Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Badan Geologi Paparkan Bahaya Akibat Erupsi Gunung Semeru

Sugeng Sumariyadi
21/11/2025 07:11
Badan Geologi Paparkan Bahaya Akibat Erupsi Gunung Semeru
Warga melihat luncuran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (19/11/2025)(ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/YU)

KEPALA Badan Geologi Muhammad Wafid mengingatkan adanya potensi bahaya besar akibat erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur.

"Potensi bahaya bersumber dari lontran material erupsi di area puncak dan lereng. Akumulasi material hasil erupsi, baik letusan dan aliran lava maupun pembentukan scorie cones berpotensi menjadi guguran lava pijar atau awan panas," ungkapnya, Kamis (20/11). 

Dia menambahkan interaksi endapan material guguran lava atau awan pans yang bersuhu tinggi dengan air sungai akan berpotensi terjadinya erupsi sekunder. 

Potensi ancaman, lanjutnya, juga ada di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Semeru  berupa aliran piroklastik atau awan panas dan lahar yang membawa material produk erupsi turun. Material ini bisa turun jauh ke wilayah permukiman. 

"Material guguran lava dan awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan," jelasnya.

Wafid menegaskan lahar berpotensi menimbulkan korban jiwa di permukiman sepanjang bantaran sungai Besuk Bang, Besuk Kobokan, Besuk Sat dan Besuk Kembar.  

Untuk itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tetap merekomendasikan agar masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak melaukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk kobokan sejauh 20 kilometer dari puncak dan pusat erupsi.

"Di luar jark itu, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai dan sempadan sungai, di sepanjang Besuk Kobokan," tambah Wafid. 

Rekomendasi lainnya, masyarakat tidak beraktivits dalam radius 8 kilometer dari kawah atau puncak gunung, karena rawan terhadap bhaya lontaran batu pijar. 

Menjawab kemungkinan terjadinya kembali erupsi besar, Wafid menyatakan pemantauan dan laporan akan terus dilakukan pihaknya, "Hari, sampai pukul 09.00 WIB, sudah ada 10 kali letusan, dengan tinggi asap 200-600 meter. Hari sebelumnya, Rabu (19/11) asap tertinggi mencapai 2.000 meter," tambahnya. 

Dia juga memaparkan kejadian erupsi Semeru sebelumnya. Pada erupsi Desember 2020, Desember 2021 dan Desember 2020, tanda awal kejadian awan panas besar tidak diawali oleh peningktkan jumlah kegempaan. 

"Kejadian awan panas besar diawali oleh penurunan nilai kecepatan seismik pada beberapa minggu hingga beberapa bulan sebelumnya," tandasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik