Senin 08 Agustus 2022, 05:05 WIB

Misi Menyiapkan Agen Perdamaian

Hijriati Meutia Dahlan Konselor Sekolah Sukma Bangsa | Opini
Misi Menyiapkan Agen Perdamaian

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

KEPEDULIAN dan partisipasi kita dalam menjamin pemenuhan hak anak atas hak hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, perlu ditingkatkan. Hal ini juga serupa dengan misi utama dari pendidikan perdamaian, yakni menjadikan anak lebih bertanggung jawab secara personal dan sosial; pendidikan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan perkembangan intelektual mereka, tapi juga komitmen untuk membentuk mereka memiliki integritas, standar etis, dan menjadi pemimpin untuk komunitasnya (Polonko, 2009).

Namun sayang, amanat dan harapan mulia ini belum sepenuhnya terlaksana. Hingga hari ini kita masih bisa menemukan anak-anak Indonesia yang hidupnya jauh dari kata layak. Kasus-kasus seperti putus sekolah, eksploitasi anak, gizi buruk, hingga kekerasan terhadap anak masih kerap kita jumpai, bahkan di sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak.

 

Sekolah damai

Penelitian yang dilakukan UNICEF Indonesia di Aceh, Papua, dan Jawa Timur tentang partisipasi anak dan remaja serta keterlibatan di masyarakat Indonesia, menunjukkan hanya 13% anak yang berpartisipasi dalam wadah partisipasi anak yang telah disediakan pemerintah. Ada dua alasan utama anak tidak berpartisipasi, yaitu karena tidak tahu bagaimana caranya berpartisipasi dan tidak pernah diundang (UNICEF, 2022).

Kurikulum nasional telah mengatur dengan baik setiap proses pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang harus diterima siswa di sekolah. Pengaturan tersebut dibuat guna menjamin tumbuh kembang siswa secara kognitif, psikomotorik, afektif, serta membentuk karakter baik yang cinta perdamaian.

Pada kegiatan intrakurikuler, misalnya, selain mengatur pelajaran dan kegiatan yang harus dilakukan siswa secara reguler di kelas, kompetensi, indikator capaian, sampai proses yang harus guru lakukan di kelas pun telah diatur dengan lengkap. Dengan demikian, yang harus guru lakukan hanya mengikuti dan melakukannya dengan penuh makna di kelas. Pun sama halnya dengan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan penunjang kepribadian, kemandirian, dan kolaborasi siswa seperti Pramuka, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR), dan klub-klub minat-bakat siswa juga telah diatur untuk menunjang pembentukan karakter yang bermuara pada terlaksananya pendidikan perdamaian di sekolah.

Walupun demikian, pertanyaan pentingnya ialah apakah semua kegiatan ini telah benar-benar berkontribusi positif pada pembentukan siswa sebagai agen perdamaian? Jawabannya sangat bergantung pada sedalam apa program-program tersebut dikaitkan dengan nilai-nilai perdamaian.

 

Penyemaian pendidikan damai

Menyediakan lingkungan belajar yang positif serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terampil, kritis, dan berakhlak mulia merupakan visi Sekolah Sukma Bangsa (SSB). Tak hanya itu, pendidikan perdamaian yang diyakini bisa menjadikan siswa-siswa menjadi generasi penerus bangsa yang lebih peduli, adil, jujur, bertanggung jawab, dan partisipatif juga terus digaungkan melalui budaya sekolah, pembelajaran di kelas, maupun program-program ekstrakurikuler. Contoh program yang diinisiasi untuk mempromosikan pendidikan perdamaian di SSB Bireuen ialah Hari Perdamaian (Peaceful Day), Layanan Masyarakat (Community Service), dan OSIS.

Hari Perdamaian merupakan salah satu program pendidikan perdamaian untuk siswa sekolah dasar (SD) di SSB Bireuen. Salah satu tema kegiatan yang pernah diambil ialah Damai di Dalam, Berbakat di Luar (Peace Inside, Talented Outside). Pada kegiatan ini siswa bersama wali kelas menyiapkan sebuah tampilan kelompok.

Tim kelas 1 SD menampilkan sebuah drama yang melibatkan seluruh siswa sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Tampilan drama tersebut adalah hasil kesepakatan para siswa. Wali kelas hanya mengamati dengan memberikan kepercayaan penuh kepada mereka untuk memilih tampilan, tata busana, termasuk dialog. Wali kelas hanya membimbing jika diminta oleh siswa.

Kepercayaan yang diberikan oleh wali kelas kepada siswa-siswanya, walaupun mereka masih duduk di kelas 1 SD, menghasilkan penampilan yang sukses. Keberhasilan tersebut membuat para guru menyadari pentingnya memiliki kepekaan untuk melihat kelebihan dalam diri siswa dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.

Kegiatan lain yang dilakukan SSB Bireuen demi mempromosikan pendidikan damai ialah Layanan Masyarakat. Dalam program ini, siswa melakukan bakti sosial di luar sekolah. Siswa diberi kebebasan untuk merancang kegiatan, dari menyusun aktivitas hingga mengelola dana yang diberikan oleh sekolah. Sekolah hanya memfasilitasi dan mendampingi siswa.

Di akhir kegiatan, siswa diajak untuk melakukan refleksi tentang kesan dan pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan tersebut. Refleksi menjadi satu rangkaian kegiatan yang penting dalam sebuah kegiatan. Refleksi bukan sekadar mengevaluasi kegiatan, melainkan lebih pada pengalaman apa yang didapat siswa dalam kegiatan tersebut. Keterampilan refleksi, yang merupakan salah satu keterampilan perdamaian, mampu melatih siswa untuk lebih peka dalam memaknai pengalaman mereka.

Pendidikan perdamaian juga digaungkan melalui kegiatan-kegiatan OSIS. Fungsi OSIS dioptimalkan sebagai agen perdamaian dengan memberikan sesi pendidikan perdamaian pada Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk pengurus OSIS. Pada sesi ini siswa diajak untuk berdiskusi dan berefleksi tentang bagaimana masalah yang terkait perdamaian di SSB Bireuen, serta peran yang bisa mereka ambil untuk berkontribusi mewujudkan dan menjaga perdamaian.

Selanjutnya siswa mendapatkan otonomi untuk menginisiasi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan terkait perdamaian di sekolah, seperti perlombaan antarkelas. Pengurus OSIS memiliki inisiatif yang membuat perlombaan antarkelas benar-benar menjadi milik siswa. Mereka berlatih menerapkan keterampilan perdamaian, seperti berinisiatif, kerja kolaboratif, dan bertanggung jawab terhadap dinamika apa pun yang mereka alami dalam kegiatan tersebut.

Program di atas adalah tiga di antara program-program penyemaian pendidikan perdamaian untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai perdamaian yang nantinya bisa digunakan untuk merespons masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Lebih lanjut, misi penyiapan agen perdamaian membutuhkan pelibatan semua pihak dan harus diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan yang dilakukan siswa.

Sekolah memegang peranan penting untuk keberhasilan pendidikan perdamaian tersebut. Pendidikan perdamaian bukanlah hal instan yang bisa diwujudkan dengan menginisiasi satu atau dua kegiatan. Namun, hal itu perlu dilakukan terus-menerus agar para siswa menjadi anak yang mencintai kebaikan, perdamaian, dan tidak memilih kekerasan serta berbagai tindakan buruk yang merugikan dirinya maupun orang lain.

 

Baca Juga

Ilustrasi

Kesetaraan Perempuan dan Peluang Transformasi Digital

👤Dandy Rafi trandi Peneliti Departemen Ekonomi CSIS 🕔Jumat 30 September 2022, 05:10 WIB
BEBERAPA waktu yang lalu, saya berkesempatan mewawancarai salah satu responden ibu rumah...
MI/Seno

Wacana Kesehatan Menjelang Tahun Politik

👤Zaenal Abidin Ketua Umum PB IDI periode 2012-2015 🕔Jumat 30 September 2022, 05:00 WIB
DR Aminuddin Syam, SKM, M Kes, M Med Ed, menyatakan perlu ada politik kesehatan sebab kesehatan ialah...
MI/Duta

4 Skenario Ibu Kota Negara

👤Sulfikar Amir Visiting Senior Fellow di Saw Swee Hock Southeast Asia Centre, London School of Economics and Political Science (LSE) 🕔Kamis 29 September 2022, 05:05 WIB
PEMBANGUNAN Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ialah suatu super megaproyek yang memiliki tingkat kompleksitas...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya