Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

IoT Dimanfaatkan untuk Mengantisipasi Stunting di Desa Pakem

Basuki Eka Purnama
24/11/2025 15:58
IoT Dimanfaatkan untuk Mengantisipasi Stunting di Desa Pakem
Pemeriksaan kesehatan anak di Posyandu Desa Pakem.(MI/HO)

UPAYA penanganan stunting di Desa Pakem, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, memasuki babak baru setelah inovasi mahasiswa BEM Universitas An Nuur (Unan) Purwodadi mulai menunjukkan hasil nyata. Teknologi prediktif berbasis Internet of Things (IoT) bernama E-TOS yang dikenalkan pada awal November lalu kini resmi diterapkan oleh kader posyandu setempat.

Desa Pakem, yang berada di kawasan pegunungan kapur, selama ini, dikenal menghadapi keterbatasan pangan dan sulitnya mengontrol pertumbuhan anak. Kehadiran pelatihan E-TOS membuat pemantauan risiko stunting kini dilakukan lebih cepat dan akurat berbasis data spasial. 

“Kami ingin memastikan solusi penanganan stunting tidak lagi berbasis asumsi, tetapi berbasis data lapangan yang kuat,” ujar Rektor Unan Dr. Rosdiana, SKM., M.Kes., dalam keterangan resmi, Senin (24/11).

Program ini merupakan bagian dari Mahasiswa Berdampak – Pemberdayaan Masyarakat, yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun 2025. Program ini menargetkan integrasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat berbasis desa untuk memperkuat kapasitas lokal. 

“Inovasi yang relevan adalah inovasi yang bisa dipakai masyarakat, bukan sekadar dipamerkan di ruang akademik,” tambah Rosdiana.

Rata-rata tingkat pemahaman kader meningkat dari 45,55 menjadi 75,67 setelah pelatihan E-TOS. Banyak kader mengaku pelaporan digital membuat proses pemantauan lebih sederhana dan tidak lagi bergantung pada buku catatan yang rawan hilang. 

“Kami ingin memberikan contoh nyata bagaimana teknologi sederhana bisa menyelesaikan masalah kompleks jika diterapkan dengan benar,” tegas Rosdiana.

Selain penguatan digital, tim mahasiswa juga memberikan pelatihan pengolahan limbah ternak menjadi kompos organik untuk meningkatkan produktivitas lahan pekarangan. 

Warga mulai menanam cabai, terong, hingga kembang kol sebagai bentuk penguatan gizi keluarga dari sumber pangan mandiri di rumah.

Program ini didampingi oleh dosen pembimbing Sutiyono, Wahyu Riniasih, Eko Supriyadi, dan Suryani, untuk memastikan implementasi sesuai kebutuhan lapangan. 

Pendampingan ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi kampus dan masyarakat dapat menghasilkan perubahan yang realistis dan berkelanjutan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik