Senin 03 Januari 2022, 23:15 WIB

Urgensi Penggunaan Teknologi Informasi Pada Kenormalan Baru

Nurkolis, Koordinator Tanoto Foundation Provinsi Jawa Tengah | Opini
 Urgensi Penggunaan Teknologi Informasi Pada Kenormalan Baru

Dok pribadi
Nurkolis

 

PEMERINTAH mengeluarkan penyesuaian surat keputusan bersama (SKB) empat menteri (Mendikbudristek, Menag, Menkes, dan Mendagri) tentang Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 per 21 Desember 2021. Penyesuaian ini karena membaiknya kondisi kesehatan masyarakat atas paparan covid-19. Perubahan paling mencolok adalah pembelajaran tatap muka (PTM) yaitu diperbolehkan 100% jika memenuhi persyaratan pembelajaran awal semester 2 yang dimulai 3 Januari 2022. 

Menghadapi kebijakan baru tersebut, proses pembelajaran tidak lagi bisa dilakukan dengan kebiasaan lama, namun harus mengikuti kenormalan baru. Kenormalan baru dalam kegiatan belajar mengajar adalah tata cara dan kebiasaan baru yang berbeda dengan tata cara lama. Kebiasaan lama dalam proses broses pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka, dengan materi yang banyak, dan membutuhkan waktu lama. 

Sementara itu kebiasaan baru adalah penggunaan teknologi informasi, materi dipilih yang esensial, dan waktu yang disediakan tidak banyak karena masih ada ancaman kesehatan yaitu covid-19. Menurut Mcnamee dan Diamond (2004), pada kenormalan baru seseorang diharapkan mampu menghadapi tantangan sekaligus menciptakan peluang baru. 

Tanoto Foundation melakukan survei deskriptif kuantitatif di lima provinsi di semester kedua 2021 dengan responden sebanyak 1.389 orang guru SMP-MTs yaitu dari Sumatera Utara (211 guru), Jambi (349), Riau (299), Jawa Tengah (295), dan Kalimantan Timur (235 guru) di 23 kabupaten/kota mitra Program PINTAR (Inovasi Peningkatan Kualitas Pembelajaran). Tanoto Foundation adalah filantropi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan bekerja sama dengan pemerintah dan pemerintah daerah.
 
Penggunaan teknologi informasi 

Pemanfaatan teknologi informasi yang dimaksud dalam artikel ini adalah penggunaan media sinkronus dan asinkronus. Media sinkronus yang paling banyak digunakan guru pada masa akhir tahun pertama pandemi adalah video call melalui whatsapp (33%), zoom meet (13%), dan google meet (12%). Guru menggunakan perpaduan 2 media sinkronus (10%), tiga media sinkronus (6%), dan yang tidak menggunakan media pembelajaran sinkronus (23%).

Dalam menggunakan media pembelajaran asinkronus ternyata hanya 1% guru tidak menggunakan media asinkronus. Media asinkronus terbanyak digunakan guru adalah grup whatsapp yang berbasis teks sebanyak 46%. Diikuti 26% guru yang menggunakan perpaduan 2 aplikasi yaitu google classroom, youtube, atau whatsapp. Ada 17% guru yang mengunakan perpaduan 3 aplikasi yaitu campuran whatapp/Kahoot, youtube, dan google classroom. Ada 7% guru yang menggunakan google classroom dan ada 1% guru yang menggunakan perpaduan 4 aplikasi asinkronus.

Dari data tersebut disimpulkan bahwa 80% guru sudah memanfaatkan media sinkronus dan 98% guru telah memanfaatkan media asinkronus dalam proses pembelajaran. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Agama, juga mendorong dan menyediakan berbagai media pembelajaran yang bisa digunakan guru untuk membantu proses pembelajaran daring dan campuran. 

Hal ini sangat berbeda dengan temuan saat awal pandemi yaitu 95% guru menggunakan whatsapp dalam bentuk teks (Nurkolis dan Muhdi, 2020) atau hasil survei KPAI dan FSGI bahwa 83,4% guru menggunakan media sosial untuk mengajar (KPAI, 2020). Pada masa awal covid-19 pembelajaran daring (dalam jaringan/online) kurang efektif karena kurangnya sarana prasarana terutama terkait teknologi pembelajaran (Dwi C; Ameli; Hasanah; Dan Rahman et al., 2020). Pembelajaran daring banyak menggunakan whatsapp dan hasilnya tidak efektif (Daheri; Juliana; Deriwanto; dan Amda, 2020). Pembelajaran daring dirasakan tidak efektif bahkan 80% merasa tidak puas (Fauzi dan Khusuma, 2020).

Di negara-negara maju penggunaan media sinkronus dan asinkronus sebelum masa pandemi sudah terbiasa digunakan dan semakin meningkat pada masa pandemi. Misalnya di Amerika Serikat dan Inggris sebanyak 86% guru telah menggunakan email, 58% guru menggunakan menggunakan live video, dan 46% menggunakan video rekaman 46%. Demikian pula di Inggris 64% guru menggunakan rekaman video dan 24% menggunakan video live (Greenhow; Lewin; dan Willet, 2021).

Peluang pembelajaran 

Peluang guru pada masa kenormalan baru pendidikan dapat dilihat dari berbagai kendala selama melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT), dan harapan-harapan guru untuk mengembangkankan keprofesian mereka secara berkelanjutan. Survei menunjukkan, salah satu kendala implementasi PTMT di masa covid-19 ini adalah kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran daring (13%). Penyebabnya karena banyak sekolah mengalami masalah infrastruktur pembelajaran daring, banyak sekolah dan siswa yang tidak memiliki gadget untuk mendukung pembelajaran daring atau campuran daring dan luring (luar jaringan/offline).
 
Berbagai kendala yang dihadapi guru dan sekolah tersebut sekaligus menjadi peluang guru untuk mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan. Survei juga menunjukkan bahwa 99% guru merasa perlu untuk melakukan pengembangan diri. Topik apa saja yang diharapkan guru untuk mengembangkan dirinya? Yang paling banyak dibutuhkan guru adalah pelatihan pembelajaran campuran (blended learning). Analisis word frequency query berdasarkan kata kunci diperolah yang paling banyak untuk pengembangan kompetensi guru adalah pelatihan pembelajaran campuran (4.944 kali), pelatihan strategi pembelajaran (2.472 kali), dan pelatihan metode pembelajaran (1.680 kali).

Disimpulkan bahwa penggunakan teknologi informasi dalam pembelajaran adalah sebuah keniscayaan. Namun ketersediaan teknologi informasi di sekolah masih menjadi kendala baik dari sisi infrastruktur internet, kepemilikan gawai oleh guru, dan siswa/orangtua siswa. Kendala yang merupakan tantangan tersebut sekaligus menjadi peluang bagi guru untuk mendapatkan pelatihan terkait pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran. 

Pemerintah/pemerintah daerah disarankan menyediakan infrastruktur internet di lingkungan sekolah. Dinas Pendidikan & Kebudayaan dan Kantor Kementerian Agama juga disarankan untuk menyediakan anggaran pelatihan guru untuk memanfaatkan teknologi infomasi dalam pembelajaran.

 

Nurkolis, Peserta Workshop Public Speaking & Content Writing Tanoto Foundation-Media Indonesia

Baca Juga

MI/Ebet

Memandang Bencana

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 29 Mei 2022, 05:00 WIB
PERISTIWA banjir rob di kawasan pelabuhan atau wilayah dekat laut (pesisir) merupakan fenomena alam yang kerap terjadi saat...
MI/RM Zen

Menanti Langkah Lanjutan Luhut Pandjaitan Bereskan Sengkarut Minyak Goreng

👤Soelistijono, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 16:37 WIB
Ayo wani ngalah, luhur wekasane.  Kita berani mengalah demi kepentingan bersama adalah sikap yang luhur....
MI/SUMARYANTO BRONTO

Cinta Buya Syafii kepada Bangsa

👤Hajriyanto Y Thohari Ketua PP Muhammadiyah 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:10 WIB
BUYA Syafii, panggilan akrab Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif, adalah pengagum berat Mohammad Hatta, wakil presiden pertama kita. Keduanya...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya