Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

SBM ITB Kembangkan Model Pemberdayaan Kewirausahaan Desa Berbasis Ekonomi Sirkular

Naviandri
10/3/2026 21:31
SBM ITB Kembangkan Model Pemberdayaan Kewirausahaan Desa Berbasis Ekonomi Sirkular
SBM ITB dalam mendorong pemberdayaan ekonomi desa berbasis potensi lokal dengan pendekatan ekonomi sirkular.(Dok.SBMITB)

SEKOLAH Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB melalui Program Pengabdian Masyarakat 3T 2026 menggelar kegiatan bertajuk “Model Pemberdayaan Kewirausahaan Desa Berbasis Ekonomi Sirkular: Produksi Arang Kelapa dengan Teknologi Tepat Guna” di Desa Adabai, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. 

Program yang berlangsung selama beberapa bulan menjadi bagian dari upaya SBM ITB dalam mendorong pemberdayaan ekonomi desa berbasis potensi lokal dengan pendekatan ekonomi sirkular. Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahapan utama, yakni pelatihan dan workshop serta praktik produksi pengolahan arang dari batok kelapa.

Ketua tim pengabdian masyarakat, Evy Rachmawati Chaldun, dosen SBM ITB, kemarin menerangkan Desa Adabai memiliki potensi kelapa yang melimpah, namun belum sepenuhnya dioptimalkan dalam rantai nilai ekonomi.

“Kami ingin mendorong masyarakat tidak hanya menjual kelapa dalam bentuk mentah, tetapi mengolah limbah tempurungnya menjadi arang bernilai ekonomi. Ini bukan sekadar produksi, tetapi membangun model usaha desa yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Kegiatan difokuskan pada workshop kewirausahaan dan penguatan kapasitas manajemen usaha. Sesi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi.

R.A. Aisah Asnawi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura memberikan perspektif mengenai pengembangan kewirausahaan berbasis potensi lokal Maluku. Ia menekankan pentingnya membentuk kelompok usaha agar dapat melakukan tata kelola yang lebih terstruktur dalam menjalankan usaha arang kelapa, sebagai fondasi keberlanjutan usaha bersama.

"Keberhasilan usaha desa tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada sistem kerja tim yang solid," terangnya.

Listiyah, memberikan pelatihan terkait proses pembakaran arang kelapa, mulai dari memilih tempurung yang baik hingga menghasilkan arang kelapa yang berkualitas. 

Selanjutnya, materi manajemen produksi arang kelapa disampaikan langsung oleh Evy Rachmawati Chaldun yang memaparkan aspek teknis produksi, efisiensi proses pembakaran, serta pentingnya menjaga standar kualitas agar produk dapat bersaing di pasar yang lebih luas.

Menurut  Evy, pendekatan praktik ini penting agar masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengimplementasikan proses produksi secara mandiri. “Pendampingan langsung ini bertujuan agar masyarakat benar-benar percaya diri memulai usaha. Model ini dirancang sederhana, murah, dan bisa direplikasi,” tuturnya.

Sementara itu, Desy Kharohmayani, membahas pengelolaan keuangan usaha serta penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam model bisnis arang kelapa. Ia menjelaskan bagaimana limbah dapat diolah kembali menjadi sumber pendapatan dan bagaimana melakukan pencatatan keuangannya. 

Kegiatan workshop yang dilaksanakan pada 6 Februari 2026 lalu berlangsung interaktif dengan diskusi aktif antara peserta dan narasumber. Masyarakat desa, tokoh pemuda, serta pelaku usaha lokal menunjukkan antusiasme tinggi terhadap materi yang dinilai relevan dengan kebutuhan ekonomi setempat.

Dalam kegiatan ini, disamping dosen terdapat mahasiswa S1 & S2 SBM ITB yang diikutsertakan dalam seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini.

PRAKTIK PRODUKSI ARANG KELAPA
Kegiatan berlanjut dengan praktik langsung produksi arang kelapa menggunakan teknologi tepat guna. Masyarakat diajak memahami proses pembakaran tempurung kelapa menggunakan drum modifikasi sebagai alat produksi sederhana namun efektif. Asap putih yang mengepul dari drum pembakaran menjadi gambaran nyata proses transformasi limbah tempurung kelapa menjadi arang bernilai ekonomi.

Tim pengabdian mendampingi warga dalam setiap tahap, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik penyusunan tempurung dalam drum, pengaturan sirkulasi udara, hingga proses pendinginan arang agar kualitasnya tetap terjaga.

EKONOMI SIRKULAR DESA
Konsep ekonomi sirkular menjadi inti dari program ini. Limbah tempurung kelapa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini diolah menjadi arang. Ke depan, produk tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi briket arang atau produk turunan lainnya dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi limbah. Selain itu, model usaha berbasis kelompok mendorong kolaborasi antar warga serta memperkuat struktur ekonomi desa.

Program ini merupakan bagian dari rangkaian Program Pengabdian Masyarakat 3T 2026 yang dilaksanakan pada periode Januari–April 2026 di Desa Adabai. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa, ITB berharap model pemberdayaan ini dapat menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi di wilayah 3T lainnya.(E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya