Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Kawasan Dusun Wonorejo dan Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, kini menjelma menjadi pusat pariwisata petualangan yang ramai. Di tengah deru jeep Katana, riuh rendah wisatawan, dan menjamurnya spot foto, warga lokal berupaya keras menjaga nadi pertanian yang telah menghidupi mereka jauh sebelum pariwisata berkembang pesat.
Udara sejuk hutan pinus di lereng Malang, Selasa (9/12) siang, menjadi saksi bagaimana pertanian dan pariwisata kini hidup berdampingan.
Bagi Heri Kalengkongan, warga Wonorejo, meskipun wisata mendatangkan rezeki baru, pertanian tetap menjadi tumpuan utama keluarga. Di lereng yang memagari Coban Talun, apel, komoditas tua ikonik Kota Batu, masih dirawat dan dipanen.
“Meskipun lahannya makin berkurang, apel tetap dipanen. Rata-rata satu pohon masih bisa menghasilkan sekitar 15 kilo,” ujar Heri.
Tanah Wonorejo dikenal subur untuk berbagai komoditas dataran tinggi seperti kentang, wortel, kol, hingga budidaya jamur tiram yang menjadi sumber pendapatan harian karena perawatannya mudah dan permintaan pasar stabil. Selain itu, barisan kebun bunga krisan yang cerah kini juga menjadi pemandangan sekaligus pemasok utama pedagang dan dekorator acara di Kota Batu.
Geliat pertanian kini harus bersaing dengan lonjakan wisatawan yang dipicu oleh wisata petualangan. Salah satu titik sentral adalah kawasan Air Terjun Kebandalun, yang dikelilingi jalur off-road khusus. Atraksi ini menjadi magnet utama yang memompa kunjungan setiap akhir pekan.
"Kalau hari biasa ada 3-4 bus yang datang. Kalau weekend bisa sampai 5-10 bus besar, masing-masing isi 50-60 orang,” kata Heri.
Kawasan ini juga menjadi rest area penting bagi rombongan peziarah dari Bali yang rutin menuju Pura Giri Arjuna di atas Wonorejo.
Fasilitas penunjang wisata pun semakin beragam, mencakup jalur motor trail, kawasan Pagupon dan Padukone, hingga bumi perkemahan, serta penginapan seperti RedDoorz dan Obon. Tarif perjalanan off-road pun bervariasi, mulai dari Rp450.000 (trip pendek) hingga Rp650.000 (trip panjang menuju Sumber Brantas) per jeep berkapasitas empat orang.
Perkembangan wisata telah menghidupkan lebih dari 200 UMKM, yang sebagian besar bergerak di bidang kuliner, olahan pangan, buah apel, dan produk lokal khas Tulungrejo. Seluruh UMKM ini digerakkan secara masif saat ada acara besar seperti festival budaya atau peringatan Hari Kemerdekaan, yang menjadikan kawasan terasa sangat hidup.
Akomodasi juga ikut berkembang, mulai dari penginapan keluarga, vila-vila kecil, hingga penginapan dalam kawasan wisata seperti Pagupon, dengan tarif yang berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp750 ribu per malam untuk unit premium.
Meskipun laju pariwisata sangat cepat, Heri Kalengkongan mewakili keyakinan warga setempat: "Di sini wisata berkembang, tapi kebun tetap jalan. Itu sudah dari dulu." Warga Wonorejo berkomitmen menjaga kebun mereka sebagai saksi bahwa kawasan ini adalah ruang hidup yang berpijak pada panen dan tradisi, bukan semata ruang rekreasi musiman. (P-5)
Program ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati perjalanan liburan dengan kenyamanan premium
Selain mendorong masyarakat beralih ke kendaraan pribadi listrik, upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui pengembangan angkot listrik sebagai sarana edukasi publik.
Target belanja wisatawan selama tinggal di Yogyakarta diperkirakan berkisar antara Rp750.000 hingga Rp1.000.000 per orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved