Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Langkah ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, harus terhenti prematur di ajang Malaysia Terbuka 2026. Menghadapi unggulan keempat sekaligus wakil tuan rumah, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, Jafar/Felisha menyerah dua gim langsung 12-21 dan 17-21 dalam laga yang berlangsung di Axiata Arena, Selasa (6/1) sore WIB.
Kekalahan ini kian memperpanjang rekor buruk Jafar/Felisha atas Chen/Toh menjadi 0-7. Ambisi untuk revans di turnamen pembuka tahun ini justru menjadi bumerang bagi pasangan peringkat 10 dunia tersebut karena gagal mengendalikan tekanan mental di lapangan.
Jafar/Felisha sebenarnya sempat mencuri start di gim pertama dengan unggul 7-3. Namun, Chen/Toh yang baru saja menyandang status Juara Dunia menunjukkan kematangannya. Meraih sepuluh poin beruntun, ganda Malaysia tersebut melesat meninggalkan Jafar/Felisha 18-9 sebelum akhirnya menutup gim pertama dengan skor telak 21-12.
Memasuki gim kedua, perlawanan Indonesia mulai terlihat. Jafar/Felisha sempat menipiskan jarak 10-11 saat interval. Namun, dukungan publik Axiata Arena membuat Chen/Toh kian tak terbendung. Sebuah smes keras Toh Ee Wei yang gagal dikembalikan Felisha di poin kritis akhirnya menyudahi laga dalam waktu 39 menit.
Usai laga, Felisha tidak menutupi kekecewaannya. Ia mengakui penampilannya jauh di bawah standar akibat terlalu menggebu-gebu untuk memenangkan pertandingan.
"Performa hari ini jauh banget dari harapan. Saya mengakui banyak melakukan error karena terlalu menggebu-gebu ingin menang, malah jadi berbalik pressure ke diri sendiri. Kami harus cari cara agar performa bisa kembali maksimal meski di tengah pertandingan situasi tidak mendukung," ujar Felisha.
Senada dengan pasangannya, Jafar Hidayatullah menyebut ketidakyakinan di lapangan menjadi faktor utama kegagalan mereka mengeksekusi strategi. "Kami ingin mencoba lagi di tahun yang baru, tapi mainnya tidak terkontrol. Kami banyak mati sendiri, sementara Chen/Toh bermain sangat bagus hari ini," kata Jafar.
Chen/Toh Tetap Waspada Di sisi lain, kemenangan ini membuktikan konsistensi Chen Tang Jie/Toh Ee Wei. Meski memegang rekor pertemuan sempurna, mereka mengaku tetap memasang mode waspada tinggi terhadap wakil Indonesia.
"Melawan pasangan Indonesia selalu menjadi tantangan berat. Kami mencoba menikmati permainan tanpa memberikan tekanan berlebih pada status juara dunia kami," ungkap Toh Ee Wei.
Di babak kedua, Chen/Toh akan menghadapi pemenang antara rekan senegaranya, Hoo Pang Ron/Cheng Su Yin, atau wakil Denmark, Mathias Christiansen/Alexandra Boje. Sementara itu, Jafar/Felisha harus segera berbenah guna menghadapi turnamen berikutnya di India Terbuka pekan depan. (P-5)
Keputusan ini diambilPBSIĀ lantaran performa kedua pasangan ganda putri tersebut dinilai stagnan dan tidak memenuhi target yang ditetapkan oleh tim pelatih.
Selama durasi 25 detik tersebut, pemain diperbolehkan melakukan aktivitas mandiri seperti mengelap keringat, minum, hingga mengikat tali sepatu tanpa perlu meminta izin wasit.
Laga ini menjadi momen penting bagi Raymond/Joaquin yang menjalani debut mereka di turnamen level Super 1000.
Sejumlah bidang menyampaikan paparan laporan, antara lain Bidang Pembinaan Prestasi, Turnamen, Prestasi Daerah, Teknologi Informasi dan Riset Pengembangan.
Bertanding di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Selasa, Jafar/Felisha kalah dua gim langsung 12-21, 17-21 dalam waktu 39 menit.
Selama ini, dinamika keluar masuk atlet Pelatnas di akhir tahun berfungsi sebagai instrumen evaluasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved