Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Layanan Tol Laut di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, dinilai belum mampu menjawab kebutuhan logistik daerah secara optimal, terutama untuk komoditas yang memerlukan pengaturan suhu (cold chain). Keterbatasan jumlah kontainer berpendingin (reefer container) menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha perikanan dalam mendistribusikan hasil tangkapan mereka ke luar daerah.
Kepala Cabang PT Sarana Bandar Logistik (SBL) Natuna, Raswanto, mengungkapkan bahwa persoalan ini telah menjadi keluhan menahun yang belum menemukan titik terang, meski telah berulang kali dibahas bersama otoritas terkait dan DPRD setempat.
“Kendala fundamental kami ada pada pengiriman barang dengan temperatur pendingin. Persoalan ini sudah sering dibicarakan dalam berbagai forum, tetapi hingga kini belum ada jalan keluar konkret dari pengambil kebijakan,” ujar Raswanto, Kamis (18/12).
Raswanto memaparkan, ketersediaan reefer container pada armada Tol Laut yang bersandar di Pelabuhan Selat Lampa sangat minim. Dari kapasitas yang ada, Natuna harus berbagi kuota dengan wilayah lain seperti Tarempa (Kepulauan Anambas).
“Kapal Tol Laut yang masuk hanya mampu membawa tujuh reefer container. Jumlah itu pun harus dibagi; terkadang tiga ke Tarempa dan empat ke Natuna, atau sebaliknya. Dengan volume hasil laut Natuna yang besar, jumlah ini jelas tidak mencukupi,” jelasnya.
Saat ini, PT SBL Natuna hanya memiliki tiga unit box pendingin dan 18 unit truk pengangkut untuk menopang operasional JPT Pelni Logistik. Kondisi ini diprediksi akan semakin timpang seiring terbentuknya Koperasi Merah Putih yang diproyeksikan bakal memicu lonjakan volume distribusi logistik dari Natuna.
Guna mengantisipasi mandeknya arus distribusi, PT SBL Natuna melakukan langkah mitigasi mandiri dengan menambah armada angkutan. Pihaknya berencana menginvestasikan dua unit truk Fuso FE 84 berkapasitas 10-12 ton.
Berbeda dengan jalur Tol Laut, armada tambahan ini akan dioperasikan melalui kapal Roll-on/Roll-off (Roro) dengan rute Batam dan Sintete (Kalimantan Barat).
“Ini harus segera dibahas bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Jika infrastruktur cold chain pada Tol Laut tidak diperkuat sejak sekarang, distribusi logistik perikanan Natuna akan terus tersendat dan merugikan nelayan serta pelaku usaha lokal,” pungkas Raswanto.
Penguatan layanan Tol Laut dengan penambahan kuota reefer container menjadi mendesak jika pemerintah ingin menjadikan Natuna sebagai beranda depan pertahanan pangan dan ekonomi maritim nasional. (HK/P-5)
Kehadiran kapal logistik Pelni terbukti mampu menekan disparitas harga bapokting, khususnya di wilayah Indonesia timur.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan tujuan utama program Tol Laut adalah mengurangi disparitas harga barang di berbagai wilayah, khususnya di Indonesia bagian timur.
Menhub Budi Karya Sumadi optimistis program tol laut bakal berlanjut di masa pemerintahan baru presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Program tol laut merupakan salah satu program strategis yang bertujuan untuk melancarkan distribusi logistik antarwilayah, dan menjamin ketersediaan bahan kebutuhan pokok.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved