Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Phonska Plus Jadi Penyelamat Petani Kentang di Kawasan Dieng

Lilik Darmawan
31/12/2025 16:10
Phonska Plus Jadi Penyelamat Petani Kentang di Kawasan Dieng
Petani kentang tengah panen di kawasan Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah.(MI/Lilik Darmawan)

SUKUR, 45, seorang petani kentang di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, lemas. Ia mendengar kabar yang memicu rasa marah, kesal, sedih, dan protes bercampur baur menjadi satu.

“Bagaimana tidak marah dan protes, tiba-tiba saja kami tidak boleh membeli pupuk bersubsidi. Kami harus mengeluarkan ongkos lebih banyak untuk memupuk tanaman kentang. Bukan hanya saya saja yang protes, melainkan ribuan petani lainnya juga mengalami hal yang sama, terutama di kawasan Dieng di perbatasan antara Banjarnegara dan Wonosobo,” ungkap Sukur saat berbincang dengan Media Indonesia pada Rabu (24/12).

Protes petani kentang tersebut terkait dengan beleid pemerintah pada tahun 2022 silam. Kentang dikeluarkan dari komoditas pangan yang mendapat jatah pupuk subsidi. Melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian, para petani kentang tidak lagi menjadi penerima pupuk bersubsidi. Sementara itu, komoditas yang masih berhak mendapat pupuk subsidi adalah padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, dan kakao.

Bagi Sukur dan ribuan petani lainnya, respons awal tentu adalah protes. Mereka merasa dianaktirikan dengan kebijakan tersebut. Bahkan, sebagai bentuk ekspresi, berbagai macam protes telah dilakukan. “Kami sudah melayangkan protes, tetapi memang sudah menjadi keputusan pemerintah. Mau tidak mau, kami harus berusaha agar tanaman kentang tetap bisa dipupuk,” katanya.

Coba Pupuk Lain

Awalnya, Sukur mencoba-coba menggunakan pupuk nonsubsidi sebagai pengganti pupuk subsidi. 

“Sebelum ada aturan baru dari Kementerian Pertanian, saya menggunakan pupuk Phonska subsidi dan urea. Biasanya saya campur, misalnya dua kantong Phonska dan satu urea untuk lahan kisaran 3.000 meter persegi (m²). Namun sekarang, kebutuhan saya hanya satu sak Phonska Plus dengan berat 25 kilogram. Saya biasanya membeli seharga Rp250 ribu untuk kebutuhan pemupukan,” jelas Sukur.

Cerita yang sebelumnya membuat Sukur marah berubah menjadi rasa syukur. Ia mengaku tidak akan mengetahui bahwa Phonska Plus ternyata sama hematnya dengan penggunaan pupuk subsidi. 

“Harganya memang berbeda jauh karena pupuk yang saya pakai nonsubsidi. Namun, saya jadi lebih efisien dan bijak dalam pemupukan. Jika dihitung antara ongkos produksi dan hasil kentang, masih tetap menguntungkan. Untuk hasil setiap 3.000 meter persegi berkisar antara 2,5 ton hingga 3 ton. Harga kentang berkisar Rp10 ribu,” ujar Sukur.

Jika dibandingkan dengan sebelumnya, perolehan pendapatan petani kentang di Dieng hampir sama. 

“Ternyata setelah dijalani, tetap bisa berjalan. Petani juga tidak mengalami kerugian meski harus mengonsumsi pupuk nonsubsidi karena Phonska Plus memang sangat baik untuk tanaman dan lebih hemat,” tambahnya.

Sementara itu, petani kentang lainnya, Slamet Budiono, 57, mengakui bahwa ketika terjadi pencabutan subsidi pupuk bagi petani kentang, ia masih menjabat sebagai kepala desa. 

“Tentu saja banyak petani yang mempertanyakan, mengapa bisa seperti itu, kenapa petani kentang tidak boleh lagi membeli pupuk subsidi, dan berbagai pertanyaan lainnya. Saya berada dalam situasi sulit. Di satu sisi, saya harus memperjuangkan aspirasi petani kentang. Namun di sisi lain, saya juga bagian dari pemerintah yang harus melaksanakan kebijakan. Oleh karena itu, pelan-pelan saya meminta petani untuk mengerti. Saya juga harus memberikan contoh dengan membeli pupuk Phonska Plus sebagai pengganti urea dan Phonska,” jelas Slamet.

Menurutnya, dari sekitar 7.000 meter persegi lahan kentang miliknya, cukup menggunakan tiga kantong Phonska Plus dengan kisaran harga Rp750 ribu. 

“Memang harganya lebih mahal dibandingkan pupuk subsidi, tetapi sesungguhnya pemupukan menjadi lebih bijak. Sejak awal, saya juga ikut memberikan edukasi kepada para petani kentang. Ternyata hingga sekarang, petani di Dieng tetap membeli Phonska Plus sebagai pilihan,” ungkapnya.

Ia turut mengedukasi petani kentang di Dieng, khususnya di Desa Dieng Kulon, agar beralih menggunakan Phonska Plus. Edukasi di desa tersebut, katanya, membutuhkan contoh nyata. “Sehingga saya harus memberikan contoh agar petani lainnya percaya bahwa Phonska Plus sangat bermanfaat. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Phonska Plus dapat menyehatkan tanah kembali secara berkesinambungan,” katanya.

Selain itu, Pupuk Indonesia juga memberikan pendampingan kepada para petani kentang terkait cara pemupukan yang baik serta sosialisasi dosis yang diperlukan. “Dengan pendampingan tersebut, petani merasa tidak sendiri. Petani juga semakin yakin menggunakan Phonska Plus untuk tanaman kentang,” ujar Slamet.

Pendampingan

Kepala Desa Dieng Kulon, Heriyanto, mengatakan pendampingan Pupuk Indonesia kepada petani di Dieng sangat dirasakan manfaatnya. Apalagi, dari sekitar 1.300 keluarga yang menghuni Desa Dieng Kulon, hampir seluruhnya merupakan petani kentang. 

“Pendampingan oleh Pupuk Indonesia sangat membuka wawasan petani, terutama soal pemupukan. Kami jadi tahu tata cara dan dosis pupuk yang tepat sehingga tanaman kentang dapat berproduksi secara maksimal,” katanya.

Dengan adanya pendampingan, petani mengetahui bahwa Phonska Plus memiliki nutrisi yang lebih lengkap. “Tanaman kentang menjadi hijau, pertumbuhannya cepat, dan umbinya besar-besar. Saya membuktikan sendiri dari lahan seluas 5.000 meter persegi. Sebelumnya hasil panen sekitar 15 ton, setelah menggunakan Phonska Plus meningkat menjadi sekitar 17–18 ton kentang,” ujar Heriyanto.

Ia juga berterima kasih kepada Pupuk Indonesia karena selain melakukan pendampingan, terdapat aksi sosial melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bagi warga Dieng Kulon. “Banyak program yang telah dilaksanakan Pupuk Indonesia, khususnya di bidang pertanian dan pendidikan,” katanya.

Pupuk Indonesia Ajak Generasi Z

Heriyanto menuturkan, pada Juni 2023, Pupuk Indonesia melalui program kolaborasi Social Tour Dambaan bersama Yayasan Cakra Abhipraya Responsif mengajak 80 generasi Z dari berbagai daerah di Indonesia untuk membantu petani di Dieng Kulon. Para pelajar dan mahasiswa tersebut melaksanakan bakti pertanian, bakti lingkungan, dan bakti pendidikan.

Dalam pernyataan resminya, Pupuk Indonesia menyebutkan program tersebut memberikan edukasi pertanian kepada petani, seperti pemupukan dan sarana produksi pertanian (saprodi). Dari aspek lingkungan, relawan membantu pengelolaan sampah dan penanaman pohon pencegah longsor. Sementara dari aspek pendidikan, relawan dibekali edukasi pertanian sebagai bekal pengabdian di daerah bencana.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pupuk Indonesia dan para relawan yang telah melakukan bakti untuk masyarakat petani di Dieng Kulon,” kata Heriyanto.

Pupuk Indonesia juga menyerahkan sejumlah bantuan, di antaranya sarana produksi pertanian untuk 200 petani Dieng Kulon, satu unit angkutan sampah, 30 unit tempat sampah yang ditempatkan di sepanjang jalan desa, 100 bibit tanaman keras produktif, serta seragam olahraga bagi 350 pelajar SD.

Selain itu, untuk mendukung dan mengoptimalkan potensi pertanian, Pupuk Indonesia menyediakan pupuk dan produk komersial lainnya melalui pendirian Toko Pe-i di Dieng. Kehadiran toko tersebut membuat perusahaan semakin dekat dengan masyarakat.

Setahun kemudian, Pupuk Indonesia menggelar Ajang Kolaborasi Seluruh Insan (AKSI) di desa setempat. Sebanyak 100 karyawan Pupuk Indonesia Grup dari berbagai bidang, mulai dari pemasaran, SDM, riset, hingga anggaran, terlibat langsung untuk menciptakan ekosistem pertanian berkelanjutan melalui kolaborasi berbasis kompetensi.

Program AKSI yang mencakup empat fokus, yakni pertanian, pendidikan, lingkungan, dan sosial, diharapkan dapat memberikan manfaat optimal bagi komunitas sekitar. Program ini berkolaborasi dengan 24 pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah, petani, distributor, hingga anak perusahaan guna menciptakan ekosistem terintegrasi dengan rantai nilai perusahaan.

Melalui strategi tersebut, petani lokal dapat meningkatkan produktivitas melalui ketersediaan pupuk di berbagai kios terdekat serta pengelolaan limbah organik yang bernilai ekonomi tambah.

“Desa Dieng Kulon sangat beruntung. Setelah program Social Tour Dambaan sukses dilaksanakan pada 2023 dan mendapat dukungan positif masyarakat, dilanjutkan dengan program AKSI. Tujuannya membantu peningkatan ekonomi dan kepedulian lingkungan masyarakat,” kata Heriyanto.

Sebagai bagian dari kepedulian Pupuk Indonesia kepada petani di kawasan Dieng, pada September lalu Petrokimia Gresik menggelar program Pestani Dieng Raya di Desa Kasimpar, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Salah satu kegiatannya adalah Lomba Kentang Raksasa yang diikuti 175 petani dari lima kabupaten, yakni Pekalongan, Banjarnegara, Batang, Wonosobo, dan Magelang.

Komisaris Utama Petrokimia Gresik, Suhardi Alius, mengatakan para peserta telah dibekali pengetahuan teknis budidaya sesuai Good Agriculture Practice (GAP) dengan mengaplikasikan produk unggulan Petrokimia Gresik. 

“Kami berharap kegiatan ini menarik minat petani, khususnya generasi muda, untuk terjun ke sektor pertanian. Lomba ini juga menegaskan peran Jawa Tengah sebagai sentra produksi kentang yang berkontribusi besar terhadap kebutuhan nasional,” katanya.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, menambahkan gelaran tersebut menjadi stimulus bagi petani dalam mengoptimalkan teknologi budidaya sehingga menghasilkan kentang berkualitas tinggi. “Dengan ukuran kentang yang besar, produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani bertambah. Lomba ini juga menjadi wujud komitmen Petrokimia Gresik dalam mewujudkan swasembada pangan nasional sesuai Asta Cita Presiden Prabowo,” ujarnya.

“Harapan kami, produk unggulan ini dapat menstimulasi masyarakat untuk menggerakkan sektor pertanian, meningkatkan produktivitas usaha tani, menumbuhkan minat generasi muda, serta memperkuat hubungan antara Petrokimia Gresik dan petani,” katanya.

Harga Stabil karena MBG

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Ady, mengatakan areal kentang di wilayah Banjarnegara berada di empat kecamatan. Yang terluas berada di kawasan Dieng, yakni Kecamatan Batur, kemudian sebagian lainnya berada di Pejawaran, Wanayasa, dan Pagentan. 

“Di wilayah setempat, tidak hanya petani kentang saja, melainkan juga sayuran seperti wortel, sawi, kubis, cabai, dan lainnya. Khusus untuk kentang, luasannya mencapai 7.644 hektare dengan produktivitas 18,2 ton,” jelas Firman.

Menurutnya, Permentan Nomor 15 Tahun 2025 yang merupakan aturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi menyebutkan bahwa para petani kentang dan sayur lainnya tidak masuk dalam kategori penerima pupuk bersubsidi.

“Permentan itu menyebutkan bahwa ada 10 komoditas yang mendapat jatah pupuk subsidi. Untuk tanaman pangan adalah padi, jagung, kedelai, ubi kayu, kemudian hortikultura adalah cabai, bawang merah, bawang putih, serta perkebunan rakyat terdiri dari tebu, kakao, kopi dengan lahan maksimal 2 hektare,” katanya.

Sebetulnya, lanjut Firman, pihaknya secara resmi telah melayangkan surat kepada pemerintah pusat agar petani sayuran, terutama kentang, bisa kembali mendapat pupuk subsidi. “Tetapi, barangkali pemerintah pusat memiliki pertimbangan tertentu, sehingga petani kentang tetap di luar penerima pupuk bersubsidi. Sejauh ini, petani kentang dan sayuran lainnya sudah mengonsumsi pupuk nonsubsidi. Sehingga, sebetulnya petani sudah beradaptasi dengan situasi,” ujar dia.

Yang menarik, kata Firman, meski mengonsumsi pupuk nonsubsidi, tetapi hasil panen yang bagus dan harga yang stabil tetap membuat petani bisa menangguk keuntungan. 

“Bahkan, dalam setahun terakhir, kami tidak lagi menerima keluhan dari para petani kentang atau sayuran lainnya mengenai harga. Karena, kata mereka, harga tetap stabil. Ternyata, harga yang stabil tersebut merupakan dampak baik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan pada tahun ini. Betul-betul tidak ada lagi keluhan dari petani sayuran terkait harga,” jelasnya.

Ternyata, meski tidak lagi mengonsumsi pupuk bersubsidi, para petani, khususnya di wilayah Dieng, masih tetap mendapat keuntungan dari pertanian. Kolaborasi antara pemerintah dengan Pupuk Indonesia dalam pendampingan menjadi kunci keberhasilan. Berbagai program yang digelar menjadi bukti kolaborasi kuat yang terbangun, khususnya dalam tiga tahun terakhir. Bagi petani Dieng, adaptasi terhadap kebijakan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga asa dunia pertanian. (LD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya