Selasa 20 Oktober 2020, 04:55 WIB

Menapaki Satu Tahun Jokowi-Ma'ruf

Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Direktur Eksekutif Next Policy | Opini
Menapaki Satu Tahun Jokowi-Ma

Dok.UI
Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Direktur Eksekutif Next Policy

SEJAK awal kalender anno domini dibuat, peringatan satu tahun seakan sakral dan penuh makna. Berbekal prinsip heliosentris yang dikembangkan pada masa Aristarchus dan dipertahankan secara militan oleh Galileo di Vincenzo Galilei, periode edar bumi mengelilingi matahari menandakan perubahan yang selalu dinanti.

Apakah perubahan itu hanya berisi episode berulang ataukah memancarkan sesuatu yang benar-benar baru? Ini mirip seperti pertaruhan antara Stephen Hawking dan John Preskill pada 2004 mengenai konsep radiasi Hawking (Hawking radiation).

Hawking melihat bahwa radiasi pada lubang hitam memancarkan informasi dan harapan baru. Namun, Preskill menganggap bahwa radiasi Hawking itu hanya berisi informasi lama yang dipancarkan sisa-sisa planet mati pada lubang hitam, tidak ada yang baru. Mana yang benar? Menengok kabinet Jokowi-Ma'ruf, apakah menghadirkan informasi baru atau hanya pancaran refleksi masa lalu?

 

Perekonomian cukup kukuh

Kabinet Jokowi-Ma'ruf sejatinya dimulai dengan ekspektasi masyarakat yang tinggi. Di antara jalinan ekspektasi tinggi tersebut, ekspektasi terhadap perbaikan ekonomi Indonesia terbilang cukup dominan. Memasuki masa awal kabinet, dengan menggunakan analisis sentimen publik berbasis artificial intelligence (AI), Next Policy menemukan lonjakan (spike) sentimen positif pada hari kabinet Jokowi 2.0 diumumkan.

Sebanyak 10.601 tweet menunjukkan sentimen positif atas kondisi perekonomian di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih masuk labirin 5%-an ditopang semangat dan ekspektasi positif di masa awal kabinet diumumkan.

Perekonomian Indonesia tampak cukup kukuh memasuki awal 2020. Angka purchasing manager index (PMI) berangsur membaik bahkan mencapai titik tertinggi selama beberapa tahun terakhir (51.9) di Februari. Dorongan kuat dari sisi industri ini pada gilirannya mendorong surplus neraca dagang di bulan yang sama.

Nilai ekspor Indonesia Februari 2020 meningkat 2,24% secara bulanan dan 11% secara tahunan. Bulan ini ialah kali pertama surplus neraca dagang dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi bukan karena pertumbuhan impornya yang turun lebih dalam jika dibandingkan dengan ekspornya, melainkan karena memang ada geliat ekspor yang positif.

Sejatinya tidak ada jalan pintas untuk membenahi defisit neraca dagang. Ini lebih ke permasalahan industri, yang mengalami gejala penurunan kontribusi yang prematur, serta produktivitas tenaga kerja yang alih-alih tumbuh mengangkasa malah stagnan.

Untuk memperbaiki industri, perlu infrastruktur yang memadai. Untuk hal ini, saya cukup tenang karena pemerintah sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tanda-tanda perbaikan kinerja industri dan perdagangan sudah mulai tampak sejak awal tahun. Pekerjaan rumah terberat, justru, pada peningkatan kualitas pendidikan yang terkoneksi erat dengan kebutuhan industri, dan peningkatan produktivitas. Ini yang sebenarnya coba dituntaskan beleid omnibus law meski tentu dengan ragam catatan.

Sayangnya momentum ini harus dihantam pandemi covid-19. Sebagaimana yang kita ketahui, pandemi ini memberikan guncangan besar terhadap perekomian dunia, Indonesia tidak terkecuali. Masalahnya, covid-19 ini semakin memberikan tekanan pada sisi supply yang memang sudah bermasalah, bahkan, sejak beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini cukup memberi masalah karena tekanan berlebihan pada sisi supply ini, kemudian memberikan tekanan lintas sektor, sebagai akibat dari sisi demand yang juga ikut terdampak. Akibatnya, efek domino terjadi, semua sektor ekonomi tanpa terkecuali akan terdampak cukup signifikan.

Kondisi terberat sempat kita alami sepanjang Maret ketika rupiah sempat mencapai 17.000 per US$. Kondisi fundamen rupiah sebenarnya pada level yang cukup baik karena moncernya neraca dagang dan juga ekspansi moneter yang cukup agresif di Amerika Serikat dan Eropa. Akan tetapi, rupiah lebih banyak ditarik ketakutan pasar.

Untungnya, pasar sudah relatif normal jelang April karena kebijakan pemerintah mulai kelihatan arahnya dan pengumuman paket stimulus yang disambut baik. Hal ini cukup inline dengan penelusuran mesin AI kami, kinerja dari tim ekonomi banyak mendapat sambutan positif. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan mendapatkan kenaikan jumlah tweet yang sangat tinggi (805%) jika dibandingkan dengan posisi awalnya ketika kabinet pertama kali diumumkan.

Hal yang kami temukan dan cukup pivotal ialah ketika Sri Mulyani menjadi menteri yang paling awal bersuara mengenai dampak covid-19, bahkan lebih awal jika dibandingkan dengan Terawan sebagai menteri kesehatan. Rangkaian kebijakan yang dikeluarkan juga tampak cukup inline untuk tetap menjaga daya ungkit perekonomian di tengah pandemi. Salah satunya ialah memperluas cakupan jaring pengaman sosial serta penambahan dana stimulus hingga hampir Rp700 triliun.

 

Tekanan pandemi

Karena tekanan pandemi, pertumbuhan ekonomi harus rela anjlok. Paling parah tentunya di kuartal kedua, dan sepertinya akan diikuti tren negatif di kuartal ketiga meski tidak separah di kuartal kedua. Nah, masalahnya, paket stimulus masih mandek, perlu didorong lagi. Ini juga yang menyebabkan Pak Jokowi beberapa kali marah-marah di depan sidang kabinet.

Perhitungan kami, jika dana tersebut bisa direalisasikan seratus persen di tahun ini, akan menghasilkan dorongan pertumbuhan ekonomi hingga 3,96%. Jika proyeksi IMF ditahun ini pertumbuhan ekonomi akan terpuruk di minus 1.5%, dengan seratus persen realisasi stimulus, pertumbuhan ekonomi kita di tahun ini masih bisa positif pada rentang 2%-an.

Meskipun ada sumbatan dari sisi stimulus fiskal, stimulus nonfiskal ternyata cukup efektif. Salah satunya datang dari kebijakan relaksasi perdagangan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres), tentang Penataan dan Penyederhanaan Perizinan Impor, yang diberlakukan sejak awal April.

Hal itu terbukti efektif menahan tren pembalikan PMI yang sempat anjlok dalam di Maret. Imbasnya, PMI berangsur membaik, bahkan mencapai salah satu titik tertingginya di Agustus (50,8) meski harus anjlok lagi di September (47,2) akibat PSBB ketat jilid 2. Namun, jika dibandingkan dengan April (27,5) akibat PSBB jilid 1, industri kita sudah terhitung tahan digedor. Ini buah dari kebijakan relaksasi impor tersebut sehingga industri mudah untuk mendapatkan akses bahan baku dan barang modal.

Kinerja industri yang cespleng ini akhirnya turut mendorong surplus neraca dagang Indonesia sepanjang 2020. Surplus pada September kemarin merupakan surplus bulanan ketujuh kalinya sepanjang 2020 dan melanjutkan tren surplus lima bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Bahkan, pada Agustus, neraca dagang sempat mencatat surplus terbesar sejak 2011.

Tren ekspor yang sempat mengerut sejak dihantam pandemi mulai kembali berbalik di Juni, dan terus tumbuh secara bulanan hingga September meski sempat diselingi penurunan tipis di Agustus. Tren impor barang modal dan penjualan semen juga selaras dengan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), yang mulai menunjukkan tren perbaikan, serta mulai menanjaknya data sentimen positif dari lebih dari 10 juta data point yang kami kelola.

 

Menggeliatnya industri dan perdagangan

Bisa dibilang, prestasi yang paling tampak, dari setahun pertama kabinet ini, ialah menggeliatnya industri dan juga perdagangan, sesuatu yang selama ini menjadi momok bagi perekonomian Indonesia. Sebagaimana penelitian dari Nurunnisa dan Hastiadi (2018), rupiah yang seperti terus-menerus dirongrong depresiasi ialah ganjaran dari buruknya kinerja ekspor di periode pertama kabinet Jokowi.

Padahal, untuk bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah, pertumbuhan ekonomi harus berada dalam rentang 6% hingga 6.5%, hingga 2030 nanti, dan ini hanya bisa terjadi jika pertumbuhan ekspor tahunan bisa berada di level 9%-an.

Tren ini sepertinya akan bisa terus berlanjut mengingat adanya efek relokasi (relocation effect) selama pandemi. Selama beberapa bulan terakhir, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa konsisten naik. Hal ini terjadi karena negara-negara tersebut ingin menjadikan ASEAN sebagai hub produksi baru, dengan Indonesia ialah salah satu yang juga cukup dilirik.

Efek relokasi inilah yang seirama dengan pidato Jokowi pada 16 Agustus yang lalu, yaitu Indonesia justru bisa membajak pandemi untuk kepentingan bangsa. Peluangnya ada meski tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Singkat cerita, apa yang kita saksikan selama setahun terakhir pada kabinet ini, sepertinya, berada pada frekuensi yang sama dengan Hawking terhadap konsep radiasi pada lubang hitam, energi baru! Oh iya, sayangnya Hawking kalah taruhan dan terpaksa harus memberikan Total Baseball, the Ultimate Baseball Encyclopedia kepada John Preskill sebagai bayarannya.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Obat Covid-19

👤FX Wikan Indrarto Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM 🕔Jumat 04 Desember 2020, 02:10 WIB
TELAH dilakukan sebuah penelitian yang membandingkan efek beberapa jenis pengobatan untuk penyakit Coronavirus disease 2019...
Dok. MI

Membangun Infrastruktur dan Peradaban Bangsa

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Jumat 04 Desember 2020, 02:05 WIB
TEPAT 3 Desember kemarin, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PU-Pera) merayakan Hari Bakti PU-Pera...
DOK PRIBADI

Kepemimpinan Transformasional dan Kecerdasan Emosi

👤Dr. Lisa GraciaKailola, S.Sos., M.Pd, Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia, lisa.gracia@uki.ac.id 🕔Kamis 03 Desember 2020, 10:02 WIB
Riset dan kajian ilmiah yang berkembang dua dekade belakangan ini menunjukkan beberapa fakta bahwa kesuksesan seseorang tidak sepenuhnya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya