Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA kali gempa bumi dirasakan oleh masyarakat yang tinggal terutama di Jawa Bagian Selatan, Selasa (27/1). Gempa pertama terjadi pada pukul 08.20 WIB dengan magnitudo 5,7, pusat gempa sekitar 24 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur, pada kedalaman 122 kilometer.
Lalu pada pukul 13.15 WIB gempa bumi kembali terjadi dengan magnitudo 4,4 dengan pusat gempa berada di timur laut Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pusat gempa tersebut tergolong dangkal, sehingga getarannya dapat dirasakan secara jelas oleh masyarakat.
Gempa kedua ini diikuti 22 gempa lainnya yang lebih kecil. Pakar Gempa dari Teknik Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan gempa bumi yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur, dapat dikategorikan sebagai gempa intraslab karena sumber gempa berasal dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi atau dikenal sebagai slab.
“Deformasi terjadi apabila lempeng terus didorong ke dalam, sehingga lempeng dapat terus berubah bentuk dan bergeser. Perubahan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan terjadinya gempa bumi,” jelasnya, Rabu (28/1).
Soal kekuatan magnitudo dan karakter pada sumber gempa yang berbeda dari kedua kejadian tersebut menimbulkan adanya perbedaan efek yang dapat dengan jelas dirasakan oleh masyarakat.
Gempa yang terjadi pada pagi hari, ujarnyaz cenderung terasa seperti gerakan mengayun, sedangkan gempa berikutnya terasa seperti sentakan.
“Perbedaan efek yang dirasakan masyarakat dipengaruhi oleh lokasi terjadinya gempa. Kekuatan magnitude yang besar dan pergerakannya yang vertikal membuat gelombangnya naik ke atas, sehingga dampaknya meluas,” ungkapnya.
Sedangkan gempa kedua di DIY menurut Gayatri terjadi di zona sesar aktif, Sesar Opak. Meski sumber pusat gempa berbeda. ada kemungkinan gempa kedua terjadi akibat adanya pasokan tekanan yang diberikan oleh gempa pertama.
“Tekanan tersebut yang membuat lempeng tidak stabil dan bergerak sehingga gempa dapat terjadi,” jelasnya.
Meski demikian, kata Gayatri, kejadian kedua gempa tidak berpotensi memunculkan tsunami.
“Kekuatan magnitudo gempa tidak terlalu besar, sehingga jangan terlalu khawatir,” pesannya.
Adanya dua peristiwa gempa bumi yang terjadi secara tiba-tiba dalam hari yang sama, tentunya membuat masyarakat merasa cemas dan khawatir. Mengingat kedua gempa memberikan efek getaran yang cukup jelas dirasakan oleh masyarakat sekitar lokasi terdampak gempa bumi.
"Masyarakat memang harus selalu waspada dengan adanya gempa ini. Kejadian gempa pada hari ini dapat dijadikan pengingat bahwa kita berada di area tektonik aktif. Sehingga, masyarakat harus siap siaga dalam merespons gempa bumi ini,” katanya. (AU/E-4)
BMKG memastikan rangkaian gempa tersebut tidak berpotensi tsunami dan hingga saat ini belum ada laporan kerusakan akibat gempa maupun gempa susulan.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Pastikan untuk memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.
Secara geografis wilayah Pacitan berhadapan langsung dengan megathrust Jawa. Gempa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi struktural bagi masyarakat di pesisir selatan.
Menurut BPBD, korban meninggal dunia merupakan warga Pacitan yang tertimpa reruntuhan dinding saat gempa terjadi.
GEMPA yang terjadi di wilayah Pacitan pada dini hari ini dipastikan merupakan gempa jenis megathrust.
SEBANYAK 15 rumah warga di Pacitan, Jawa Timur, mengalami rusak parah akibat Gempa Pacitan yang berkekuatan 6,4 magnitudo. Gempa tersebut mengguncang wilayah Pacitan dini hari.
Mengapa Pacitan sering gempa? Temukan jawabannya dari sisi geologi, mulai dari ancaman Megathrust hingga aktifnya Sesar Grindulu di daratan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved