Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mengubah Seremonial Mangrove Menjadi Aksi Nyata Berkelanjutan

Basuki Eka Purnama
08/1/2026 21:09
Mengubah Seremonial Mangrove Menjadi Aksi Nyata Berkelanjutan
Kolaborasi antara UPN Veteran Jawa Timur dan Pemerintah Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek terkait mangrove. (MI/HO)

UPAYA pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) memerlukan aksi nyata yang melampaui sekadar seremonial. Hal inilah yang mendasari kolaborasi antara UPN Veteran Jawa Timur dan Pemerintah Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek

Melalui riset lapangan dan pengabdian masyarakat berbasis ekosistem mangrove, kolaborasi ini fokus pada integrasi pertumbuhan ekonomi (SDG 8), aksi perubahan iklim (SDG 13), dan pelestarian ekosistem darat (SDG 15).

Program ini melibatkan lima sukarelawan muda yang direkrut secara terbuka melalui media sosial dengan dukungan Yayasan Mangrove Indonesia Lestari dan Yayasan Abyakta Acitya Bhumi (Akta Bumi). 

Selama masa tugas, para sukarelawan difasilitasi untuk memetakan ekosistem serta memahami dinamika sosial yang bekerja di Desa Wonocoyo.

Kegiatan di lapangan dirancang secara komprehensif. Dimulai dengan observasi di kawasan konservasi penyu Pantai Kili-Kili, tim kemudian melakukan penanaman 700 bibit mangrove bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek. 

Tidak hanya aktivitas fisik, tim peneliti juga menggali data melalui wawancara mendalam dengan pemilik lahan, pengelola budidaya, Pokmaswas, pemerintah desa, hingga tokoh pemuda. 

Mereka juga berkesempatan mempelajari potensi ekonomi lokal melalui proses pembuatan sirup dari buah bogem (Sonneratia caseolaris).

Praja Firdaus, salah satu inisiator program, menekankan pentingnya pendekatan social capture dalam pemetaan ini. Ia mengkritisi tren penanaman mangrove yang seringkali hanya mengejar eksposur digital.

“Program ini sebenarnya berusaha melakukan social capture untuk memudahkan pemetaan ekosistem mangrove yang ada di Desa Wonocoyo. Mapping ini penting karena kami tidak ingin gerakan budidaya mangrove ini hanya sekedar selebrasi dan seremonial saja. Kita bisa lihat bahwa sering sekali gerakan penanaman mangrove hanya sekedar untuk pemenuhan kepentingan eksposur dan traffic saja. Hal tersebut berbahaya karena masyarakat kita akan dididik hanya untuk merayakan saja tanpa melakukan rawat dan ruwat,” papar Praja.

Salah satu temuan krusial tim adalah ancaman sampah kiriman dari hulu sungai saat curah hujan tinggi. Masalah ini menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan bibit baru. 

Menanggapi temuan tersebut, masyarakat Wonocoyo melakukan adaptasi cerdas: beralih dari penggunaan bibit luar kota ke pemanfaatan bibit alami yang jatuh langsung di ekosistem setempat. 

Langkah ini tidak hanya meningkatkan peluang hidup tanaman karena adaptasi lingkungan yang lebih baik, tetapi juga menekan biaya transportasi sehingga anggaran dapat dialokasikan untuk pembersihan sampah di area tanam.

Sekretaris Desa Wonocoyo, Eko Margono, mengapresiasi inisiatif ini sebagai fondasi pengembangan desa kedepannya. 

“Program ini merupakan perkenalan dan inisiatif yang sangat bagus. Wonocoyo sendiri baru saja menerima penghargaan Juara II Nasional sebagai Desa Wisata Berbasis Atraksi Alam oleh Kementerian Pariwisata RI. Sehingga dengan adanya penelitian lapangan berbasis ekosistem mangrove ini bisa dijadikan rujukan pengembangan ekosistem mangrove Wonocoyo nanti kedepannya,” tuturnya.

Melalui pelibatan pemangku kepentingan yang berlapis, program berbasis komunitas ini diharapkan mampu melahirkan gagasan lintas bidang yang efektif dalam merespon perubahan iklim secara terukur. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya