Kamis 28 April 2022, 09:13 WIB

Jokowi 'Mesra' dengan Anies, Follower kok Baperan

Eko Suprihatno, Editor Media Indonesia | Opini
Jokowi

MI/Vicky G
Editor Media Indonesia Eko Suprihatno

 

Ramadan bulan penuh rahmat. Bulan yang memang diturunkan Allah untuk memberikan kedamaian bagi kaum muslim dan juga umat manusia pada umumnya. Barangkali itulah yang ingin diperlihatkan dua tokoh nasional, Presiden Joko Widodo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat keduanya meninjau langsung Sirkuit Formula E di kawasan Ancol, Jakarta Utara, pada Senin 25 April 2022 petang.

Anies tak menutupi kegembiraan ketika Presiden Jokowi berkenan meninjau sirkuit yang bakal digunakan untuk balapan mobil listrik pada juni 2022. Anies mengungkapkan apresiasi atas atensi Presiden dan optimistis gelaran Jakarta E-Prix sesuai jadwal.

Sedangkan Presiden mengapresiasi progres yang ada. Presiden berharap setelah lebaran, sirkuit sudah bisa dirampungkan. Bahkan Juni mendatang balapan sudah bisa terlaksana dengan baik.

Baca juga: Jokowi Tinjau Sirkuit Formula-e, Anies: Terima Kasih Presiden

Ada yang menilai pertemuan itu seperti bentuk rekonsiliasi masa lalu yang sejatinya cuma adem di permukaan. Publik pasti belum lupa bagaimana polarisasi begitu kental ketika Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 yang akhirnya merambah hingga tingkat nasional. Tapi sudahlah, tak perlu kita membuka luka yang sempat membelah bangsa ini hampir ke titik nadir.

Bisa jadi, Jokowi melihat bibit perpecahan sudah mulai muncul terkait dengan akan berakhirnya kekuasaan Anies Baswedan pada 2022. Itu sebabnya sebagai tokoh bangsa, Jokowi jelas tak ingin meninggalkan warisan berupa perpecahan di antara anak-anak bangsa. Ia pun seperti mengajari Anies untuk bersikap sebagai seorang negarawan kalau berminat menjadi suksesor 2024.

Hal itu ditunjukkan Jokowi dengan mengunggah foto kebersamaan mereka ke akun media sosialnya. Jokowi memang tak punya beban, karena ia sudah menegaskan tak mengikuti arus yang ingin memperpanjang masa jabatan Presiden. Kengawuran itu tak ingin diteruskan dan akhirnya Pemilu 2024 pun sudah ditetapkan waktunya.

Tidak kurang dari kalangan oposisi di DKI seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengapresiasi kedatangan Presiden ke sirkuit Formula E di Ancol. PSI DKI menilai kedatangan Jokowi merupakan bukti perhatian pusat terhadap ajang balap mobil listrik tersebut. Mereka pun sudah mengakui Sirkuit Formula E sebagai lokasi untuk sebuah hajatan internasional. Meskipun, PSI DKI mengklaim bakal tetap mengawasi segala kebijakan program Anies termasuk balapan Formula E.

Padahal, Ketua Umum PSI Giring Ganesha pada awal Januari sempat mengunggah konten di akun media sosialnya dari lokasi sirkuit. Dalam konten itu, kaki Giring sempat terperosok kedalam lumpur. Giring mengatakan, proyek balap mobil Formula E merupakan proyek ambisius Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menelan anggaran ratusan miliar rupiah sebagai proyek ambisius dalam rangka pencapresan.

Di sisi lain, apresiasi juga dilontarkan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 Fahri Hamzah. Dia mengingatkan kedua pejabat tersebut memang harus bersatu karena merupakan representasi negara. Tidak perlu menanggapi buzzer yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Dia juga mengusulkan agar Presiden Jokowi diberi gelar Bapak Rekonsiliasi.

Kalau Presiden dan Gubernur meninjau suatu proyek, itu sebenarnya biasa saja karena mereka merupakan pengguna anggaran Negara dan justru harus bersatu. Begitu kata Fahri yang kini menjabat Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Saya sepakat dengan Bung Fahri Hamzah. Enggak perlu juga ditajamkan perbedaan pendapat yang ada.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai peninjauan itu bukan sekadar pertemuan biasa. Bukan cuma acara melongok kesiapan sirkuit atau sekadar momen pertemuan kepala negara dengan kepala daerah. Terlebih Anies kan memang menjadi nama yang digadang-gadang menjadi kandidat penganti Jokowi.

Ini menjadi momen terindah hubungan Jokowi dan Anies yang selama ini dikesankan selalu head to head. Apalagi, sebelumnya Jokowi begitu gencar dengan Moto GP Mandalika. Sehingga, kehadiran Presiden di Sirkuit Ancol membuktikan kalau Kepala Negara hadir dan tidak melupakan hajat internasional lain yang bakal digelar di Jakarta bernama Formula E. Atau bisa juga dilihat dengan sudut pandang lain, Jokowi tidak ingin ada kesan Formula E ini merupakan hasil garapan Anies semata, karena bisa menjadi bahan kampanye untuk 2024 bahwa DKI sukses menggelar balapan internasional tanpa campur tangan pemerintah pusat.

Anies pun tak bisa mengklaim Formula 3 merupakan kerja keras Jakarta saja. Dengan kedatangan Jokowi, bisa diartikan gelaran Formula E merupakan hajat bangsa. Dari sini Jokowi sudah mengunci Anies untuk tidak asal klaim.

Apapun kedatangan Presiden Jokowi ke sirkuit Formula E memang bisa ditafsirkan macam-macam, terserah kita mau melihat dari sudut pandang yang disukai dan tidak disukai. Tapi Jokowi sudah menunjukkan kalau ia tak cuma merangkul Anies saja, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang bisa menjadi rival berat Anies pun disambangi.

RK, sapaan untuk Gubernur Jabar, mendampingi Presiden saat kunjungan kerja ke Bandung-Purwakarta pada Senin 17 Januari 2022. Sebelumnya ketika kunjungan kerja ke Jawa Tengah, Presiden didampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi empat daerah, yaitu Sragen, Blora, Grobogan, dan Kota Semarang.

Barangkali Ganjar memang mendapat keistimewaan karena satu partai dengan Presiden. Setidaknya hal itu diperlihatkan ketika Jokowi kembali berkunjung ke Brebes pada Rabu 13 April 2022, keduanya berada dalam satu mobil. Kalau dalam bahasa Ganjar, Presiden sangat serius memastikan stok bahan kebutuhan pokok di lapangan, terutama minyak goreng.

Terlepas dari semua itu, Presiden Jokowi memang ingin memberikan pesan bahwa siapapun boleh menjadi suksesor asalkan dilakukan dengan cara elegan. Kalau akhirnya pada Ramadan kali ini justru singgah di sirkuit Formula E, seakan menjadi pesan bahwa jangan menjadikan agama sebagai jualan untuk berlaga, karena potensinya sangat besar untuk merusak persatuan bangsa. Presiden dan para pemimpin lain telah menunjukkan perbedaan adalah suatu keniscayaan. Sehingga, jangan sampai merusak persatuan. Sehingga, tidak masuk akal bila para follower malah baperan.

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

Dok pribadi

Wacana Normalisasi Kebangsaan

👤Wahyu Harjanto, Peneliti di Mindset Institute, Yogyakarta 🕔Senin 23 Mei 2022, 14:35 WIB
sikap para pengguna pesawat di YIA (Yogya International Airport) yang tidak responsif saat lagu kebangsaan Indonesia Raya...
Dok. Pribadi

Internalisasi Nilai Damai

👤Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma 🕔Senin 23 Mei 2022, 05:10 WIB
If we are to educate for peace, both teachers and students need to have some notion of the transformed world we are educating for. (Betty...
MI/Duta

Fisika dan Pendidikan Perdamaian

👤Riyan Setiawan Uki Guru Fisika Sekolah Sukma Bangsa Sigi 🕔Senin 23 Mei 2022, 05:05 WIB
Dalam pendidikan perdamaian diajarkan pengetahuan, seperti konsep perdamaian yang menyeluruh, penyebab konflik dan kekerasan, dan filsafat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya