Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Masjid Kuno di Pedalaman Pidie, Perekat Religi Para Pemuda Meriahkan Ramadan

Amiruddin Abdullah Reubee
28/2/2026 21:32
Masjid Kuno di Pedalaman Pidie, Perekat Religi Para Pemuda Meriahkan Ramadan
Warga berbuka puasa di Masjid kuno berusia 300 tahun Kemukiman Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

 

"BARANG siapa melaksanakan salat pada bulan Ramadan dengan penuh keikhlasan dan keimanan, serta mengharapkan ridha Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa nya yang telah lalu, " (Hadist Riwayat Bukhari). 

Hadist itulah diantara yang diamalkan umat muslim dalam mengisi hari-hari di bulan Suci Ramadan. Mengapa tidak, di berbagai mesjid, musallah, tempat pengajian dan lainnya penuh aktivitas beribadah dan meminta pengampunan. 

Di Mesjid Kuno, Desa Padang, Kemukiman Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Provinsi Acen misalnya, setiap malam warga ramai memeriahkan suasana bulan Ramadan. Mulai ngabuburit menjelang berbuka hingga salat tarawih dan bertadarus Al-Quran serta menjelang waktu sahur. 

Menariknya, masjid kuno atau yang akrab disebut Masjid Tuha (Masjid Tua) selalu diramaikan anak muda setempat dan sekitarnya. Mereka kompak melakukan berbagai keperluan untuk aktivitas menghidupkan Ramadan. 

Mulai dari membersihkan lingkungan, mengisi air kulah untuk wudhu, membersihkan bagian dalam untuk persiapan salat magrib dan tarawih hingga tadarus Al-Quran sampai menjelang sahur. Ada juga yang meramaikan masjid dengan berbuka bersama seiring menikmati indahnya sunset (matahari terbenam) menyentuh bibir sawah nanluas. 

"Zaman dulu cikal bakal masjid ini dibangun berkonstruksi kayu. Bentuk bangunannya ada 8 tiang penyangga dan luas 8x8 meter. Tahun 1971 dibangun masjid baru berjarak sekitar 200 meter sebelah timur. 

Lalu bangunan lama masjid tua ini sempat tidak berfungsi puluhan tahun. Untuk menghidupkan kembali lokasi masjid kuno, warga membangun kembali permanen berkontruksi beton bersegi 8 dengan kapasitas sekitar 50 orang jemaah. Insya Allah pada 20 Januari 2020 M menjelma kokoh dan siap digunakan," tutur Ir Musallamina, Kordinator Pembangunan Masjid Kono Mangki, Kepada Media Indonesia, Sabtu (28/2). 

Masjid ini didesain cukup mewah bak istana mungil yang dihias lampu khas Maroko. Berlantai keramik, bagian dalam dilapisi ambal atau permadani produk Turki. 

Suasana sejuk oleh dinginnya AC dan dikelingingi hutan pepohonan rimbun sekitarnya, membuat jemaah tarawih tidak terasa telah menunaikan salat 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat itu. 

"Keindahan ini demi kenyamanan jemaah. Banyak Aksesoris bagian dalam kita pesan produk Timur Tengah yaitu khas Turki dan Maroko. Banyak anak-muda tertarik bergabung berjemaah, hingga merekatkan mereka," kata Musallamina, Insinyur Teknik Sipil yang mendesain sendiri bangunan unik nan indah itu. 

Keberadaan Masjid Tuhan ini di kelilingi hutan rimbun pedesaan berjarak sekitar 200 meter dari selah barat permukiman warga. Di bagian barat mesjid berkonstruksi beton minimalis ini persis terbentang sawah nan luas sejauh mata memandang tak ubah permadani produk Turki. 

Diantara batas masjid dan sawah dilintasi oleh saluran irigasi nan jernih dan bening. Bila di lihat dari tengah sawah tempat ibadah bercat putih polos itu bak istana mungil itu. Terpencar warna cat putih seolah wujud sang putri muslimah berbalut mukena berdiri di ujung kampung ingin menyeberangi hamparan sawah. 

Untuk menuju tempat ibadah yang berkapasitas jemaah shalat sekitar 50 orang itu bisa masuk dari sebelah selatan tembus keluar ke utara dengan menelusuri lurong selebar 2,5 meter. Lokasinya di perkampungan pedalaman sekitar 3 km (kilometer) sebelah selatan pesisir pantai Salat Malaka, 7 km sebelah timur Kota Sigli Ibukota Kabupaten Pidie atau sekitar 130 km arah timur Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, cikal bakal Masjid Tuha ini konon dibangun sekitar abad ke 16 atau 17 masehin. Sengaja dibangun jauh dari permukiman warga agar tidak terdeteksi dari serangan musuh Portugis hingga penjajah kolonial Belanda ketika menyerang perkampungan untuk mencari keberadaan tokoh pejuang Aceh. 

Menurut penuturan warga sekitar, setelah dibangun masjid baru 200 meter sebelah timur lokasi tersebut, cikal bakal masjid tuha (masjid kuno) yang sudah usang berkontrosi kayu kala tersebut tidak difungsikan lagi sampai puluhan tahun. Sering ditengah malam sunyi terdengan sayup-sayup seperti suara orang berzikir dan bertahmid. 

Itu ditenggarai karena pada zaman dahulu, di lokasi cikal bakal masjid kuno tersebut sering dijadikan tempat orang berzikir suluk memuji Ilahi setiap datang Ramadan. Berkat pemugaran kembali berkontruksi beton dengan penampilan mewah dan gemerlapnya lampu hias, kesan angker tempo dulu itupun sirna ditelan zaman. 

"Disini dulu ramai orang melaksanakan ibadah suluk. Mereka mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa terhapus dari segala dosa," jelas Usman, 76, tetua kemukiman Mangki, Kecamatan Simpang Tiga. 

Sekarang areal masjid kuno seluas sekitar 50x30 meter itupun sangat cocok dan bagus dijadikan lokasi wisata religi. Suatu hal paling menarik setiap bulan Ramadan, tidak sedikit warga, diaspora di perantauan dan beberapa pejabat eksekutif atau legislatif sering berdonasi kenduri berbuka puasa di masjid molek nan cantik tersebut. 

Setiap pekan tidak sepi donatur menyedekahkan biaya untuk kenduri sekalian kambing sebagai lauk kari rempah khas Aceh. Ada yang kenduri hidangan nasi beriayani khas India, ada juga menu lainnya.

Donatur sering menyerahkan uang lalu dibelanjakan dan dimasak oleh panitia pelaksana kolaborasi pemuda bersama orang dewasa. Ratusan undangan dan warga sekitar berdatangan menikmati buka bersama duduk lesehan pada pelataran masjid yang disinari mata hari terbenam di ufuk barat. 

Sesuai penuturan warga sekitar Masjid Kuno aset religi masyarakat 10 desa yang cikal bakalnya sekitar abad ke-17 M itu hanya aktif digunakan dan ramai setiap datang Ramadan. Tidak ada pelaksanaan Salat Jumat di lokasi setempat. Kecuali orang salat mandiri atau petani berteduh menghilangkan penat setelah bangkit dari aktivitas bekerja di sawah mereka. 

Sedangkan pelaksanaan Salat Jumat, Salat Idul Fitri, Idu Adha dan aktivitas hari besar lainnya berlangsung di Masjid Baru Desa Padang. Apalagi kondisi masjid baru 200 meter sebelah timur itu cukup luas, muat utuk jemaah 10 desa kemukiman Mangki dan dekat dengan jalan raya Simpang Tiga-Lampoih Sakat. (H-1) 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya