Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Sudah 22 Hari Banjir Sumatra, Takengon Masih Lengang, Bahan Pokok Langka nan Mahal

Amiruddin Abdullah Reubee
18/12/2025 09:27
Sudah 22 Hari Banjir Sumatra, Takengon Masih Lengang, Bahan Pokok Langka nan Mahal
Pedagang ikan asin di pinggiran jalan Kota Takengon Ibukota Kabupaten Aceh Tengah(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

 

BANJIR yang meluluhlantakkan Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat sudah terjadi pada 26-27 November lalu. Penderitaan para korban masih saja terus berlangsung dan bahkan bertambah lagi bermunculan persoalan baru.

Ironisnya ada pernyataan pemerintah yang kontra produktif, yakni mengatakan kondisinya sudah membaik. Hal demikian semakin melukai hati masyarakat sehingga berbuah kekecewaan dan berujung reaksi mengibarkan bendera putih untuk meminta bantuan dunia internasional. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Rabu (17/12) di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, harga berbagai bahan makanan pokok hingga hari ke-22 bencana masih bertahan tinggi. Padahal kondisi ekonomi warga di dua wilayah dataran tinggi berjulukan Tanah Gayo itu cukup terpuruk. 

Seperti di Kota Takengon, Ibukota Kabupaten Bener Meriah, diantara bahan makanan pokok yang masih sangat memberatkan itu adalah harga beras berkisar Rp350.000 hingga Rp400.000/sak ukuran 15 kg. Padahal biasanya sebelum bencana itu harga beras kualitas sedang (standar) itu berkisar Rp200.000 hingga Rp225.000/sak.

"Bukan saja harga mahal. Untuk memperoleh barang belanjaan juga sangat terbatas, tidak banyak pedagang berjualan di Kota Takengon. Biasanya membeli pada pengecer yang menggelar dagangannya di pinggiran jalan. Itu stoknya terbatas, karena mereka belanja jalan kaki puluhan kilometer di Pasar Kamp perbatasan Kabupaten Bener Meriah- Kabupaten Aceh Utara" tutur Rahmi Zul Maulida, Dosen Pendidikan Matematika, UIN Sultanah Nahrasiyah, Lhokseumawe yang juga tokoh masyarakat Takengon, Aceh Tengah. 

Lalu harga telur juga cukup tinggi berkisar Rp110.000 hingga Rp130.000/papan. Sebelumnya harga telur ayam ras itu hanya sekitar Rp55.000 hingga 57.000/papan. Kemudian harga ikan teri asin dari biasanya Rp80.000/kg, kini melonjak menjadi Rp150.000/kg. Belum lagi harga ikan asing kualitas sedang yang sebelumnya Rp100.000, sekarang melambung jadi Rp200.000/kg.

"Setelah terkurung karena jalan putus, disusul naik harga barang. Sayangnya masyarakat kelas bawah, setelah aktivitas perekonomian mereka terganggu, bertanah lagi beban karena harga barang mahal" tutur Rahmi Zul Maulida. 

Berikutnya karena kelangkaan gas elpiji berbagai ukuran lalu warga menggunakan kayu bakar untuk memasak. Itu sebabnya harga kayu bakar pun ikut melambung menjadi Rp10.000/ikat (ukuran 3 kali makan keluarga). 

Padahal sebelumnya jarang pedagang bahan pangan di Pasar Takengon Ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang menjual kayu bakar ikat. Kalaupun ada penjual di lain, seukuran itu sekitar Rp5.000.

Selain bahan pangan, pasokan BBM ke kawasan dua kabupaten penghasil kopi gayo itu juga terganggu. Itu sebabnya harga BBM bersubsidi seperti pertalit dijual oleh pengecer dadakan berkisar Rp27.000 hingga Rp35.000/liter.

Tingginya harga bahan bakar minyak itu juga disebabkan mobil angkutan bahan bakar tidak bisa menembus lima jalur jurusan ke kawasan setempat. Itu juga karena badan jalan dan jembatan menuju dataran tinggi nan dingin tersebut rusak parah atau putus diterjang banjir serta longsor. 

Karena itu sekarang pedagang juga memasuk BBM dari pengecer di Pasar Kamp, sebuah lokasi perdagangan bahan pokok dadakan, jalur tengah hutan di perbatasan Kabupaten Bener Meriah-Aceh Utara. Untuk berbelanja ke pasar dadakan itu harus mengakut jalan kaki berjam-jam. Hanya bisa dilalui sepeda motor separuh jalan. (MR/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya