Selasa 01 Juni 2021, 13:00 WIB

Pancasila, Antara Hafalan dan Perbuatan

Ipang Wahid | Pendiri Tebuireng Initiatives | Opini
Pancasila, Antara Hafalan dan Perbuatan

dok.pribadi
Ipang Wahid, Pendiri Tebuireng Initiatives

 

APA perbedaan dan persamaan Pancasila zaman sekarang dan era 80-90 an? Bedanya cukup signifikan. Dulu, hampir tiap hari kita ucapkan. Namun sekarang, sebulan atau setahun sekali saja belum tentu dibacakan. Itulah alasan mengapa banyak sekali milenial yang tidak hafal Pancasila. Mereka jauh lebih hafal idola dan lagu kesayangannya ketimbang dasar negara kita sendiri.

Sementara, persamaannya, dari dulu hingga sekarang, sama-sama masih sebatas ucapan di mulut saja. Belum menjadi budaya, seperti Monozukuri di Jepang. Sebuah konsep yang mendarah daging di tengah masyarakat Jepang. Isinya adalah semangat kreatif dalam menghasilkan produk unggul, serta, kemampuan untuk terus menyempurnakan proses.

Di sisi lain, banyak yang tidak terlalu menyadari bahwa Pancasila adalah ‘highlight terpenting’ dari ayat ayat yang terkandung dalam Qur’an. Lihat saja Sila Pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini jelas sekali mirip dengan QS Al Ikhlas ayat 1: Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ini mirip sekali dengan QS An Nisa ayat 135, yang berbunyi, “Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil”.      

Sementara Sila ketiga Persatuan Indonesia, yang mirip QS Al Hujurat:13 yang berbunyi “Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Begitupun Sila keempat, yang ‘padanannya’ adalah QS Assyuro:38, “Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka”. Terakhir adalah Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang merupakan pengejawantahan dari QS An Nahl: 90. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan”.

Selama ini, Pancasila seringkali hanya menjadi pajangan dinding dan hafalan belaka, yang membuat kita sulit menerjemahkannya ke dalam bentuk amalan, termasuk bagi penulis sendiri. Sepertinya sudah saatnya, untuk dipikirkan lebih konkrit lagi, bagaimana Pancasila bukan hanya di pikiran kita semua, tapi di hati orang Indonesia.

Bisa dibayangkan, bagaimana dampaknya apabila Pancasila sudah menjadi mindset orang Indonesia, kita bisa menjadi bangsa yang maju. Bangsa yang menghargai perbedaan baik antarsuku maupun agama. Mungkin, sudah saatnya ‘doktrin’ seperti Penataran P4 dihidupkan kembali.

Bentuk Penataran yang tentunya harus dengan pendekatan ‘kekinian’, relevan dengan kehidupan, dan shareable agar viral. Dengan begitu, milenial akan lebih mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya hafalan belaka.

Selamat memperingati Hari Kelahiran Pancasila.

Baca Juga

MI/Duta

Nasib Awak Kapal di PP Nomor 22 Tahun 2022

👤Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 05:05 WIB
PEMERINTAH telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2022 tentang Penempatan dan Pelindungan Awak Kapal Niaga Migran dan...
Dok. Pribadi

Proyek Infrastruktur Rumah Sakit dengan Penerapan Prinsip Syariah

👤Anton Abdul Fatah Sekretaris Umum Pengurus Cabang Istimewa NU Belgia, kandidat doktor di University of Leuven dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belgia 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 05:00 WIB
PANDEMI telah berlangsung lebih dari dua tahun dan periode pemulihan saat ini bukanlah waktu yang biasa dan mudah bagi kita...
MI/RM Zen

Adu Kuat Oligarki Versus Suara Rakyat di Parpol

👤Akhmad Mustain, Editor Media Indonesia 🕔Jumat 24 Juni 2022, 22:16 WIB
Dan memang sudah sewajarnya partai politik merekam apa kehendak rakyat, bukan malah mengangkangi aspirasi rakyat dengan bertameng hak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya