Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

KOI Tunggu Keputusan IOC

Akmal Fauzi
21/4/2020 03:30
KOI Tunggu Keputusan IOC
Ketua Umum Komite KOlimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari(ANTARA)

KETUA Umum Komite KOlimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari mengatakan seruan vaksinasi korona (covid-19) untuk para atlet yang akan berlaga di Olimpiade 2020 belum dibahas negara anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC). Indonesia pun saat ini masih menunggu sikap IOC soal itu.

“Itu juga yang menjadi perhatian kami. Tentang vaksin tentu baru pasti kalau sudah resmi dirilis,” kata Raja Sapta kepada Media Indonesia, kemarin.

Sebelumnya, seruan pemberian vaksin covid-19 sebagai upaya realistis agar Olimpiade bisa berlangsung aman disampaikan profesor bidang kesehatan masyarakat global di University of Edinburgh, Skotlandia, Devi Sridhar.

Dia ragu Olimpiade bisa dihelat tahun depan karena vaksin virus korona belum ditemukan. Sridhar mengatakan pengembangan vaksin menjadi kunci penting dalam penyelenggaraan Olimpiade tahun depan. Sementara itu, vaksin, menurutnya, diketahui baru bisa didapat setelah dilakukan pengujian selama satu atau satu setengah tahun.

“Vaksin (virus korona) yang efektif, terjangkau, dan tersedia ini nantinya akan mengubah kondisi saat ini. Jika kita tidak dapat menemukan sebuah terobosan ilmiah, saya kira Olimpiade tampak sangat tidak realistis,” ujarnya.

Keraguan serupa juga sempat dilontarkan Ketua Penyelenggara Olimpiade 2020, Toshiro Muto. Ia menyangsikan pesta olahraga terakbar di dunia itu dapat terlaksana sesuai dengan jadwal. “Saya tidak berpikir ada orang yang bisa mengatakan apakah situasi akan terkendali pada Juli tahun depan,” kata Muto.

Sementara itu, Ketua Komisi Koordinasi IOC John Coates dalam konferensi pers, Kamis (17/4), mengakui pandemi korona masih dapat berdampak pada penyelenggaraan Olimpiade yang akan digelar di Jepang.

Kepastian digelarnya Olimpiade pada tahun depan, menurut Raja Sapta, tetap akan diputuskan IOC setelah melihat perkembangan terkini. Pastinya segala yang ditetapkan akan memprioritaskan keselamatan dan kesehatan atlet serta ofisial.

“Kami (KOI) tetap melihat juga perkembangan pandemi ini. Perkembangannya kan unpredictable. Jadi, kami juga harus menyesuaikan,” kata Raja Sapta.

Di tempat terpisah, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa mengatakan pihaknya yakin IOC tidak akan mengambil risiko terkait dengan keselamatan atlet yang akan berlaga di Olimpiade. Menurutnya, IOC dan pemerintah Jepang akan mengambil langkah untuk keselamatan para atlet.

“Saya yakin IOC dan Jepang tidak akan ambil risiko. Yang terpenting bagi kami keselamatan dan kesehatan atlet nomor satu,” kata Gatot.


Sepakat divaksin

Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Angkat, Binaraga, Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABBSI) sepakat dengan adanya dorongan agar atlet yang berlaga di Olimpiade diberi vaksin sebagai pencegahan covid-19.

“Realistis saja, kalau vaksin sudah ada, sudah terbukti, dan tidak ada efek doping dan halal, oke aja,” kata manajer tim angkat besi Indonesia Alamsyah Wijata saat dihubungi,
kemarin. 

Namun, pihaknya berharap ada kepastian ihwal wacana tersebut. Apalagi, sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah penyebaran covid-19.

Alamsyah mengatakan saat ini atlet PABBSI tetap menjalankan latihan di Kwini, Senen, Jakarta. Demi mencegah penularan, PABBSI menerapkan pembatasan kunjungan untuk para atlet.

Eko Yuli Irawan dkk tidak bisa keluar area latihan ataupun dikunjungi pihak keluarga. Alamsyah menekankan, kebijakan itu diharapkan bisa menjaga peak performance untuk berlaga di Olimpiade. Sejauh ini sudah ada tiga lifter Indonesia yang dipastikan lolos ke Olimpiade Tokyo, yakni Eko Yuli, Windy Cantika, dan Nurul Akmal. (Ant/R-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya