kota-kota besar ruang dan kesempatan untuk melawan. Amsterdam melawan laut dengan Delta Works. Tokyo membangun pintu air raksasa G-Cans. Seoul memulihkan sungai mereka. Hong Kong, Dubai, Rotterdam, Busan, Shanghai, dan Singapura tak pernah menunggu ombak datang membawa bencana. Mereka melakukan reklamasi dalam skala tak kecil untuk melindungi warga kota. Jakarta pun tak boleh gentar, harus menatap masa depan dengan gagasan yang lebih berani dalam menaklukkan ketakutannya.
Karena itu, Sampailah kita pada gagasan besar itu, bahwa masa depan Jakarta ada di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. Sebuah kawasan yang dulu sering kita pandang sekadarnya kini mesti menjadi etalase muka masa depan Jakarta. Di sana, tanah masih bisa disulam, laut masih bisa diajak berunding. Di sana, ruang untuk generasi mendatang masih mungkin dibangun ulang seperti puisi yang direvisi. Selama ini, justru di kawasan pesisir Jakarta dan Kepulauan Seribu-lah terserak cerita keterpurukan, ketertinggalan pendidikan, dan kerusakan lingkungan yang mengendap sejak lama. Dari sanalah kita harus memulai penyembuhan kota ini.
Jakarta tak boleh menyerah pada masa lalu. Jakarta harus berbenah. Bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk seribu tahun ke depan. Kita telah memasuki masa ketika kota ini harus membereskan dengan kesungguhan yang tak lagi bisa ditunda. Kita harus bekerja lebih keras. Kita perlu menata ulang daratan yang sesak, membenahi aliran sungai yang selama ini menjadi saksi bisu limbah kota, melindungi kawasan pesisir yang setiap hari merasakan gempuran rob dan intrusi air laut.
Pada akhirnya, membangun sebuah sistem perlindungan besar, dengan membangun tanggul laut raksasa, giant sea wall. Yang bukan hanya tembok, melainkan juga fondasi peradaban baru. Sebuah tanggul laut yang berdiri bersama reklamasi yang dirancang hati-hati. Bukan sekadar untuk perluasan tanah, melainkan juga demi perluasan masa depan.
Tanggul laut ialah cara menciptakan ruang baru bagi warga. Di sana ada ruang hidup, ruang hijau, ruang budaya, ruang pendidikan, ruang ekonomi. Ruang bagi Jakarta untuk terus ada. Ia membuka pusat kegiatan baru yang menghadap laut, bukan memunggungi seperti selama ini. Ia juga cara menegakkan kembali martabat pulau-pulau kecil Jakarta dengan menghubungkan reklamasi, penguatan pesisir, dan revitalisasi Kepulauan Seribu sebagai ruang yang layak bagi semua warga. Tanpa kecuali.
Jika proyek raksasa itu ingin dimulai, ia perlu diawali dari dua hal yang paling manusiawi. Pertama, membangun perkampungan modern bagi nelayan. Tetap dekat laut, tetap berdaulat atas sejarah mereka. Namun, hidup dalam rumah yang layak dan masa depan yang aman. Warga yang paling dulu terkena oleh dampak pembangunan ialah yang paling berhak menikmati manfaatnya. Kampung yang dibangun tak lagi kumuh, tak lagi terpojok di antara industri dan tembok, tetapi hidup sebagai komunitas maritim modern dengan pendidikan, fasilitas kesehatan, dan peluang ekonomi yang setara.
Kedua, menanam mangrove sebagai sea wall alami yang memeluk sisi luar tanggul raksasa. Gubernur Jakarta Pramono Anung mengingatkan mangrove sea wall ialah sabuk hijau penahan gelombang yang menyatukan rekayasa manusia dengan kebijaksanaan alam. Mangrove ialah ingatan kota yang tak boleh hilang. Tanggul laut mungkin karya insinyur, tapi mangrove ialah cara alam ikut menjaga Jakarta.
Ketika giant sea wall berdiri, bendungan raksasa di Teluk Jakarta akan menyimpan jutaan meter kubik air baku, yang menurut pakar air UI, Firdaus Ali, bisa digunakan untuk beberapa abad ke depan. Jakarta tidak lagi gentar menghadapi krisis air. Sungai-sungai yang mengalir ke teluk itu, yang kita rawat dan bersihkan sebelum tiba di muara, akan menjadi sumber air yang menghidupkan bukan hanya manusia, melainkan juga harapan. Lebih jauh, Jakarta akan memiliki sumber air untuk ketahanan pangan di kawasan sekitar. Untuk urban farming, budi daya perikanan, dan ruang produksi pangan yang terintegrasi dengan laut dan daratan.
Itu ialah keputusan besar, mungkin salah satu yang terbesar dalam sejarah Jakarta. Keputusan besar selalu membawa beban moral. Namun, keputusan itu harus diambil hari ini. Segera! Bila kita terlambat, bayang-bayang kelaparan, ketegangan sosial, dan bahkan peperangan yang dipicu air dan pangan dapat mengetuk pintu kita, tanpa kita pernah siap menyambutnya.
Saya menuliskan esai ini bukan hanya sebagai Wakil Gubernur Jakarta, jabatan yang suatu hari akan saya tanggalkan seperti nama di papan kantor yang bisa diganti. Saya menulis ini sebagai seorang putra Betawi dari garis ibu. Sebagai seseorang yang ingin Jakarta tidak hilang ditelan laut. Sebagai seseorang yang ingin kota ini tetap ada, tetap hidup, tetap menjadi rumah bagi semua. Jakarta kelak bukan sekadar menjadi ibu kota lama. Ia ialah kampung halaman, kenangan, dan seunggun cerita yang tak akan pernah selesai ditulis.
Kota yang selamat hanyalah kota yang berani menata dirinya sebelum ancaman tiba. Jakarta, sebagaimana hidup, harus terus bertahan. Bertahan berarti memilih untuk membangun masa depannya. Sekarang. Semoga kita tidak terlambat.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan kesiapan riset dan inovasi Giant Sea Wall untuk mengatasi banjir rob dan penurunan tanah di Pantura Jawa.
Proyek JIS masih menyisakan sejumlah pekerjaan mendasar. Mulai dari akses jalan, area parkir, hingga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)
GUBERNUR Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendesak Kementerian Pekerjaan Umum membangun kolam retensi di wilayah Genuk dan Sayung. Ia juga mengatakan rencana pembangunan giant sea wall
WAKIL Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat rehabilitasi ekosistem mangrove yang telah beralih fungsi.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia tengah dihadapkan pada dampak nyata dari perubahan iklim tersebut.
Pembuatan tanggul darurat itu sebagai upaya pencegahan banjir rob yang sering merendam pemukiman warga.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengoperasikan pompa air tenaga surya berkapasitas total 2 x 125 liter per detik sebagai bagian dari sistem pengendalian rob dan banjir.
Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir berpotensi terjadi di 25 daerah.
Diprediksi, puncak banjir rob itu akan terjadi besok, Jumat (5/12).
Cuaca pada pagi-siang di Jawa Tengah pada umumnya cerah berawan dan berawan, namun memasuki sore hingga awal malam hujan ringan turun secara merata.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved