Jumat 02 Juli 2021, 10:28 WIB

Chris Paul Penuhi Dahaga Final NBA

Basuki Eka Purnama | Olahraga
Chris Paul Penuhi Dahaga Final NBA

AFP/ Harry How/Getty Images
Pemain Phoenix Suns Chris Paul

 

AIR mata menetes ke pipi Chris Paul. Sebuah pesan yang ditulis dengan tinta hitam tertera di atas sepatunya, Can't give up now atau Jangan menyerah.

Setelah 16 tahun tidak pernah menyerah dalam kariernya di NBA, point guard itu mencapai Final NBA pertamanya, selain mengantarkan Phoenix Suns untuk pertama kali dalam 28 tahun terakhir masuk ke Final NBA.

Terakhir kali Suns tampil di Final NBA adalah pada 1993 ketika Charles Barkley cs menyerah dari Chicago Bulls yang dipimpin legenda NBA Michael Jordan lewat pertarungan enam gim.

Baca juga: Antetokounmpo Dipastikan Absen di Gim 5 Playoff NBA

Final NBA lainnya yang pernah diikuti Suns adalah pada 1976 ketika mereka takluk dari Boston Celtics, juga dengan enam gim.

Suns dan Chris Paul sama-sama menantikan momen ini yang akhirnya terwujud setelah lama menunggu.

Paul sendiri, 16 tahun tidak merasakan level tertinggi kompetisi bola basket profesional Amerika Serikat (AS) itu. Enam belas tahun menjadi salah satu pemain terbaik NBA tetapi tidak pernah merasakan atmosfer bertarung dalam Final NBA. Enam belas tahun memainkan 1.213 pertandingan reguler dengan bertabur penghargaan individual tetapi tak pernah mengenakan cincin juara NBA.

Butuh mental kuat, kesabaran ekstra tinggi, dan tentu saja, semangat pantang menyerah seperti dia tuliskan dalam sepatunya itu. Padahal usianya yang sudah 36 tahun adalah ambang senja karirnya.

Kamis (1/7) WIB, di Staples Center, tempat Paul pernah lama berkandang, dalam gim keenam Final Wilayah Barat, dia memborong 41 poin untuk melesatkan Suns terbang tinggi ke awan dengan mencatat kemenangan besar 130-103 atas Los Angeles Clippers.

Konklusi pentingnya adalah Suns mengakhiri final wilayah itu dengan 4-2 untuk menjadi juara Wilayah Barat, dan oleh karena itu berhak tampil di Final NBA, setelah 28 tahun menunggu.

Karena bola basket permainan tim, tentu sukses Suns ini juga berkat sumbangsih semua orang dalam roster tim NBA yang bermarkas di ibu kota
negara bagian Arizona yang juga kota terpadat di negara bagian itu dan kota paling padat kelima di AS.

Baru setahun bersama Suns

Namun, sukses Suns itu menjadi demikian terpusat kepada Paul. Bukan semata karena poin terbanyak yang dia petik, namun lebih karena semangat
pantang menyerahnya dan terus mencoba walau raga terus digerogoti usia yang sebenarnya melambangkan semangat pantang menyerah ala AS.

Semua orang memuji dia, dari sesama pemain NBA seperti Stephen Curry dan Dwyane Wade, sampai selebritis dan pastinya media massa.

Mereka kagum kepada semangatnya yang terus menyala dalam merengkuh yang terbaik dan ternyata menjadi sumber inspirasi pemain-pemain Suns lainnya untuk menang dan terus menang, untuk semakin baik dari satu tempat ke tempat lain, dari jadwal ke jadwal, sampai Suns pun masuk playoff NBA dengan catatan terbaik kedua dalam musim reguler NBA lalu. Mereka menjadi unggulan kedua dalam boks kompetisi pascamusimnya.

Sudah 11 kali Paul menjadi pemain All-Star. Dia tidak mau menyelami pengalaman serupa dialami para mantan bintang NBA seperti Tracy McGrady, Bernard King, George Gervin, dan Dominique Wilkins yang beberapa kali masuk All-Star tetapi tidak pernah merasakan tampil di Final NBA.

Dia kini sedikit lebih maju dari bintang Portland Trail Blazers Damian Lillard yang sampai kini berusaha mati-matian menjadi pemain bintang yang juga merasakan atmosfer Final NBA.

Tekad kuatnya untuk mengakhiri paceklik Final NBA itu membuat dia tampil kesetanan dalam gim keenam melawan Clippers. Tanpa satu kali pun melakukan kesalahan umpan, Paul kembali mencatat poin terbanyak selama karirnya dengan 41 poin. Dan itu tidak cukup, karena dia juga membuat delapan assist dan melakukan tiga steal.

Setelah Karl Malone, Paul menjadi pemain tertua dalam sejarah NBA yang meraup poin sebanyak itu dalam satu pertandingan playoff.

Dan dia melakukan itu semua pada musim pertamanya bersama Suns.

Kepindahan Paul ke Suns ini sendiri terbilang berani karena dia bersedia bergabung dengan tim yang dua musim lalu mencatat kinerja paling buruk di Wilayah Barat dan juga tim yang tidak pernah masuk Final NBA sejak Charles Barkley dan John Paxson diremukkan Chicago Bulls pada Final NBA 1993.

"Mereka menyambut saya dengan tangan terbuka," aku Paul seperti dikutip laman NBA.

Beruntung bagi Suns. Paul tidak sedang ancang-ancang menutup kariernya. Dia justru bersiap untuk bersinar lagi di sini.

Oleh karena itu, yang terjadi kemudian malah dia masuk calon MVP dan All-NBA musim 2020-2021, mengulangi apa yang pernah dia capai saat bersama Oklahoma City Thunder tahun lalu.

Menuju cincin juara NBA

Dan kebetulan, status juara Wilayah Barat itu disegel Suns di Los Angeles di Staples Center, tempat Paul, selama enam tahun, menjadi bintang Clippers. Tetapi selama di sana, Paul dan Clippers tidak selalu bisa mencapai playoff, apalagi Final NBA.

Tidak puas bersama Clippers, Paul ganti perahu dengan Houston Rockets. Di sana, dia bermitra dengan James Harden yang tidak kunjung merasakan cincin juara NBA.

Kemudian, cedera hamstring saat unggul 3-2 melawan Golden State Warriors, tiga tahun lalu, menghancurkan karier Paul, yang setahun setelah itu berselisih dengan Harden untuk kemudian banting setir lagi dengan merapat kepada Oklahoma City Thunder.

Setelah satu musim bersama Thunder, dia lalu bergabung dengan Suns. Di sini, dia berkolaborasi dengan shooting guard Devin Booker dan memotivasi rekan-rekan satu timnya yang tak pernah merasakan atmosfer bermain pada babak playoff.

"Sejak lama saya mengagumi dia," kata Booker, yang 12 tahun lebih muda dari Paul. "Saya belajar begitu banyak dari dia tahun ini. Dia sungguh profesional sejati dalam semua level pada setiap masa."

"Saya sangat menghormati dia sebagai seorang pria, terlebih sebagai pemain bola basket, tahu pasti betapa besarnya dia menginginkan hal ini dan betapa lama waktu yang dia butuhkan untuk mencapainya, 16 tahun, itu lama sekali," lanjutnya.

Kekaguman yang sama diutarakan pelatih pertama Paul di NBA, Monty Williams. Williams melatih Paul saat masih bersama New Orleans Hornets yang pada 2013 berganti nama menjadi New Orleans Pelicans.

"Saya bahagia sekali demi Chris. Saya menyaksikan upaya yang dia curahkan dan perhatian serta air mata setelah pertandingan itu. Anda tak
menyangka dia bakal sampai di posisi ini," kata Wiliams.

Kini yang dilakukan Paul adalah menggapai tonggak lainnya, menjuarai NBA bersama Suns.

Jika Suns dan dia bisa mengalahkan Milwaukee Bucks atau Atlanta Hawks dalam Final NBA, beberapa hari nanti, karena Bucks dan Hawks masih bertarung memperebutkan satu jatah lagi ke Final NBA, Paul tidak akan senasib dengan Charles Barkley, Patrick Ewing, Karl Malone, dan Allen Iverson, yang semuanya adalah legenda NBA tetapi jari mereka tifak pernah disematkan cincin juara NBA. (Ant/OL-1)

Baca Juga

AFP/GEORG HOCHMUTH

Murray Singkirkan Hurkacz di Laga Pembuka di Wina

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 04:48 WIB
Murray sudah dua kali kalah dari Hurkacz pada tahun ini namun akhirnya sukses memutus rangkaian kekalahannya dari semifinalis Wimbledon...
MI/HARYANTO

Jurus Sekar Membuat Ganjar Bergidik

👤Haryanto 🕔Senin 25 Oktober 2021, 12:40 WIB
Sekar adalah atlet taekwondo belia. Ia meraih empat medali emas dalam waktu 20...
AFP/Clive Brunskill/Getty Images

Raducanu Masih Cari Pelatih yang Pas 

👤Rifaldi Putra Irianto 🕔Senin 25 Oktober 2021, 12:20 WIB
Raducanu membenarkan laporan bahwa dirinya telah menjalani uji coba latihan dengan sejumlah pelatih, termasuk mantan pelatih Johanna Konta,...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Bongkar Transaksi Narkoba Rp120 Triliun

Para anggota sindikat narkoba juga kerap memanfaatkan warga yang polos untuk membantu transaksi dari dalam ke luar negeri dan sebaliknya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya