Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
Jelang arus mudik Lebaran 2026, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-Daerah istimewa Yogyakarta, unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU), mengidentifikasi puluhan titik rawan kemacetan dan kecelakaan di ruas jalan wilayah tersebut. Kepala Bidang Preservasi I BBPJN Jateng-DIY Fajar Triawan mengatakan pihaknya telah memetakan sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas selama periode mudik.
"Total sebaran titik rawan kemacetan sebanyak 46 titik," ujar Fajar di posko mudik Klonengan, Brebes, Jawa Tengah, Kamis (12/3).
Selain titik rawan kemacetan, pihaknya juga mengidentifikasi sejumlah titik rawan bencana di ruas jalan nasional. Tercatat terdapat 23 titik rawan bencana di Jawa Tengah, yang terdiri dari 14 titik rawan banjir.
"Serta, sembilan titik rawan longsor," katanya.
Fajar menjelaskan, untuk kesiapan jalur Lebaran 2026, panjang jalan nasional di wilayah kerja BBPJN Jateng-DIY mencapai 1.888,69 kilometer (km) yang terbagi dalam 296 ruas jalan dengan rata-rata tingkat kemantapan jalan mencapai 94,20%. Kemudian, sebaran jalur Lebaran terdiri dari beberapa lintas, salah satunya lintas utara. Untuk mendukung kelancaran arus mudik, BBPJN juga menyiapkan berbagai peralatan pendukung Disaster Relief Unit (DRU) yang ditempatkan di sejumlah titik.
"Yakni, di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pekalongan, UPT Karangjati Yogyakarta, UPT Buntu," katanya.
Terkait pekerjaan konstruksi yang tengah berjalan pada periode 2026 hingga 2027, Fajar menegaskan pihaknya telah menghentikan sementara seluruh pekerjaan konstruksi menjelang arus mudik pada H-10 Lebaran atau Rabu (11/3).
"Namun, untuk pekerjaan preservasi jalan apabila terdapat lubang jalan, kami tetap lakukan penanganan. Jadi ada beberapa titik memang, tapi kami sudah berhenti di tanggal H-10 pekerjaan konstruksinya," tegasnya.
Selain itu, BBPJN Jateng-DIY juga mendirikan 18 posko mudik yang tersebar di semua ruas jalur jalan nasional. Lokasi Jawa Tengah tadi terdiri dari 18 Posko.
"Kemudian di Daerah Istimewa Yogyakarta didirikan lima posko sesuai dengan ruas dari manajer ruas masing-masing di ruas jalan nasional tersebut," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satuan Kerja PJN 1 Provinsi Jawa Tengah M Syidik Hidayat menuturkan bahwa di Jawa Tengah terdapat tiga satuan kerja (satker) yang masing-masing menangani wilayah yang cukup luas.
Untuk wilayah PJN 1, cakupannya meliputi Losari hingga Semarang, Tegal dan Slawi ke arah selatan sampai Wangon, serta Wangon ke arah Majenang hingga perbatasan Jawa Barat.
"Total panjang jalan yang menjadi tanggung jawab Pajen 1 adalah 462 kilometer," katanya.
Ia menjelaskan, saat ini pihaknya berada di persimpangan Dermojaya yang lebih dikenal masyarakat sebagai lokasi Flyover Klonengan. Titik tersebut dinilai sangat krusial karena menjadi arus utama bagi pemudik dari Jakarta menuju wilayah selatan Jawa Tengah. Lokasi ini menjadi jalur penghubung pemudik menuju sejumlah kota seperti Cilacap, Purwokerto, Banyumas, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta.
"Selain jalur ini, pemudik menuju Yogyakarta juga bisa melalui Pemalang, Semarang, atau menggunakan jalur tol," sambungnya.
Ia menambahkan, panjang total ruas jalan tersebut sekitar 135,5 kilometer. Saat ini terdapat empat kegiatan utama yang sedang atau akan dilaksanakan. Salah satunya adalah perbaikan di kawasan Dermojaya, tepatnya di lokasi flyover yang kini telah diperlebar dan dilengkapi dengan saluran irigasi. Total panjang penanganan mencapai 9 kilometer dan ditargetkan rampung pada Maret 2027.
Selain itu, penanganan juga dilakukan pada ruas Tegal-Slawi-Dermojayan-Wangon yang tersebar di sisi timur dengan total target sepanjang 24 kilometer. Pekerjaan lain juga dilakukan di wilayah Balapulang-Kemantran yang meskipun berada di luar jalur utama, namun berfungsi sebagai dukungan bagi jalan daerah. Di luar proyek-proyek tersebut, kegiatan rutin juga tetap dilakukan, seperti pemeliharaan kondisi jalan, penambalan lubang (patching), serta pembersihan drainase.
Untuk pengaturan lalu lintas selama periode mudik dan arus balik Lebaran, pihaknya juga menyiapkan skema rekayasa lalu lintas mengingat jalur tersebut hanya memiliki dua lajur.
"Untuk Rekayasa Lalu Lintas Karena jalur saat ini hanya terdiri dari dua lajur, biasanya diberlakukan sistem one way (satu arah) saat masa mudik (jakarta ke selatan) dan masa balik (selatan ke utara)," pungkasnya. (E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved