Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Pakar UGM Peringatkan Dampak Kemarau Berkepanjangan terhadap Produksi Pertanian

Ardi Teristi Hardi
12/3/2026 13:47
Pakar UGM Peringatkan Dampak Kemarau Berkepanjangan terhadap Produksi Pertanian
Kondisi Waduk Perning yang mengering di Jatikalen, Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (26/9/2025).(Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau akan lebih lama, sekaligus memiliki intensitas hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata. Prediksi yang akan terjadi di bulan April ini tentu akan memengaruhi sektor pertanian yang bergantung dengan sumber daya air  baik dari air hujan maupun air irigasi.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, mengingatkan, dampak perubahan iklim, baik kemarau panjang maupun hujan ekstrem akan berpengaruh pada keberlangsungan usaha di sektor ini. 

“Kemarau yang panjang menyebabkan gagal tanam dan gagal panen, yang ujung-ujungnya tentunya akan menurunkan produksi pertanian,” ungkapnya dalam siaran pers, Selasa (10/3).

Untuk menghadapi musim kemarau yang lebih panjang sekaligus lebih kering ini, Bayu menilai pelaku di sektor pertanian perlu beradaptasi. Menurutnya, komunikasi yang lebih intensif antara petani dan penyuluh menjadi salah satu kunci dalam adaptasi dan mitigasi. 

Petani kadang kurang mendapatkan informasi terkait dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Oleh karena itu,  pendampingan yang intensif dari penyuluh diharapkan bisa mitigasi ancaman dampak gagal tanam dan gagal panen. 

“Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi kemarau yang panjang,” ungkapnya.

Informasi terkini dari BMKG, termasuk peringatan dini terkait kondisi ekstrem baik musim kemarau atau hujan yang panjang  bisa tersampaikan ke masyarakat hingga ke level paling bawah setingkat desa. 

“Supaya informasi cuaca yang diberikan lebih akurat dan presisi sampai level bawah,” jelasnya.

Menurut Bayu, selain mendapatkan informasi tentang cuaca yang akurat, penyuluh juga bisa memberikan masukan terkait dengan komoditas atau tanaman apa yang cocok ditanam dalam kondisi kemarau yang panjang.

Selain adaptasi musim, Bayu berpendapat peran peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian, mampu menciptakan berbagai inovasi-inovasi melalui hilirisasi varietas-varietas yang tahan terhadap kekeringan dan tidak membutuhkan air yang banyak tetapi tetap menghasilkan produktivitas panen yang tinggi. (AT/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya