Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH tonggak sejarah baru dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat (Jabar) tercipta. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar yang berkolaborasi dengan LPK Instudia sebagai mitra pelaksana, menyelenggarakan ujian bahasa Jerman tingkat A1 secara serentak bagi 350 peserta yang diadakan di Majalengka.
Angka ini mencatatkan rekor informal sebagai pelaksanaan ujian bahasa Jerman luring (offline) dengan peserta terbanyak dalam satu lokasi. Para peserta ini merupakan bagian dari program intensif yang diikuti oleh 325 peserta inti yang terpilih melalui seleksi ketat lebih dari 7.300 pendaftar di seluruh Jabar, ditambah dengan peserta cadangan untuk menjamin keberlanjutan program.
Kepala Disnakertrans Jabar, I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka kemarin menerangkan, pelatihan bahasa Jerman merupakan strategi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan global. Dalam hal ini khusus untuk menyambut peluang pasar kerja Jerman. Apalagi saat ini Jerman menghadapi krisis tenaga kerja yang signifikan.
"Untuk menjaga stabilitas ekonominya, Jerman membutuhkan setidaknya 400 ribu tenaga kerja asing setiap tahun. Angka ini menjadi peluang bagi Jabar untuk menjadi salah satu daerah yang mampu menyuplai berbagai sektor kebutuhan tenaga kerja di Jerman," papar Kim, sapaan I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka.
Menurut Kim, pada 2024 misalnya, terdapat sekitar 439 ribu lowongan pekerjaan di Jerman yang terdaftar secara resmi untuk tenaga kerja terampil dan spesialis. Lalu pada Februari 2026 Indonesia baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk menempatkan sekitar 4.000 tenaga kerja di berbagai sektor strategis. Sebagai provinsi dengan jumlah angkatan kerja tertinggi di Indonesia, ini tentu menjadi peluang strategis.
SEKTOR MENDESAK
Kim merinci sejumlah sektor yang membutuhkan tenaga kerja mendesak. Pada sektor kesehatan misalnya, Jerman sangat membutuhkan tenaga perawat (nursing) yang mendesak. Sektor hospitality dan perhotelan membutuhkan tenaga layanan pariwisata dan jasa. Adapun sektor teknologi informasi (TI), Jerman sangat membutuhkan spesialis IT dan pengembang perangkat lunak. Ini belum termasuk sektor industri, logistik, dan konstruksi.
"Untuk mendapat mengakses aneka sektor pekerjaan tersebut, calon tenaga kerja harus memenuhi tiga pilar utama. Yakni, kemampuan bahasa, pengakuan kualifikasi (penyetaraan ijazah), dan izin tinggal (visa). Dalam hal ini, penguasaan bahasa merupakan syarat mutlak bagi sebagian besar profesi dan jenis visa," terangnya.
Kim menambahkan, level minimal B1/B2 diperlukan untuk tenaga kesehatan (perawat), tenaga ahli (profesional) dan program pendidikan vokasi (Ausbildung). Level A1/A2 sendiri mencukupi untuk beberapa jenis pekerjaan teknis tertentu atau sebagai syarat awal pendaftaran program melalui agen penyalur, namun tetap perlu ditingkatkan setelah tiba di Jerman.
“Bahasa adalah kunci yang membuka pintu dunia. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan anak-anak muda Jawa Barat mempunyai kompetensi yang relevan sehingga siap bersaing di tingkat global,” tandasnya.
STANDAR INTERNASIONAL
Sementara itu, Direktur LPK Instudia Aceng Imam menyebut, program pelatihan yang telah dilaksanakan sejak 11 Februari 2026 lalu dan telah dibuka secara pada 18 Februari lalu oleh Kepala Disnakertrans Jabar. Pelatihan ini menggunakan metode hybrid learning. Peserta mendapatkan pelatihan intensif melalui gabungan pembelajaran daring (online) dan tatap muka (offline) yang dipadukan melalui learning management system (LMS) yang terstruktur untuk mencapai kompetensi level A1 hingga A2.
Untuk mengelola 350 peserta dalam satu waktu, LPK Instudia menerapkan sistem manajemen ujian yang presisi. Ujian tulis (Hören, Lesen, Schreiben) dilakukan secara serentak.
"Sedangkan untuk ujian lisan (Sprechen), LPK Instudia mengerahkan 13 tim penguji yang bekerja paralel di 13 kamar pengujian, untuk memastikan setiap peserta mendapatkan penilaian yang objektif dan sesuai standar internasional," jelasnya.
Ujian internal ini kata Aceng, dapat menjadi bekal untuk mengukur kompetensi nyata peserta sebelum mengikuti ujian sertifikasi internasional melalui lembaga resmi yang diakui pemerintah Jerman.
"Pengalaman kami selama 20 tahun mengelola pelatihan Bahasa Jerman menunjukkan bahwa ujian kami memikiki tingkat presisi yang tinggi. Mereka yang mendapatkan skor tinggi pada ujian internal terbukti memiliki skor yang tinggi pula pada saat ujian di lembaga yang ditujuk pemerintah Jerman,” imbuhnya.
Aceng menjelaskan, program ini dirancang khusus untuk mempersiapkan generasi muda Jabar menembus pasar kerja Jerman yang saat ini tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor. Melalui jalur Ausbildung maupun sektor profesional dan formal lainnya, para peserta kini selangkah lebih dekat menuju karier internasional.(E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved