Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH eksperimen medis terbaru mengungkap temuan mengejutkan yang dapat mengubah cara rumah sakit menjadwalkan pengobatan kanker. Riset yang melibatkan pasien kanker paru-paru sel non-kecil (non-small-cell lung cancer) menunjukkan waktu pemberian obat imunoterapi sangat memengaruhi peluang hidup pasien.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, 210 pasien dibagi menjadi dua kelompok. Mereka yang menerima infus imunoterapi sebelum jam 3 sore dan mereka yang menerima setelah jam tersebut. Hasilnya, pasien yang mendapatkan perawatan di pagi hari rata-rata hidup hampir satu tahun lebih lama dibandingkan kelompok sore hari.
Setelah pemantauan selama lebih dari 28 bulan, perbedaan hasil kesehatan antara kedua kelompok terlihat sangat kontras. Pada akhir studi, sekitar 45% pasien dari kelompok pagi hari masih bertahan hidup, sementara di kelompok sore hari angkanya hanya sekitar 15%.
Selain itu, waktu tanpa perkembangan kanker (progression-free survival) pada kelompok pagi hari mencapai rata-rata 11,3 bulan, hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok sore yang hanya 5,7 bulan.
"Sangat dramatis melihat pengaruh yang begitu kuat pada pasien. Saya setuju dengan semua pihak yang mempertanyakan hal ini, bahwa riset ini perlu direplikasi pada kelompok lain di berbagai benua," ujar Dr. Christoph Scheiermann, salah satu penulis riset dari University of Geneva.
Para peneliti mengaitkan fenomena ini dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Sistem kekebalan manusia ternyata sangat sensitif terhadap waktu. Teori utamanya adalah pada pagi hari, sel T secara fisik lebih banyak berada di area tumor.
Obat imunoterapi (penghambat PD-1) bekerja dengan cara "membangunkan" sel T yang sempat dilumpuhkan oleh sel kanker. Jika obat masuk saat jumlah sel T di area tumor sedang mencapai puncaknya (pagi hari), maka serangan terhadap kanker menjadi jauh lebih efektif.
Dr. Zach Buchwald, ahli onkologi dari Emory University yang tidak terlibat dalam riset, menyebut hasil ini "sangat meyakinkan".
"Jika ini adalah obat baru, mereka akan dielu-elukan di mana-mana karena telah menemukan sesuatu yang revolusioner," kata Buchwald.
Meski hasilnya menjanjikan, komunitas medis tetap berhati-hati. Pertanyaan besar yang masih tersisa adalah mengapa waktu pemberian dosis pertama begitu krusial, padahal obat imunoterapi tetap aktif di dalam tubuh selama berminggu-minggu setelah infus.
"Ini kemungkinan adalah temuan paling kontroversial dalam imuno-onkologi. Besaran efeknya sulit dipercaya, meski hasil uji acak terkontrol (RCT) sulit untuk TIDAK dipercayai. Kita butuh upaya terkoordinasi untuk menyelidiki ini," ujar Dr. Paolo Tarantino dari Dana-Farber Cancer Institute melalui platform X.
Saat ini, setidaknya satu studi konfirmasi sedang berlangsung di Amerika Serikat untuk menguji teori waktu ini pada pasien melanoma. Jika terbukti konsisten, penjadwalan pengobatan berdasarkan jam biologis bisa menjadi strategi tanpa biaya tambahan yang menyelamatkan ribuan nyawa. (CNN/Z-2)
Kebiasaan begadang, tidur yang tidak nyenyak, atau pola tidur yang tidak teratur sering membuat tubuh terasa lemas dan kurang bertenaga.
SATU dari 10 penduduk Indonesia mengalami insomnia atau gangguan susah tidur sehingga mereka tidak bisa mengistirahatkan diri dengan baik.
Ilmuwan berhasil memetakan perubahan aktivitas otak selama 24 jam menggunakan teknologi pencitraan canggih, membuka peluang baru untuk memahami dan mengukur kelelahan secara objektif.
Peneliti Washington University menemukan mengubah ritme alami tubuh dapat melindungi otak dari kerusakan akibat Alzheimer.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved