Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Sungai-Sungai Besar Meluap, Kalsel Dikepung Banjir

Denny Susanto
28/12/2025 11:59
Sungai-Sungai Besar Meluap, Kalsel Dikepung Banjir
evakuasi warga korban banjir di Hulu Sungai Selatan.(Dok BPBD Kalsel)

SEJUMLAH daerah di Kalimantan Selatan kini dikepung banjir, menyusul meluapnya sungai-sungai besar akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel menyebut banjir yang melanda enam kabupaten dan diprediksi meluas ini sebagai kejahatan ekologi.

Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat daerah dilanda banjir meliputi Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Banjar, Tanah Laut dan Kota Banjarbaru. Banjir yang merendami ribuan rumah warga ini diprediksi akan terus meluas seiring tingginya curah hujan.

Gubernur Kalsel Muhidin telah menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi di enam kabupaten/kota di Kalsel. Muhidin meminta Pemda di Kalsel meningkatkan kesiagaan dan mewaspadai banjir besar serta merespons cepat penanganan bencana banjir di lapangan.

Pada bagian lain Walhi Kalsel menegaskan bahwa banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalsel bukan bencana alam, melainkan kejahatan ekologis yang lahir dari gagalnya kebijakan tata kelola lingkungan oleh negara, kegagapan mitigasi bencana, kerakusan korporasi, dan pembiaran sistematis terhadap kerusakan lingkungan.

"Krisis iklim global memang nyata, namun di Kalimantan Selatan dampaknya dilipatgandakan oleh kehancuran ekosistem akibat industri ekstraktif yang terus diberi karpet merah oleh negara. Curah hujan tinggi hanya menjadi pemicu, sementara akar masalahnya adalah rusaknya daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat deforestasi, tambang, perkebunan monokultur skala besar, dan PBPH," tegas Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Raden Rafig Wibisono, Minggu (28/12).

Berdasarkan Catatan Walhi kondisi lingkungan di Kalsel telah melewati batas aman. Dari total luas wilayah sekitar 3,7 juta hektare, sebanyak 51,57% atau sekitar 1,9 juta hektare telah dikuasai dan dibebani izin industri ekstraktif.

Luasan ini setara hampir 29 kali luas DKI Jakarta, mencerminkan skala perampasan ruang hidup yang masif dan brutal. Sementara itu, sisa tutupan hutan primer di Kalimantan Selatan hanya sekitar 49.958 hektar, angka yang sangat timpang dibandingkan luas konsesi tambang, sawit, dan kehutanan.

Kondisi inilah yang menjadi akar berulangnya banjir, longsor, krisis air bersih, dan hilangnya sumber penghidupan rakyat. Banjir hari ini adalah akibat langsung dari kebijakan yang membiarkan alam dihancurkan. (DY/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya