Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) diundang untuk menjelaskan situasi terakhir terkait pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) dalam pertemuan Dewan Kamar Dagang Internasional (ICC) yang dilakukan secara daring.
ICC merupakan organisasi bisnis terbesar di dunia yang mewakili lebih dari 45 juta perusahaan. Organisasi ini juga merupakan suara dunia bisnis paling berpengaruh di organisasi-organisasi dunia, seperti PBB, WTO, dan G20. ICC meminta para pemimpin G-20 segera bersatu dalam pendekatan komprehensif dalam mengatasi covid-19 untuk melengkapi upaya luar biasa WHO.
Pendekatan itu berkisar dari mengurangi tarif-tarif impor pasokan dan alat kesehatan. Kemudian imbauan terkait jaring pengaman sosial untuk sektor-sektor informal, stimulus bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM), dan meningkatkan bantuan finansial untuk pelayanan kesehatan di negara-negara termiskin.
Sebagai Wakil Ketua ICC yang berbasis di Singapura, Cherie Nursalim menjelaskan pendekatan pragmatis dan efektif yang dilakukan negara itu agar dunia usaha dan sekolah tetap berfungsi, meski dilanda masalah covid-19 sejak Januari. Bagaimana negara yang paling padat dan tersibuk secara bisnis ini bisa menekan kurva mengantisipasi dan membatasi penderita positif sehingga tidak ada korban yang meninggal dan pembelajaran apa yang bisa diambil dari pengalaman ini?
Begitu banyak artikel yang menggambarkan tindakan yang dilakukan di tingkat tinggi pemerintah. Kami merasa terdorong untuk berbagi aksi ini dan meski situasi di setiap negara berbeda-beda, ada beberapa pembelajaran yang bisa diterapkan.
Kami menduga yang terpenting adalah mindset (pola pikir). Satu pola pikir kewaspadaan di tingkat ‘luar biasa besar’ untuk melawan virus yang tidak terlihat ini. Ini merupakan perang, perang biologi. Singapura sebagai pemerintah, kementerian kesehatan, tim medis, bahkan unsur-unsur keamanan bersatu dan terlibat dalam setiap kasus terkonfirmasi.
Mereka menyebut warga yang terjangkit sebagai kasus# untuk melindungi privasi dan identitas pasien. Kami menganalogikannya; kasus# diperlakukan sebagai korban tidak tahu apa-apa yang badannya dililit senjata biologi. Mereka diperlakukan dengan hati-hati dan penuh hormat, dan dengan mengingat besarnya nasib yang akan dihadapi negara itu. Ketika alarm merah tanda positif berbunyi, tim medis merawat kasus#, sedangkan unsur lain bergerak untuk mengidentifikasi orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien ini.
Setiap kasus positif covid-19 yang teridentifikasi dites di laboratorium akan diikuti dengan case tracer (penyisir kasus), yang tugasnya ialah secara digital mewawancara dan melacak serta mencari tahu orang-orang yang terpapar dengan kasus#. Langkah Singapura ini melebihi imbauan WHO yang hanya melacak jejak rekam kasus# selama 14 hari ke belakang dalam dua hari.
Dalam dua jam mereka mengirim laporan ke Kementerian Kesehatan yang berisi nama-nama anggota keluarga, orang yang pernah duduk atau berbicara di sekolah, tempat kerja, lingkungan rumah, pasar, tempat ibadah, dan juga kapan interaksi itu terjadi. Setelah kontak intim (dekat) teridentifikasi, satu proses lagi dilakukan, yaitu memberi tahu badan-badan terkait untuk mengosongkan dan membersihkan tempat-tempat, memberi tahu dan melindungi orang yang diduga (suspect) dengan melakukan tes kesehatan.
Bahkan jika kasus# naik Grab selama enam menit atau makan di tempat cepat saji, pengendara dan pramusajinya akan dilacak, dicek dan sebagian besar dikarantina di rumah selama 14 hari.
Setiap orang yang diidentifikasi berpotensi memiliki virus ini didukung dan dimonitor. Syarat-syarat isolasi dan karantina dijelaskan kepada mereka dan dengan tegas diterapkan serta diawasi, antara lain pengecekan melalui telepon dadakan, kunjungan tanpa pemberitahuan. Ini dilakukan untuk memastikan warga menaati aturan itu. Hal ini didukung aturan hukum yang tegas bagi individu yang menolak mengikuti perintah keselamatan selama dikarantina.
Bersamaan dengan tindakan tangan besi ini ada juga kebijakan kesejahteraan, seperti subsidi finansial dan akomodasi aman bagi mereka yang tidak mampu. Selain itu ada juga pengawasan imigrasi seperti di Kota Wuhan dan berbagi data intelijen seperti persekutuan jemaat keagamaan dengan 500 kasus positif di negara tetangga, yang mendorong Singapura melakukan langkah-langkah mitigasi.
Dirjen WHO Dr Tedros meminta negara-negara di dunia untuk ‘tidak memerangi kebakaran dengan mata tertutup’ dan ‘memutus rantai penularan’ melalui pemeriksaan, tracing dan isolasi secara luas. Begitu banyak penelitian yang mengonfirmasi kemanjuran langkah itu dalam mengendalikan penyebaran dan meratakan kurva sehingga fasilitas-fasilitas medis tidak menjadi kewalahan.
Singapura sejak lama berinvestasi untuk membina ahli-ahli bioteknologi dan juga membangun fasilitas laboratorium. Mereka bisa mengembangkan alat tes sendiri secara cepat dan menyumbangkannya ke negara-negara lain dalam langkah yang disebut Menteri Luar Negeri Dr Vivian Balakrishnan sebagai diplomasi alat tes. Sejarah SARS bisa jadi mengakar pada ‘pola pikir’ negara ini. Berfungsi seperti biasa di saat tidak biasa jarang terjadi. Singapura bisa menjadi opsi bagi keberlangsungan bisnis dan pragmatisme dalam menghadapi pandemi global.
Keputusan Tiongkok menutup (lockdown) Kota Wuhan dan mengendalikan wabah ini juga efektif dalam melawan covid-19, dengan tidak ada kasus baru di negara itu. Tiongkok pun mulai mengirim para ahli dan memasok alat medis ke negara lain mulai dari Amerika Serikat, Eropa, dan ASEAN. Tentu saja pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan banyak sektor-sektor lain yang mulai ikut membantu untuk ikut membantu melindungi warga miskin dan komunitas pada umumnya.
Cerita-cerita tentang solidaritas bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, gotong royong di Amerika, bernyanyi di Italia dan Spanyol, para pemimpin trisektor United in Diversity dan Youths Collab4Health di Indonesia, kegiatan berbasis kesadaran bersama GAIA (Global Activities of Intention and Action) dan World Economic Forum Young Global Leaders, bersatu dalam COVID Action Platform.
Ketika roda ekonomi berada dalam situasi sulit dengan kontraksi terkait nyawa manusia dan kegiatan ekonomi di seluruh dunia, sudah saatnya untuk bersatu dalam jalinan ‘kemanusiaan yang saling terkait’. Mungkin ini ialah satu lingkaran keseimbangan (balancing loop) dari ‘planet kita’ agar tercipta satu keseimbangan. Ini bisa jadi virus ‘micron’, tapi hal ini menjadi pembelajaran besar bagi kemanusiaan.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved