Selasa 02 Maret 2021, 12:10 WIB

Jejak Pilu Pembelajaran Daring

Abdullah, Guru MTsN 2 Siak, Riau, Fasilitator Program Pintar Tanoto Foundation | Opini
Jejak Pilu Pembelajaran Daring

Dok pribadi
Abdullah

PANDEMI covid-19 yang tak kunjung usai telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai sendi kehidupan. Imbasnya pun menjalar ke seluruh aspek, termasuk di dunia pendidikan yang merasakan betapa besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh pandemi ini.

Sistem pembelajaran tatap muka yang selama ini dilaksanakan di sekolah telah berganti dengan sistem pembelajaran secara daring. Pembelajaran jarak jauh baik secara daring maupun luring ataupun kombinasi dari kedua sistem tersebut, telah mengukir sejarah baru dan fenomenal bagi dunia pendidikan. Sistem pembelajaran ini begitu populer dan menjadi acuan pembelajaran selama pandemi.

Dengan sistem daring ini membuka mata semua guru untuk terus belajar dan memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Penguasaan teknologi tenaga pendidik semakin meningkat. Pembelajaran secara daring dengan waktu yang fleksibel juga telah memberikan kesempatan besar pelaksanaan merdeka belajar. Siswa diberi kesempatan untuk mengelola waktu belajar sendiri dan bekerja sama dengan orang tua di rumah. 

Namun, tahukah kita bahwa ada kisah pilu yang muncul dari sistem pembelajaran daring ini? Banyak cerita suka maupun duka dari berbagai pengalaman siswa, guru, bahkan orang tua selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Berbagai kendala kerap ditemui dan menjadi jejak pilu pembelajaran daring. 

Kendala 

Ternyata pembelajaran daring menyisakan kisah-kisah sedih tentang perjuangan guru, siswa dan orang tua dalam memberikan dan mendapatkan hak belajar. Hal yang sama juga terjadi di tempat saya mengajar yaitu di MTsN 2 Siak Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Sejumlah kendala yang muncul antara lain; 1. Tidak memiliki telepon seluler. Ketika tiba-tiba pandemi menghantam negeri ini dan sistem pembelajaran cepat berubah, tak semua siswa mampu beradaptasi dengan baik. Mereka bahkan cenderung hilang harapan ketika merasa gagal melawan perubahan tersebut.

“Saya ingin belajar tetapi tidak memiliki handphone, pak," kata Aidil, siswa kelas VIIIC yang terus menangis sambil mengoyak-ngoyak buku latihan bahasa Inggris yang dipegangnya. “Saya ingin ke sekolah, tetapi saya takut karena tertinggal banyak materi."

Bukan hanya Aidil, beberapa siswa juga memiliki masalah sama. Mungkin hal serupa juga terjadi di banyak tempat. Hal yang bisa dilakukan sekolah adalah memberikan pembelajaran secara luring dengan skema waktu dan jadwal pengambilan dan pengumpulan materi yang ditentukan sekolah.

2. Tidak memiliki paket dan kuota internet
Paket dan kuota internet merupakan hal yang sangat penting ketika pembelajaran daring. Tiga minggu pertama pembelajaran daring di sekolah berjalan dengan lancar. Sayangnya, memasuki minggu keempat dan seterusnya siswa mulai jarang ada di WA grup karena kuota internetnya habis.

3. Membantu orang tua
Sistem pembelajaran daring merubah pola fikir sebagian kecil orang tua. Mereka menganggap siswa bisa mengerjakan berbagai tugas kapan pun, sehingga anak-anak diajak bekerja di persawahan, perkebunan sawit, berjualan di pasar, bahkan menjadi buruh. 

4. Siswa rebahan
Pembelajaran daring menyebabkan siswa tidak terlepas dari gawai, telepon seluler dan sejenisnya. Siswa bisa belajar sambil berbaring di tempat tidur. Bahkan saat pembelajaran berlangsung beberapa siswa tertidur pulas dengan tumpukan buku di samping mereka. Tidak adanya aktivitas fisik menyebabkan siswa benar-benar menjadi siswa rebahan. Mereka tidak lagi fokus belajar bahkan cenderung mengabaikan materi ajar.

5. Merasa tertekan
Pembelajaran daring menyebabkan siswa merasa tertekan dengan berbagai tugas dari guru, tidak bisa bersosialisasi langsung dengan guru dan teman-teman. Siswa merasa bosan dan kehilangan gairah untuk belajar.

Apa yang disampaikan oleh sejumlah siswa merupakan sebagian kecil permasalahan yang timbul dari pembelajaran daring. Hal yang paling menyedihkan ada empat siswa harus putus sekolah karena tidak sanggup mengikuti pembelajaran daring seperti ini.

Dalam kondisi seperti, guru bukan lagi sekadar mengajar materi-materi sesuai kurikulum. Lebih dari itu bisa berfungsi sebagai rekan curhat. Selama pembelajaran daring guru tidak hanya berfungsi sebagai pendidik dan motivator, dia harus siap dan setia mendengarkan berbagai keluh kesah para siswa. Berbagai permasalahan yang mereka hadapi harus dijadikan bahan evaluasi untuk menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

Raihlah hati siswa kita. Ketika hati mereka bisa kita rebut, berbagai kendala dalam pembelajaran daring sedikit demi sedikit akan bisa diatasi. Menjadi the best motivator bagi siswa kita adalah sebuah keniscayaan.

Abdullah, Peserta Peningkatan Skill Menulis bagi Tenaga Pengajar Se-Indonesia

Baca Juga

Dok. Pribadi

Menjemput Berkah Ramadan

👤Mohammad Farid Fad Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Kendal 🕔Kamis 15 April 2021, 05:05 WIB
RAMADAN kembali hadir menyapa kita di tengah keprihatinan pandemi...
Mi/Seno

Covid-19 dan Industri 4.0

👤Tjandra Yoga Aditama Guru Besar FKUI, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur WHO SEARO, Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes 🕔Kamis 15 April 2021, 05:00 WIB
PANDEMI covid-19 masih terus melanda...
Dok pribadi

Mengulik Status kelembagaan Perguruan Tinggi Negeri

👤Kurniawan Budi Irianto, Pejabat Pengawas pada Kementerian Keuangan 🕔Rabu 14 April 2021, 15:20 WIB
Baik PTN BLU dan PTN BH merupakan tahapan paripurna pada pengelolaan pendidikan tinggi di negeri...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tajamnya Lancang Kuning di Lapangan

 Polda Riau meluncurkan aplikasi Lancang Kuning untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berhasil di lapangan, dipuji banyak kalangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya