Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT berusia 10 tahun, Lloyd Harris duduk di Centre Court Wimbledon untuk menyaksikan sang idola, Roger Federer, bermain.
Dua belas tahun kemudian, ia menjadi lawan Federer di lapangan dan memberikan juara delapan kali Wimbledon tersebut kejutan besar sebelum akhirnya ia kalah di pertandingan putaran pertama 3-6, 6-1, 6-2, dan 6 -2 pada Selasa (2/7).
"Saya berusia 10 tahun dan itu pertama kalinya saya melihat pertandingan tenis pro," kenang Harris.
"Orangtua saya membawa kami ke Centre Court dan saya melihat Federer bermain melawan Marat Safin. Saya pikir sangat luar biasa melihat orang-orang ini bergerak dan melihat cara mereka bermain. Sekarang saya berdiri di sini, bermain dengannya, beberapa tahun kemudian," lanjutnya.
Safin, selalu menjadi favorit banyak orang. Namun bagi Harris, melihat petenis asal Swiss itu menang pada pertandingan babak keempat 2005 merupakan awal mula keputusannya untuk menjadi pemain tenis.
Baca juga: Meski Kalah di Set Pertama, Federer Melaju ke Putaran Kedua
"Federer selalu menjadi idola saya. Dia luar biasa dengan kemahirannya bermain dan menjadi panutan terbaik bagi para pemain," ungkap pemain yang kini berada di posisi 86 dunia dan melakukan debutnya di Wimbledon.
Meski kalah dan terganggu oleh cedera betis kiri, Harris akan selalu mengingat debutnya di Centre Court selama bertahun-tahun yang akan datang.
"Aku merinding ketika berjalan," katanya. "Kerumunan bersorak keras dan saya harus mengambil beberapa detik untuk menyerapnya."
Harris mengatakan reaksi terhadap pertandingannya menghadapi juara delapan kali Wimbledon sangat luar biasa baik sebelum dan sesudah pertandingan.
"Itu luar biasa. Saya tidak pernah mendapatkan begitu banyak pesan. Saya mendapat ribuan pesan dari orang yang saya kenal dan dari orang yang tidak saya kenal," pungkasnya. (AFP/OL-2)
Boris Becker baru berusia 17 tahun, tujuh bulan, dan 15 hari ketika ia mengalahkan Kevin Curren pada 1985, menjadikannya juara tunggal putra Wimbledon termuda sepanjang masa.
Swiatek mengalahkan Guo Hanyu, petenis dari babak kualifikasi, dengan skor meyakinkan 6-3, 6-1.
Sinner memilih untuk fokus ke pemulihan cedera yang didapatnya di Wimbledon 2025.
Juara Wimbledon 2025 Jannik Sinner memberikan hadiah berupa bola tenis bertanda tangan kepada Pangeran George dan Putri Charlotte.
Carlos Alcaraz mengaku kekalahannya atas Jannik Sinner di Wimbledon memotivasinya untuk terus berkembang.
Jannik Sinner berhasil mengukir sejarah di Wimbledon setelah menundukan rivalnya Carlos Alcaraz 4-6, 6-4, 6-4, 6-4.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved