Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Bencana alam yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra Utara memberikan pukulan besar terhadap aktivitas perdagangan di Pasar Induk Lau Cih, Kota Medan. Omzet pedagang komoditas hortikultura merosot signifikan karena penurunan drastis pasokan pembeli dari wilayah terdampak.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa potensi penurunan omzet di Pasar Induk Lau Cih paling sedikit mencapai Rp610 juta per hari. Penurunan bahkan sempat mendekati Rp1 miliar per hari pada pekan pertama setelah bencana.
Gunawan mengidentifikasi Langsa, Kuala Simpang, dan Besitang sebagai tiga wilayah pembeli terbesar hortikultura di Pasar Induk Lau Cih yang saat ini aktivitas belanjanya terganggu.
Berdasarkan pemetaannya, Kota Langsa merupakan penyumbang transaksi terbesar bagi Pasar Induk Lau Cih. Kebutuhan harian Langsa pada kondisi normal mencakup 3–5 ton kentang, 3–4 ton cabai merah, dan 500 kg–1 ton wortel, yang kontribusi belanjanya diperkirakan mencapai sekitar Rp356 juta per hari.
Selain Langsa, wilayah Kuala Simpang dan Besitang juga menghentikan sebagian besar aktivitas belanja. Pada pekan pertama bencana, bahkan Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan sempat tidak melakukan pembelian sama sekali.
"Gangguan aktivitas ekonomi di wilayah bencana di Aceh telah memberikan dampak domino ke daerah lain, khususnya Kota Medan," jelas Gunawan.
Indra Sembiring, salah seorang pedagang di Pasar Induk Lau Cih, membenarkan kondisi ini. Ia mengungkapkan, beberapa wilayah seperti Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan sudah mulai kembali berbelanja. Namun, pasokan pembeli dari Aceh Tamiang dan Langsa masih sangat minim atau hampir tidak ada, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di sana belum pulih.
Gunawan Benjamin berharap, minimnya transaksi dari wilayah Aceh tidak diartikan sebagai kelangkaan bahan pangan, tetapi murni karena aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat belum kembali normal pascabencana. (YP/P-5)
Aksi kolaboratif ini menjadi simbol kuat bahwa stabilitas dan pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang memerlukan kerja sama erat dari seluruh unsur keamanan.
Selain penguatan sumber daya manusia, Polri juga mengerahkan alat-alat berat untuk mempercepat pembersihan sisa material bencana
Acara berlangsung meriah dengan berbagai rangkaian doa, puji-pujian, serta penampilan seni dari anak-anak pengungsian.
Polri telah disiagakan untuk memberikan pengobatan langsung, mulai dari pemberian obat batuk, pilek, hingga vitamin penurun demam.
JKM adalah hak mutlak setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Kehadiran kapal ini menjadi solusi taktis di tengah upaya pemerintah daerah memperbaiki jembatan yang rusak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved