Senin 15 Februari 2021, 11:45 WIB

Mencari Negarawan dan Panggilan Syafii Maarif

Gantyo Koespradono, Mantan Wartawan, Pemerhati Sosial dan Politik | Opini
Mencari Negarawan dan Panggilan Syafii Maarif

Dok pribadi
Gantyo Koespradono

 

INDONESIA (waktu itu belum bernama Indonesia) dalam perjalanan sejarahnya mencatat punya enam musuh negara asing yang berambisi memusnahkan negeri ini. Sekadar mengingatkan, pada zamannya, keenam musuh asing itu adalah Portugis, Spanyol, Prancis, Belanda, Inggris dan Jepang.

Keenam negara itu mengusik negeri ini sebelum Indonesia resmi menjadi negara berdaulat yang dimulai pada 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, Belanda sempat mengusik-usik lagi kedaulatan RI terkait dengan keberadaan Irian Barat (kini Papua). Portugis adalah negara pertama yang menjajah 'Indonesia' (1509-1595). Kedua, Spanyol (1521-1692). Motifnya sama dengan Portugis, menguasai rempah-rempah. Namun, karena pada saat itu Portugis tengah berkuasa di Nusantara, Portugislah yang melawan Spanyol.

Negara ketiga yang menduduki Nusantara adalah Belanda (1602-1942). Negara inilah yang menjajah 'Indonesia' paling lama, 346 tahun. Dalam kurun waktu selama itu, Belanda berhasil menguasai wilayah Indonesia mencakup pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Papua.

Tak banyak yang ingat, negara keempat yang pernah menjajah Nusantara adalah Prancis (1806-1811) setelah Prancis menaklukkan Belanda dan mengirim Marsekal Willem Daendels ke Batavia (Jakarta) dan dijadikan gubernur jenderal di Nusantara. Negara kelima adalah Inggris (1811-1816). Inggris sempat singgah menjajah Nusantara ketika mengalami kekalahan saat akan terus bercokol di Nusantara.

Jepang (1942-1945) adalah negara keenam yang berusaha memorakpandakan Indonesia. Pada mulanya Jepang bersikap baik dan berencana membantu memerdekakan Indonesia. Namun lama kelamaan, mereka menunjukkan sikap diktator dan kejam.

Motif utama keenam negara itu berusaha eksis dan bermimpi agar Indonesia tidak pernah ada adalah mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia (dagang). Bukan ideologi, meski kita tidak menampik, unsur itu pasti ada kendati tidak dilakukan secara frontal. Pascakemerdekaan Indonesia, praktis tidak ada negara asing yang coba-coba mengganggu Indonesia. Apalagi berusaha menjajah, mengusik atau menihilkan ideologi negara dan bangsa, Pancasila.

Negeri ini justru disibukkan dengan ulah bangsa sendiri yang melalui organisasi radikal berpura-pura 'mencintai' NKRI tapi merongrong dan berupaya menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi lain. Kenyataan seperti itu sempat membuat Bung Karno geleng-geleng kepala (jengkel) dan berujar, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri."

Apa yang diucapkan Bung Karno puluhan tahun lalu terbukti saat ini. Sampai sekarang. Enam presiden setelah Bung Karno, mereka harus berhadapan dengan bangsanya sendiri yang diam-diam namun secara terstruktur, sistematis dan masif berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain.

Lebih celaka, upaya tersebut dilakukan dengan bertamengkan agama dan memanfaatkan organisasi kemasyarakatan (ormas) radikal serta menggunakan medium terkini; media sosial. Paham radikalisme itu juga dilakukan lewat dunia pendidikan dan kegiatan keagamaan.

Panggilan sebagai negarawan

Beruntung dalam suasana seperti itu, negeri ini mempunyai tokoh yang memiliki panggilan jiwa dan berjuang lewat berbagai cara, demi eksisnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang di dalamnya ada Pancasila. Pada zamannya, negeri ini pernah punya bapak bangsa bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Lewat caranya yang unik- juga berani melawan arus- Gus Dur bersuara lantang dan melawan mereka yang coba-coba memanipulasi agama untuk mencabik-cabik NKRI.

Indonesia adalah negara yang dibangun oleh mereka yang bersuku, beragama dan berlatar belakang berbeda-beda. Menyadari akan hal ini, Gus Dur pun tidak lagi mengharamkan masyarakat Tionghoa merayakan Imlek, sesuatu yang sebelumnya berpuluh-puluh tahun diharamkan.

Sama dan sebangun dengan Gus Dur, kita mesti bersyukur Indonesia punya Ahmad Syafii Maarif yang lewat caranya yang bersahaja, namun tegas berani bersuara tentang keindonesiaan yang coba diseragamkan oleh mereka yang merasa paling benar. Ia konsisten bersuara tentang pluralisme dan keberagaman. Sama seperti Gus Dur, Buya Syafii- begitu ia akrab disapa- juga pembela kelompok minoritas yang entah apa dosanya, kerap dikucilkan di negeri ini.

Membaca buku berjudul Mencari Negarawan-85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif yang baru saja diterbitkan JIBPost Pustakapedia Indonesia, saya akhirnya menjadi lebih paham tentang panggilan jiwa Syafii Maarif buat kelestarian negeri ini. Lebih yakin, sebab buku- editor David Krisna Alka dan Asmul Khairi- yang diterbitkan guna memperingati 85 tahun Buya Syafii itu berisi kumpulan tulisan singkat yang ditulis oleh 66 penulis.

Para penulis terdiri dari beragam latar belakang. Ada wartawan, pejabat, mantan menteri, ilmuwan/akademisi, praktisi ormas dan lain-lain.

"Langit ini untuk semua orang, termasuk orang yang tidak percaya Tuhan. Amatlah tidak bijak dalam kondisi bangsa sedang berjuang keras melawan pandemi Covid-19 seperti saat ini, ada sekelompok orang berbicara tentang pemakzulan presiden yang dikaitkan dengan kebebasan berpendapat..."

Kutipan itu, tulis wartawan senior Saur Hutabarat dalam buku tersebut, menunjukkan di situ bersemayam pikiran besar dan dada yang lapang. Yang dimaksud tentu Syafii Maarif. Sebelumnya Saur menyinggung soal pemimpin yang bernilai. Menurut dia, setiap negara punya kepala negara, bahkan merangkap kepala pemerintahan, namun kosong negarawan. Tak hanya di negeri sendiri, tapi juga di negara tetangga.

Syafii Maarif pastinya adalah seorang negarawan. Namun, jujur saya terkadang khawatir semakin bertambahnya usia seseorang, lazimnya pikiran dan omongan kerap tidak nyambung. Asal ngomong, lalu (maaf) dimanfaatkan (dieksploitasi) media sebagai nara sumber untuk bahan pemberitaan. Ujung-ujungnya adalah gaduh.

Beruntung di usianya yang telah 85 tahun, Buya Maarif tetap arif dan tidak pernah merasa 'mentang-mentang', sehingga mengundang simpati Luhut Binsar Panjaitan yang juga menulis di buku tersebut. Di balik seluruh kehebatan pemikiran Buya Syafii, begitu kesan Luhut, ada satu karakter beliau yang sangat menawan dan patut dijadikan tauladan bagi generasi muda kita, yaitu kebersahajaannya.

Dalam kebersahajaannya, Syafii Maarif tetap konsisten dengan panggilannya untuk membela negeri ini dari 'musuh' yang selama ini bersembunyi di balik selimut. Semoga ke depan bangsa ini tetap akan menemukan negarawan-negarawan baru tatkala kita mungkin saja bingung saat mencari negarawan.

Baca Juga

Ilustrasi

Liburan Literasi

👤Ernawati Pustakawan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe 🕔Selasa 28 Juni 2022, 05:15 WIB
BAGI sebagian orang yang bekerja dalam dunia pendidikan, selain liburan yang sudah ditentukan dalam...
MI/Tiyok

Legalisasi Metode Omnibus

👤Khairul Fahmi Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas 🕔Selasa 28 Juni 2022, 05:00 WIB
SETELAH UU Cipta Kerja dinyatakan inkonstitusional bersyarat melalui Putusan MK Nomor...
Dok pribadi

Belajar Ketahanan Pangan dari Bali

👤Andi Muh Darlis, Kolonel Sus, Widyaiswara Pusdiklat Bela Negara Kemhan RI 🕔Senin 27 Juni 2022, 23:35 WIB
MENYUSURI kawasan Tabanan, Bali yang dipenuhi area persawahan saat melalukan kunjungan bakti bela negara, mengingatkan kepada kebijakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya