Senin 24 Oktober 2022, 05:00 WIB

Risiko Clip Thinking

Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta | Opini
Risiko Clip Thinking

Dok. Pribadi

 

KINI, tidak sedikit pendidik yang merasakan terjadinya penurunan kemampuan kognitif siswa dalam proses pembelajaran, yang tecermin pada ketidakmampuan mereka menganalisis teks ilmiah. Siswa sering mengalami kesulitan merumuskan pemikiran sendiri tentang masalah yang sedang dipelajari dan membuat kesimpulan yang masuk akal dan konsisten menurut logika.

Regresi intelektual itu sebagian besar terkait dengan ketergantungan digital siswa pada gawai. Biasa terfokus pada persepsi dan analisis terhadap sejumlah informasi kecil yang tidak saling terkait. Akibatnya, clip thinking terbentuk. Kesadaran mereka laksana mosaik. Aneka potongan informasi tersaji secara berserak dan lepas konteks. Dalam kondisi seperti ini, siswa tidak jarang kehilangan keutuhan dan kemampuan persepsi holistik terhadap informasi yang masuk.

Salah satu sisi negatif dari fenomena clip thinking ialah penurunan nalar kritis terhadap informasi yang diterima. Sesuatu yang dapat mengarah ke kasus penipuan, dan yang paling buruk, terbukanya pintu hati untuk menerima pengaruh sugestif dari provokator, scammers, ekstremis, bahkan teroris.

Menurut Dokuka (2013), pengguna internet dengan kesadaran fragmentaris itu sering tidak dapat mengevaluasi secara kritis pesan-pesan tertentu dan membangun hubungan sebab akibat antarperistiwa. Dampak sugestif pada orang dengan clip thinking paling sering diberikan melalui pengaruh emosional dan figuratif. Lewat berbagai infografis, video, presentasi, dan persuasi. Dengan hilangnya kemampuan refleksi kritis, kesadaran mosaik dari orang-orang seperti itu, tanpa disadari telah menyerap bahan-bahan provokasi. Tanpa sadar telah terperangkap kedalam sebuah proses psikologis tertentu.

MI/Duta

 

Jebakan layar kecil

Girenok (2014), filsuf Rusia, mencirikan clip thinking sebagai kemampuan seseorang untuk merespons only to a blow, spontan, dan parsial. Salah satu alasan munculnya clip thinking di kalangan siswa milenial ialah banyaknya sumber informasi dalam gawai digital. Siapa pun perlu memiliki cukup waktu untuk dapat membaca semua pesan di jejaring sosial, posting di forum dan blog, e-mail, dan pesan SMS, dan membalasnya.

Semua itu sudah barang tentu harus dilakukan dengan sangat cepat karena sejumlah informasi baru akan segera tiba selama pemrosesan informasi itu. Situasi banjir informasi seperti itu mau tidak mau mengurangi pemikiran kritis. Di sini sama sekali tidak menyisakan cukup kesempatan bagi penerima untuk menganalisis secara mendalam informasi yang masuk.

Karena menjadi fenomena masyarakat informasi, clip thinking secara signifikan telah mengubah persepsi siswa terhadap informasi. Cara berpikir sepotong-sepotong mengakibatkan kemampuan analisis holistis siswa terhadap teks berkurang. Pada saat yang sama keterampilan bekerja dengan teks pendek baik dalam bentuk diagram maupun presentasi video menguat. Clip thinking menyebabkan hilangnya keterampilan analisis kritis dari informasi yang diterima, yang secara negatif memengaruhi kualitas pengambilan keputusan.

Milenial dengan aliran informasi yang sedemikian besar dan beragam terbiasa beralih dari satu aplikasi gawai digital ke yang lain, menjadikan kesadaran bak mosaik. Generasi itu lebih sering hidup di dunia maya daripada dunia nyata. Akibatnya dunia dipahami terpisah sebagai fragmen-fragmen yang tidak terhubung satu dengan yang lain. Sebuah dunia tanpa kedalaman dan integritas.

Perlu dicatat bahwa informasi yang dikonsumsi kaum muda setiap hari di internet umumnya tidak serius, sangat dangkal. Data yang mudah dicerna. Menurut Russkikh (2015), siswa milenial kurang mampu membaca informasi serius. Itu sangat dipengaruhi sifat industri digital yang menghibur. Bahkan ketika membaca teks ilmiah dari layar ponsel cerdas sekalipun, siswa akan terus-menerus diganggu pesan dan notifikasi yang masuk dari berbagai aplikasi. Beralih dari satu jendela ke jendela lain sudah barang tentu akan sangat memperlambat persepsinya tentang informasi penting yang serius.

Pilihan siswa milenial untuk membaca informasi pendek dengan cepat dikaitkan dengan ukuran kecil layar gawai digital bila dibandingkan dengan bentang buku konvensional. Tersedianya sudut pandang sempit di gawai membuat siapa pun merasa tidak nyaman jika harus membaca/melihat teks/gambar besar. Menurut Kovalenko (2012), sempitnya bidang penglihatan itu menyebabkan siswa kesulitan secara mendalam dan akurat memahami teks. Alasannya karena ketidakmampuan siswa untuk melihat keseluruhan teks pada layar kecil, apakah itu komputer atau smartphone. Tidak seperti yang dapat disajikan buku.

Istilah clip culture yang disebut Toffler (1980) sangat jelas terwakili dalam ungkapan anak-anak muda manakala ada posting-an yang panjang dan mendalam; 'terlalu panjang, malas bacanya'. Ini berarti pengunjung forum tidak akan, tidak dapat, dan tidak ingin memahami sesuatu yang besar dan serius, yang membutuhkan pembacaan dan analisis yang mendalam (Semenovskikh, 2014). Keluhan banyak pendidik senior, anak-anak sekarang telah kehilangan kemampuan reflektif. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam membaca teks serius secara mendalam. Akibatnya, pemaknaan teks menjadi sangat dangkal dan terkesan ala kadarnya.

 

Strategi pembelajaran

Setelah memperhatikan kecenderungan siswa milenial dengan tradisi clip thinking, ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat diusulkan. Misalnya project work. Gunakan konten internet dan ketersediaan akses ke berbagai bidang informasi sebagai sumber belajar. Hampir setiap siswa dan sebagian besar guru memiliki akun di jejaring sosial dan itu dapat digunakan sebagai ruang informasi untuk berkomunikasi langsung dan mempresentasikan hasil pekerjaan proyek.

Dorong siswa untuk aktif berkreasi, berkolaborasi, dan menemukan makna baru dari tugas yang dilakukan. Keterlibatan aktif siswa dalam produksi konten memiliki efek yang berbeda dengan persepsi pasifnya. Dalam hal ini, siswa dapat dan harus mengusulkan tugas yang relevan dengan tuntutan pekerjaan pada profesi masa depan, dengan analisis yang terperinci dan kemudian mendiskusikan bersama hasilnya.

Ajak siswa untuk tidak begitu saja percaya dengan pemikiran sendiri. Pengembangan nalar kritis mengharuskan kita meninggalkan pendapat dan bias sendiri di pintu dan merangkul informasi lainnya. Hanya karena kita selalu melakukan sesuatu dengan cara tertentu, bukan berarti itu cara yang benar. Tanyakan asumsi dan keyakinan sendiri, mengapa demikian? Terbuka untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan validitas argumen lain merupakan bekal utama untuk belajar sesuatu yang baru.

Tanyakan klaim yang dibuat guru di kelas. Jangan takut bertanya. Mengajukan pertanyaan ialah cara yang baik untuk memperdalam makna suatu topik, belajar cara berpikir baru tentang berbagai hal. Pertanyaan dapat menjadi katalis untuk diskusi cerdas dengan guru dan teman sekelas. Dengan bertukar ide, siswa dapat belajar lebih dari apa yang disajikan dalam teks.

Baca Juga

MI/Seno

Belajar dari Kasus Gagal Ginjal Akut

👤Mahdi Jufri Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia 🕔Selasa 29 November 2022, 05:10 WIB
HINGGA awal November 2022 angka kematian akibat kasus gagal ginjal akut pada anak-anak yang dilaporkan di berbagai rumah sakit (RS) di...
Dok. Pribadi

Perdana Menteri Anwar Ibrahim

👤Sudarnoto Abdul Hakim Pengamat politik Malaysia 🕔Selasa 29 November 2022, 05:05 WIB
PEMILU Malaysia pada Sabtu, 19 November 2022 merupakan pemilu pascapandemi yang tidak berhasil menyusun...
MI/Seno

Bahaya Regimentasi Paham Keagamaan

👤Ma’mun Murod Al-Barbasy Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta 🕔Selasa 29 November 2022, 05:00 WIB
MUKTAMAR Muhammadiyah Ke-48 pada 18-20 November 2022 yang berlangsung di Surakarta telah usai. Terdapat beragam agenda...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya