Sabtu 07 Agustus 2021, 06:30 WIB

Ada Brasil dan Spanyol di Tokyo

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Olahraga
Ada Brasil dan Spanyol di Tokyo

MI/Seno
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group.

 

OLIMPIADE Tokyo akan ditutup besok malam. Pesta olahraga terbesar di dunia itu akan dikenang sebagai Olimpiade yang penuh drama. Tidak hanya harus digelar mundur setahun dari jadwal, tetapi juga sarat dengan prestasi dan cerita-cerita yang menarik.

Drama Olimpiade Tokyo dimulai dari mundurnya Ketua Panitia Penyelenggara Yoshiro Mori pada Februari lalu. Mantan Perdana Menteri Jepang itu mundur hanya empat bulan sebelum pembukaan setelah menyampaikan pernyataan yang dinilai merendahkan kaum perempuan.

“Kita harus membatasi jumlah perempuan dalam kepanitiaan Olimpiade Tokyo karena mereka kalau berbicara tidak pernah bisa berhenti dan akhirnya malah mengganggu,” kata Mori dalam sebuah rapat secara daring.

Atas ucapannya itu, Mori akhirnya meminta maaf dan kemudian menyatakan mundur dari jabatannya. Sebagai gantinya, PM Yoshihide Suga menunjuk Menteri Olimpiade yang kebetulan seorang perempuan, Seiko Hashimoto.

Drama kedua terjadi pada saat pembukaan yang harus diselenggarakan tanpa kehadiran penonton. Sementara itu, sebagian masyarakat Tokyo unjuk rasa menentang dilangsungkannya Olimpiade karena kekhawatiran semakin menyebarnya covid-19.

Untuk menjawab kritikan bahwa Jepang tidak menghormati kesetaraan gender, ditunjuk petenis Naomi Osaka sebagai penyala obor Olimpiade. Peraih empat gelar grand slam itu memang ibunya orang Jepang, tetapi ayahnya orang Haiti. Naomi sejak usia tiga tahun hidup di AS dan berlatih tenis di sana hingga menjadi salah satu petenis muda berbakat.

Di tengah banyak kritikan terhadap penyelenggaraan Olimpiade Tokyo yang berpotensi menjadi sumber penularan baru covid-19, banyak prestasi besar ditorehkan. Perenang Australia Emma McKeon menjadi perempuan pertama yang bisa meraih 7 medali dalam satu pesta olahraga. Ia merebut 4 medali emas dan 3 perunggu di Olimpiade Tokyo.

Di cabang atletik, pelari Jamaika Elaine Thompson- Herah menjadi atlet yang bisa meraih medali emas nomor 100 meter dan 200 meter di dua Olimpiade secara berturutturut. Pertama ia melakukan di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan diulang kembali di Olimpiade Tokyo.

Prestasi besar yang juga akan selalu dikenang ditorehkan pesenam Amerika Serikat Sunisa Lee. Ia menjadi warga AS berdarah Asia pertama yang menyumbangkan medali emas senam serba alat. Lee bahkan bukan hanya mewakili Asia, melainkan juga mewakili suku Hmong yang selama ini tidak pernah diakui sebagai warga bangsa baik oleh Tiongkok, Laos, Vietnam, maupun Thailand.

Perjalanan Lee terasa dramatis karena ia berangkat ke Tokyo hanya untuk menjadi ‘pendamping’ bintang senam AS Simone Biles. Namun, ketika Biles memutuskan mengundurkan diri karena tekanan mental, Lee hadir menjadi penyelamat. Ia menang dengan keunggulan hanya 0,135 poin atas pesenam Brasil Rebeca Andrade.
 

 

Tahun perempuan

Tidak berlebihan apabila Olimpiade Tokyo menjadi pesta kebangkitan kaum perempuan. Indonesia pun diselamatkan untuk bisa mempertahankan ‘era emas’ oleh atlet putri. Tanpa disangka-sangka ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu mampu meraih prestasi tertinggi. Padahal, selama ini yang paling diharapkan bisa menyumbangkan medali emas, kalau tidak nomor ganda putra ialah ganda campuran.

Ketika pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti tersingkir, harapan emas pun menyurut. Apalagi ketika kemudian pasangan ganda putra Marcus Gideon/Kevin Sanjaya kalah dari pasangan Malaysia, disusul pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan kalah dari pasangan Taiwan, harapan emas pun sempat menjadi suram.

Namun, Greysia/Apriyani menjawab semua keraguan. Dengan kematangan di usia menjelang gantung raket, Greysia mampu membimbing Apriyani untuk percaya diri menghadapi pasangan Tiongkok Chen Qingchen/Jia Yifan.

Tidak kurang Presiden Joko Widodo pun langsung menyampaikan selamat kepada atas keberhasilan ganda putri itu mengumandangkan Indonesia Raya di Tokyo. Presiden mengaku tegang ketika di set pertama pasangan Tiongkok sempat mengejar sampai poin ke-19, tetapi Greysia/Apriyani bisa merebut poin penting dan akhirnya menjadi ganda putri pertama Indonesia yang mampu meraih emas Olimpiade.

 

 

Sepak bola

Malam ini, satu yang menarik untuk disaksikan ialah pertandingan fi nal sepak bola putra. Juara bertahan Brasil akan ditantang raksasa sepak bola Eropa, Spanyol.

Pertemuan dua kekuatan sepak bola dunia itu seharusnya menjadi pertandingan yang pantas ditunggu-tunggu. Namun, sepak bola bukanlah cabang utama di ajang Olimpiade. FIFA tidak ingin Piala Dunia tersedot pamornya. Mereka hanya mengizinkan Olimpiade menjadi ajang bagi pemain yang rata-rata berusia 23 tahun.

Beruntung kini banyak pemain muda usia yang sudah menonjol. Spanyol mempunyai kiper Unai Simon yang menjadi penjaga gawang utama tim ‘Matador’. Mereka juga memiliki pemain belakang Eric Garcia, Pau Torres, gelandang Pedri, dan penyerang seperti Dani Olmo, Mikel Oyarzabal, dan Marco Asensio.

Brasil memang tidak seperti 2016 yang memiliki Neymar. Namun, mereka masih memiliki penyerang asal Everton Richarlison yang haus gol. Di lapangan tengah ada pemain seperti Douglas Luiz dan Bruno Guimaraes.

Para pemain muda Selecao didampingi pemain kawakan seperti Dani Alves. Brasil juga memiliki kiper kawakan yang mampu mematahkan tendangan penalti para pemain Meksiko, yaitu Santos.

Pertemuan dua tim yang menonjolkan permainan cantik akan membuat pertandingan akan enak untuk dinikmati. Apalagi jika di awal pertandingan ada tim yang mampu mencuri gol, akan membuat pertandingan semakin terbuka.

Spanyol dengan pemain yang malang melintang di Liga Eropa pantas untuk lebih dijagokan untuk meraih medali emas. Sebagian besar pemain tim ‘Matador’ ini sudah tampil bersama di ajang Euro 2021. Ini yang membuat penampilan mereka menjadi lebih terpadu.

Dani Alves dan kawan-kawan tidak boleh banyak memberi ruang gerak kepada para penyerang Spanyol. Baik Ase nsio, Olmo, maupun Oyarzabal mempunyai kemampuan untuk melepas tendangan terukur ke gawang Santos. Tuan rumah Jepang harus mengubur mimpi membuat kejutan besar karena lengah untuk menjaga Asensio sehingga penyerang asal Real Madrid ini punya ruang untuk melepaskan tendangan kaki yang begitu terukur ke tiang jauh.

Sepanjang Brasil konsisten bermain dengan pola 4-3-3, Selecao tidak bisa dianggap enteng. Richarlison sudah menunjukkan ketajaman ketika mencetak hattrick ke gawang Jerman untuk memanfaatkan umpan-umpan silang kepadanya.

Memang, jika dibandingkan dengan final Piala Dunia atau Piala Eropa, gegap gempita final sepak bola Olimpiade tidak mampu membuat denyut kehidupan dunia seperti berhenti. Sampai ada yang bertanya, apakah sepak bola masih pantas dipertandingkan di ajang Olimpiade. Namun, seperti dikatakan Bapak Olimpiade Modern, Pierre de Coubertin: “Hal terpenting dalam keikutsertaan Olimpiade bukanlah menang, melainkan berpartisipasi.”

Oleh karena itu, semua orang merasa kagum ketika pelompat tinggi asal Qatar, Mutaz Essa Barshim, memilih untuk tidak mengambil kesempatan melakukan lompatan tambahan saat pesaing terdekatnya asal Italia, Gianmarco Tamberi, memilih mundur karena cedera.

“Apakah kalau saya tidak meneruskan, medalinya bisa dibagi dua?” tanya Barshim. Saat pengawas pertandingan menjawab bisa, dia pun memilih untuk berbagi medali sehingga membuat Tamberi memeluknya kegirangan karena mimpi untuk meraih emas Olimpiade-nya pun tercapai. Itulah esensi sesungguhnya dari Olimpiade: “Cinta dan Persaudaraan”.

Baca Juga

Antara

Langkah Gregoria Mariska Terhenti di Denmark Open

👤Ant 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 23:29 WIB
Akibat kekalahan Gregoria ini maka Indonesia tidak lagi mempunyai wakil tunggal putri tersisa di Denmark...
AFP

Fajar/Rian Melangkah Ke Babak Delapan Besar Denmark Terbuka 2021

👤Widhoroso 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 23:27 WIB
PASANGAN ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto lolos ke babak delapan besar Denmark Terbuka 2021 yang berlangsung di Odense Sport...
AFP

LADI Tunggak Biaya Uji Sampel Doping Ke Laboratorium Qatar

👤Widhoroso 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 23:08 WIB
Sekjen KOI Ferry J Kono mengatakan pihaknya mulai menemukan titik terang terkait sanksi yang dijatuhkan Badan Anti-Doping Dunia (WADA)...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sukses PON Papua 2021 Pemerataan Pembinaan di Seluruh Pelosok Negeri

Sukses prestasi ditandai dengan tercipta banyak rekor meski penyelenggaraan multiajang olahraga terakbar Tanah Air itu digelar di masa pandemi covid-19.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya