Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Agam Kekurangan Alat Berat untuk Percepatan Pencarian Korban dan Buka Akses

Yose Hendra
08/12/2025 09:59
Agam Kekurangan Alat Berat untuk Percepatan Pencarian Korban dan Buka Akses
Ilustrasi(MI/YOSE HENDRA)

ALAT berat sejatinya menjadi tulang punggung untuk percepatan penanganan bencana banjir bandang terutama untuk membuka akses daerah terisolasi dan membantu pencarian korban. Namun Agam khususnya wilayah terdampak paling besar dari banjir bandang masih mengalami kekurangan alat berat.

Bupati Agam, Benni Warlis, menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah penambahan alat berat untuk mempercepat proses pencarian korban, pembersihan material galodo, dan pembukaan akses jalan yang masih terputus di sejumlah titik terdampak.

“Kita kekurangan alat berat. Saya minta tambahan sekitar 10 unit lagi yang akan kita sebar seperti ke Malalak, buka akses jalan ke Matua. Dan di Salareh Aia daerah paling terdampak, mungkin 3–4 unit tambahan. Alat ini sangat menentukan percepatan penanganan,” ujar Bupati Benni, tempo hari.

Selain alat berat, sektor penerangan darurat juga menjadi perhatian serius. Menurutnya, kebutuhan genset masih sangat mendesak.

“Kita butuh genset sekitar 10 unit lagi. Itu satu-satunya sumber penerangan masyarakat saat ini,” tambahnya.

Bupati Benni juga menyoroti kebutuhan dasar pengungsi yang masih terbatas, mulai dari air minum hingga fasilitas MCK di beberapa titik pengungsian.

“Kita hanya bisa meminta bantuan, karena anggaran sudah tidak ada. Kita berharap dukungan pemerintah, para pengusaha, dan perantau,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa tanpa tambahan alat dan logistik ini, percepatan penanganan di Agam akan sulit tercapai.

Material besar ini tak bisa kami bongkar. Mau tak mau harus pakai alat berat,” ujar Erfian, Ketua Regu A Tim Basarnas Pencarian Palembayan. “Tapi alatnya terbatas. Kalau kami minta bantuan di titik yang dicurigai, barulah mereka datang.”

Di lapangan, mereka bekerja mengandalkan tanda-tanda biologis: aroma yang muncul dari lumpur, arah hanyutan material, dan kehadiran lalat hijau. “Kadang muncul sedikit aroma dari bawah lumpur, itu tanda," bilangnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik