Rabu 02 Desember 2020, 23:15 WIB

Macron vs Islam: Benturan Budaya?

Ahmad Najib Burhani, Profesor Riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia | Opini
Macron vs Islam: Benturan Budaya?

Dok LIPI
Ahmad Najib Burhani

“THE GREAT DIVISIONS AMONG HUMANKIND AND THE DOMINATING SOURCE OF CONFLICT WILL BE CULTURAL” (SAMUEL P HUNTINGTON)

DALAM pidatonya pada 2 Oktober 2020 di Les Mureaux, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutkan bahwa “Islam adalah agama yang mengalami krisis, di seluruh dunia”. Ia juga membela kebebasan berbicara dan berekspresi di negaranya, termasuk yang dilakukan majalah Charlie Hebdo yang mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad, dan bahkan akan memperkuat sekularisme di Prancis yang dimulai 1905.

Pernyataan Macron itu lantas mendapat kecaman dari dunia Islam, termasuk dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), karena mengasosiasikan sebuah patologi sosial dengan kelompok agama tertentu. Isi pidato itu sebetulnya merupakan paparan dari strateginya dalam memerangi separatism dan radikalisme, terutama yang terkait Islam. Pidato itu dipicu oleh naiknya ekstrimisme dan radikalisme keagamaan di Prancis pada tahun-tahun belakangan. Macron hendak memutus mata rantai radikalisme dan ingin mempromosikan apa yang disebutnya sebagai Islam des Lumières (Islam Pencerahan), mungkin mirip dengan Islam Nusantara atau Islam Berkemajuan di Indonesia, yaitu sebuah Islam yang khas Prancis dan tidak dipengaruhi atau dikontrol oleh negara-negara Timur Tengah; sebuah Islam yang beradaptasi atau berakulturasi dengan identitas dan karakter budaya Prancis.

Di antara kecaman kepada Macron itu ada yang berisi tuntutan agar ia memahami perasaan umat Islam dan meminta maaf atas pernyataannya yang mengaitkan agama tertentu dengan terorisme. Dalam pernyataannya, Jokowi, misalnya, menyebutkan "Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan, dan harus dihentikan." Pertanyaannya, seperti dikemukakan Syafiq Hasyim, intelektual Nahdlatul Ulama (NU) yang brilian, dalam diskusi di Cokro TV (30/10), “Bagaimana mungkin negara seperti Prancis harus mengurangi tradisi kebebasan berekspresi yang sudah dibangun berabad-abad untuk mentolerir satu nilai baru, seperti penghormatan ke orang suci, yang masuk ke negara itu?”

Pernyataan Macron tentang Islam, reaksi dari para pimpinan dunia Islam, dan perbedaan pandangan dalam melihat kebebasan berekspresi itu lantas mengingatkan pada tulisan Samuel Huntington berjudul The Clash of Civilizations? yang terbit di jurnal Foreign Affairs 1993. Artikel ini sempat menghebohkan dunia selama bertahun-tahun. Banyak orang yang marah, ketakutan, dan mengecam artikel yang dianggap bisa menjadi a self-fulfilling prophecy (ramalan yang bisa terwujud justru karena diramalkan itu).

Karena respons yang begitu besar terhadap artikel itu dan juga karena kontroversi dan misinterpretasi yang diciptakan, Huntington lantas mengembangkan tulisan itu menjadi sebuah buku yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996). Buku ini menghilangkan tanda tanya (?) yang ada di artikel awal dan menambah frasa “and the Remaking of the World Order”. Perubahan itu terjadi karena Huntington ingin menjawab tuduhan yang menyebutkan dirinya menekankan bahwa benturan peradaban itu adalah sesuatu yang tak terhindarkan pada abad ke-20 ini. Dengan artikel itu ia justru ingin mewanti-wanti akan kembalinya isu budaya dalam politik dan geopolitik serta mencari cara bagaimana benturan peradaban itu bisa dihindari.

Ada benarnya

Apakah nilai-nilai dan budaya Islam tidak cocok dengan nilai dan budaya Barat? Apakah Islam dan Barat akan selalu berbenturan? Ataukah Islam sedang mengalami krisis seperti yang disebut oleh Macron itu? Banyak sarjana muslim yang menyebutkan bahwa Islam itu compatible dengan demokrasi, hak-hak individu, kebebasan berekepresi, kesetaraan gender, dan nilai-nilai lain yang dianut di Barat. Bahkan ada yang menyebutkan kalau Islam lebih dulu menganut nilai-nilai itu daripada masyarakat Barat.

Lantas mengapa sekarang kok seperti ada benturan nilai dan budaya? Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU, menganggap pernyataan Macron itu ada benarnya, bahwa dunia Islam memang sedang mengalami krisis. Menurutnya, krisis itu tidak hanya dialami oleh Islam, tapi juga agama-agama lain.

Pernyataan Macron dan Gus Staquf bahwa umat Islam sedang mengalami krisis itu sebetulnya diafirmasi oleh banyak sarjana dan juga pimpinan umat Islam. Namun ketika wacana tentang krisis itu lantas ditarik kepada pengasosiasian Islam dengan terorisme atau radikalisme, banyak yang merasa keberatan dan tersinggung. Keberatan ini berangkat dari keyakinan bahwa pada dasarnya Islam adalah agama yang damai dan karena itu terorisme dan radikalisme tidak sesuai dengan nilai Islam dan harus secara tegas dibuat garis pembeda.

Sebelum Macron mengeluarkan pernyataannya yang kontroversial itu, beberapa sarjana juga telah menyebutkan hal yang sama. Bernard Lewis menulis buku What Went Wrong? The Clash between Islam and Modernity in the Middle East (2002). Irshad Manji menulis The Trouble with Islam: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith (2003). Abdelwahab Meddeb juga menulis The Malady of Islam (2003). Dalam bukunya, Manji, misalnya, menulis “We’re in crisis and we’re dragging the rest of the world with us” (Kita dalam kondisi krisis dan bahkan kita membawa seluruh dunia ke dalam krisis itu). Sama seperti Macron, ketiga penulis itu tak disukai di dunia Islam dan bahkan sering diprotes.

Memang, kalau kita ingin menjadi dunia dan umat yang damai, dialog budaya dan peradaban itu mesti terus-menerus dilakukan. Krisis peradabaan dan gegar budaya itu sedang menjangkit di mana-mana, termasuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Ketika dunia menjadi semakin mengglobal dan menyatu, pertemuan dan gesekan budaya akan terjadi. Jika kedua budaya sama-sama dalam kondisi krisis, akan mudah sekali berbenturan dan bahkan bertumpah darah. Inilah, misalnya, yang menyebabkan terjadinya insiden pemenggalan Samuel Paty, seorang guru sejarah, oleh Abdoullakh Abouyedovich Anzorov, pemuda muslim keturunan Chechnya berumur 18 tahun, di Paris pada 16 Oktober lalu.

Terakhir, sekularisme Prancis yang lahir di masyarakat yang lebih homogen seratus tahun yang lalu barangkali tidak terlalu pas diterapkan dalam masyarakat dunia yang semakin multi-kultural dan multi-etnis saat ini. Apalagi jika sekularisme itu hendak semakin dipertajam seperti yang direncanakan Macron.

Naskah ini sudah terbit di laman PMB dengan link: https://pmb.lipi.go.id/macron-vs-islam-benturan-budaya/
 

Baca Juga

MI/SUSANTO

Dinamika Timur Tengah di Bawah Biden

👤Smith Alhadar Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDE) 🕔Rabu 20 Januari 2021, 00:50 WIB
KEMENANGAN Joe Biden akan mengubah dinamika politik Timur...
Dok.MI

Bangkit dan Pulih Pascabencana

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Rabu 20 Januari 2021, 00:40 WIB
GETARAN gempa bumi bermagnitudo 6,2 telah membangkitkan bencana yang melanda Mamuju dan Majene, Sulawesi...
MI/Seno

Menyikapi Ketidakpastian dan Kompleksitas Bencana

👤Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) 🕔Selasa 19 Januari 2021, 05:05 WIB
INDONESIA negara rawan gempa bumi karena berada pada zona tumbukan lempeng-lempeng tektonik aktif, yaitu lempeng...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya