Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
HARAPAN baru mulai tumbuh di tengah warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Setelah hampir dua bulan bertahan di pengungsian akibat bencana pergerakan tanah pada 25 November 2025, sebanyak 186 kepala keluarga (KK) kini resmi menempati Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun pemerintah dan diresmikan pada Kamis (5/2 ) di Kelurahan Simarpinggan.
Peresmian dihadiri Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Kepala BNPB Suharyanto, Gubernur Sumtera Utara Bobby Afif Nasution, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu, Anggota DPRD Sumut Dapil 7 Abdul Rahim Siregar, serta unsur Forkopimda wilayah Tapanuli Bagian Selatan.
Bagi warga Tandihat, Huntara bukan sekadar tempat tinggal sementara, melainkan titik awal untuk kembali menata kehidupan setelah kampung halaman mereka rusak dan dinyatakan tidak aman akibat bencana.
Rosanna Sihombing (30), salah seorang warga kepada wartawan mengaku rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah serta seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan Huntara pascabencana.
“Syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada pemerintah. Sekarang kami sudah mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak,” ujar Rosanna.
Menurutnya, seluruh warga terdampak telah mulai menempati Huntara sejak sepekan terakhir. Tidak ada lagi warga yang bertahan di posko pengungsian.
Nada syukur serupa disampaikan Wati (59). Meski harus menyesuaikan diri dengan jarak Huntara dengan kebun miliknya yang memiliki jarak tempuh hingga sekitar 30 menit berjalan kaki.
Perempuan yang kini hidup seorang diri setelah ditinggal suaminya itu mengaku berusaha tetap tegar.
Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendampingi dan membantu masyarakat sejak masa tanggap darurat hingga pembangunan Huntara.
“Atas nama pemerintah desa dan masyarakat Tandihat, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten, dan Kecamatan atas seluruh perhatian dan bantuan yang diberikan,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Sumatra Utara Dapil 7 Abdul Rahim Siregar menilai pembangunan Huntara telah meringankan beban warga terdampak bencana. Namun, ia menegaskan bahwa Huntara bukanlah solusi akhir.
“Harapan kita, masyarakat tidak terlalu lama tinggal di Huntara. Mereka tentu membutuhkan hunian tetap (Huntap) yang aman, layak, dan berkelanjutan,” katanya.
Peresmian Huntara tersebut dirangkai dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW serta penyambutan Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah. (JH)
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat.
Pembangunan huntara dilakukan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatra. Rinciannya, sebanyak 16.282 unit huntara dibangun di Aceh, 947 unit di Sumatra Utara, dan 618 unit di Sumatra Barat.
Bima Arya menyatakan, pemerintah pusat dan daerah akan memastikan perencanaan penanganan pascabencana dilakukan secara sistemik bersama Bupati Bandung Barat.
Kepala BNPB memastikan setiap kepala keluarga yang kehilangan rumah akan memperoleh satu unit hunian, meski sebelumnya tinggal bersama dalam satu rumah.
WARGA terdampak banjir di wilayah pedalaman Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, hingga kini masih membutuhkan kejelasan terkait tempat tinggal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved