Sabtu 25 September 2021, 05:05 WIB

Hari Paru Sedunia

Tjandra Yoga Aditama M ajelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Ketua Umum PDPI 1999-2002 d uta | Opini
Hari Paru Sedunia

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

DUNIA masih terus bergulat dengan pandemi covid-19, suatu penyakit paru yang menghantam kehidupan umat manusia. Penyakit paru memang dapat dikelompokkan menjadi penyakit infeksi yang menular dan penyakit paru yang tidak menular. Covid-19 ialah penyakit infeksi paru, menular dari orang satu ke orang lainnya. Contoh lainnya ialah tuberkulosis dengan posisi Indonesia sebagai penyumbang kasus terbesar kedua di dunia dan pneumonia. Penyakit paru yang tidak menular, contohnya, ialah kanker paru, asma bronkial, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Penyakit paru ialah masalah kesehatan penting. World Healths Statistic 2021 yang dikeluarkan WHO menunjukkan tiga penyakit paru merupakan bagian dari 10 penyebab kematian utama dunia 2019, yaitu PPOK di rangking 3 dengan 3.220.000 kematian, infeksi paru di tempat ke-4 dengan 2.590.000 orang yang meninggal karenanya, dan kanker paru merupakan penyebab kematian ke-7 di dunia dengan 1.760.000 orang yang meninggal setahunnya.

World Healths Statistic 2021 ini juga menunjukkan pada 2020, covid-19 'menyodok' masuk menjadi penyebab kematian ke-6 di dunia, dengan 1.800.000 kematian ketika data itu dilaporkan. Jadi, 4 dari 10 penyebab kematian di dunia 2020 ialah penyakit paru. Negara kita situasinya juga tidak jauh berbeda, 4 dari 10 penyebab kematian bangsa kita juga ialah penyakit paru, yaitu tuberkulosis, PPOK, infeksi paru, dan kanker paru. Sementara itu, kita tahu bahwa covid-19 masih merupakan masalah besar kita semua.

Karena peran sentral penyakit paru, pada setiap 25 September dunia memperingati World Lung Day (Hari Paru Sedunia). Tahun ini temanya Care for your lungs, di Indonesia kita sebutkan sebagai Peduli kesehatan paru kita. Ada empat subtema yang dipilih, yaitu jangan merokok, lindungi paru dengan vaksinasi, marilah menghirup udara bersih, dan lakukan aktivitas fisik dengan teratur.

Tentang subtema pertama, yaitu kebiasaan merokok, World Healths Statistic 2021 menunjukkan 37,9% rakyat kita di atas umur 15 tahun ialah perokok. Secara umum sekitar 60% pria kita ialah perokok dan sekitar 5% wanita Indonesia punya kebiasaan merokok. Yang lebih menyedihkan, data dari Global Youth Tobacco Survey 2019 menunjukkan pada anak usia 13-15 tahun 35,6% anak laki-laki kita dan 3,5% anak perempuan sudah merokok atau mengonsumsi produk tembakau lain. Kebiasaan merokok berhubungan dengan setidaknya 8 juta kematian di dunia setiap tahunnya. Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia yang merugikan kesehatan dan berhubungan dengan penyakit seperti kanker paru dan PPOK.

 

 

Setop merokok

Dalam hubungannya dengan covid-19, informasi WHO pada 3 September 2021 menyatakan bukti ilmiah jelas menunjukkan kebiasaan merokok membuat pasien covid-19 sampai 50% lebih sering penyakitnya menjadi lebih berat. Anjurannya tegas, berhenti merokok ialah cara terbaik untuk kesehatan paru kita dan bahkan kesehatan secara umum. Dalam hal ini juga dianjurkan agar tidak menggunakan rokok elektronik.

Subtema kedua ialah vaksinasi. Kita tentu sudah mengenal luas vaksin covid-19, yang harus terus ditingkatkan karena masih lebih dari 75% penduduk Indonesia belum mendapat vaksinasi lengkap sehingga belum terlindung secara memadai terhadap covid-19. Selain itu, untuk penyakit paru, ada vaksinasi untuk pneumonia, vaksinasi influenza, dan vaksinasi tuberkulosis.

Tentang subtema ketiga, yaitu menghirup udara bersih sehat, kembali World Healths Statistic 2021 menyampaikan dua data penting negeri kita; pertama, angka kematian terstandar kita akibat polusi udara di luar dan di dalam rumah ialah 112,4/100.000 penduduk. Sementara itu, di Malaysia angkanya hanya 47,4 dan di Thailand 61,5 yang menunjukkan dua negara jiran itu jauh lebih rendah daripada kita. Yang lebih tinggi angka kematian akibat polusi udaranya ialah India, mencapai 184,3/100.000 penduduk.

Kedua, konsentrasi kadar rata-rata polusi udara dalam bentuk particulate matter yang berukuran 2,5 mikron (PM 2,5) di daerah perkotaan kita ialah 16,4 µg/m3. Angka itu di Jepang ialah 11,8 µg/m3, Singapura 18,3 µg/m3, dan di India jauh lebih tinggi lagi, yaitu 68,0 µg/m3. Ada sekitar 7 juta orang meninggal setahunnya di dunia akibat polusi udara. Data WHO bahkan menyebutkan sampai 9 dari 10 orang di dunia terpaksa menghirup udara yang tidak bersih. Pada 2019 WHO sudah menyatakan polusi udara ialah salah satu dampak lingkungan terburuk bagi kesehatan manusia, bersamaan juga dengan perubahan iklim yang kini dibicarakan dalam Sidang Umum PBB sekarang ini.

Subtema keempat Hari Paru Sedunia 2021 ialah pentingnya aktivitas fisik secara teratur. Dengan melakukan aktivitas fisik, paru dan jantung kita bekerja aktif. Aktivitas fisik teratur akan mengakibatkan asupan oksigen yang memadai untuk kebutuhan kita dengan menarik napas ke paru dan akan mengeluarkan karbon dioksida waktu mengembuskan napas keluar dari paru. Proses pertukaran dalam bentuk pernapasan di paru ini, yang terjadi setiap waktu, merupakan hal yang amat perlu kita semua syukuri.

Kita lihat bagaimana pasien terinfeksi parunya oleh virus covid-19 lalu merasa sesak napas hebat dan mencari-cari bantuan oksigen yang beberapa waktu yang lalu ketersediaan tabung oksigen sempat jadi masalah utama. Paru ialah organ tubuh karunia Tuhan yang amat berguna bagi kehidupan. Syukurilah dan peliharalah kesehatan paru kita demi kualitas hidup yang lebih baik.

Baca Juga

Dok. MI

Konstitusionalitas Kelembagaan Penyelenggara Jaminan Sosial

👤Oce Madril Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 05:00 WIB
PERDEBATAN mengenai desain lembaga penyelenggara jaminan sosial telah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi...
MI/Seno

Sunah Kebangsaan Nabi

👤Hasibullah Satrawi Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam Alumnus Al-Azhar, Kairo, Mesir 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 05:00 WIB
HAKIKAT dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhirnya tak lain adalah mengikuti keteladanan atau sunah beliau sebagai sosok...
MI/Seno

Dua Tahun Kabinet Jokowi, Kita sudah di Mana?

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 05:00 WIB
JIKA Barbara Lewis menjawab pertanyaan Robert Solow sekenanya saja, sepertinya tidak akan ada teori pertumbuhan eksogen yang diganjar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menolakkan Ancaman Kemiskinan Ekstrem

Pemerintah perlu memastikan seluruh program penanggulangan kemiskinan ekstrem diterima rumah tangga miskin ekstrem yang ada di wilayah prioritas.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya