Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Meunasah Darurat di Pidie Jaya Dibangun di Atas Lumpur 2,5 Meter

 Gana Buana
08/2/2026 15:49
Meunasah Darurat di Pidie Jaya Dibangun di Atas Lumpur 2,5 Meter
Meunasah darurat kini mulai berdiri di Desa Manyang Cut, Kabupaten Pidie Jaya.(Dok. Amir MR)

DI tengah puing dan lumpur tebal sisa banjir bandang, sebuah meunasah darurat kini mulai berdiri di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Tempat ibadah sementara itu dibangun langsung di atas timbunan lumpur setinggi 2 hingga 2,5 meter yang mengeras, menjadi simbol ketahanan warga setelah bencana besar akhir November 2025.

Ketua Posko Darurat Kebencanaan Desa Manyang Cut, Teuku Nazarudin, menyebut kondisi lumpur yang menumpuk membuat pembersihan mustahil dilakukan.

“Meunasah ini dibangun langsung di atas lumpur yang sudah mengeras. Ketebalannya mencapai 2 sampai 2,5 meter dan sudah tidak mungkin dikeruk lagi,” ujarnya dilansir dari Antara, Minggu (8/2).

Rumah Ibadah Terkubur, Solusi Dibangun di Atas Lumpur

Desa Manyang Cut menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang. Sungai Meureudu yang meluap membawa material kayu dan lumpur, menimbun permukiman termasuk Meunasah Krueng Baroh yang hingga kini masih terkubur.

Upaya warga dan relawan sempat dilakukan untuk membersihkan lumpur di meunasah lama. Namun, setiap hujan turun, air kembali masuk karena posisi bangunan kini sejajar dengan permukaan sungai.

Dalam situasi itu, kebutuhan tempat ibadah menjadi mendesak. Kementerian Agama bersama Baznas akhirnya membangun meunasah darurat sebagai langkah cepat pemulihan sosial-keagamaan warga.

Meunasah darurat tersebut memiliki ukuran 14x10 meter dengan rangka baja, lantai panggung, serta dinding semipermanen setinggi 1,2 meter. Pembangunannya melibatkan warga setempat dan sudah berjalan tiga minggu.

Saat ini, pengerjaan baru memasuki tahap pemasangan atap.

“Targetnya selesai sebelum Ramadhan. Tapi warga sudah sempat memakainya saat malam Nisfu Syaban, meski belum ada lampu dan kami shalat di tanah,” kata Nazarudin.

Selain meunasah, pemerintah juga membangun fasilitas pendukung seperti sumur bor dari Kementerian ESDM dan toilet bantuan perusahaan konstruksi BUMN.

98 Persen Masjid Terdampak Sudah Berfungsi

Sementara itu, Kanwil Kementerian Agama Aceh mencatat hampir seluruh masjid dan mushala terdampak bencana di Aceh sudah kembali digunakan, meski banyak dalam kondisi belum layak sepenuhnya.

“Sudah 98 persen masjid dan mushala yang terdampak kembali berfungsi, tetapi masih dalam kondisi darurat,” kata Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari.

Kemenag RI juga menyiapkan bantuan renovasi untuk rumah ibadah rusak, dengan alokasi Rp50 juta per masjid dan Rp30 juta per mushala. Namun bantuan tersebut tidak mencakup bangunan yang sudah tidak bisa digunakan sama sekali.

“Harapan kita, masjid dan mushala ini kembali bersih dan berfungsi dengan baik, apalagi sebentar lagi memasuki Ramadhan,” ujar Azhari. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya