Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KANJENG Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi akhirnya ditetapkan sebagai Sinuhun Pakubuwono XIV oleh kerabat besar Keraton Surakarta Hadiningrat pada Kamis (13/11) sore.
Bagaimana profil bangsawan yang semasa remaja disapa sebagai Pangeran Mangkubumi itu?
Saat masih kecil, pria yang lahir dari pernikahan PB XIII dengan Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Winari Sri Haryani itu, diberi nama Gusti Raden Mas (GRM) Suryo Suharto.
Seiring bertambahnya usia, gelarnya berubah menjadi Gusti Pangeran Haryo (GPH) Mangkubumi, hingga dalam perjalanan hidupnya sebagai putra tertua raja, ia berhak menyandang gelar sebagai KGPH Hangabehi.
Hangabehi mempunyai dua adik kandung yakni Gusti Raden Ayu (GRAy) Sugih Oceania (almarhumah) dan GRAy Putri Purnaningrum. Keberadaan dan laku hidupnya, membuat banyak orang kemudian menakar, bisakah ia bersaing untuk dipilih menjadi pemimpin keraton.
Peluangnya menjadi PB XIV jika ayahnya wafat dibicarakan banyak orang di lingkaran keraton cukup berat, karena ia lahir bukan dari rahim permaisuri raja. Lagi pula, sejak 27 Februari 2022 bersamaan dengan perayaan naik tahta PB XIII, adiknya lain ibu, yakni KGPH Purbaya yang lahir dari garwa prameswari (permaisuri), sudah ditetapkan dan diangkat sebagai putra mahkota.
Namun ternyata, Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta menganggap, langkah PB XIII mengangkat selir ketiganya KRAy Asih Winarni sebagai permaisuri dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Buwono, serta mengangkat putra lelakinya Purbaya sebagai putra mahkota, tidak pernah dibicarakan dengan kerabat besar trah dalem.
Koes Murtiyah Wandansari selaku pangarso atau Ketua LDA, mengaku gerah dengan penetapan Asih Winarni sebagai permaisuri dengan gelar GKR Pakubuwono dan Purbaya, putra bungsunya, menjadi pangeran pati atau putra mahkota dengan gelar KGPAA Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.
Sebab, langkah itu tidak pernah diberitahukan kepada para kerabat sentana darah dalem. Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta pun bergerak melakukan pergantian nama KGPH Mangkubumi menjadi KGPH Hangabehi. Jadi gelar terakhir itu bukan dari anugerah PB XIII.
“Dari kesepakatan abdi dalem dan sentono (kerabat keraton), alih asma terjadi dari KGPH Mangkubumi ke KGPH Hangabehi. Hangabehi itu maksudnya menyeluruh. Nama Hangabehi itu sama persis dengan nama PB XIII sebelum dinobatkan menjadi raja," tutur Gusti Moeng, sapaan akrab Koes Murtiyah.
Tidak hanya menetapkan KGPH Hangabehi, namun LDA juga menggugat PB XIII ke Mahkamah Agung (MA) untuk mengkritisi langkahnya yang dianggap melanggar hukum adat hingga dinyatakan menang. "Otomatis dengan keputusan MA itu, gelar permaisuri dan putra mahkota gugur," terang Gusti Moeng.
Lebih dari itu, ternyata situasi panas kembali muncul dalam proses suksesi setelah Sinuhun PB XIII wafat. Keluarga inti PB XIII yang dikoordinir putridalem GKR Rumbai Kusuma Dewayani berhasil mencuri start dengan mendudukkan KGPH Purbaya menjadi PB XIV. Bahkan upacara peresmian naik tahta bakal digelar di Sitihinggil pada Sabtu (15/11).
Pengumuman penobatan tersebut bahkan telah diumumkan oleh akun resmi media sosial Keraton Kasunanan Surakarta sejak Kamis, berikut rute kirab raja seusai penobatan.
Namun kerabat besar keraton yang terdiri seluruh sentana trah darah dalam Pakubuwono (PB) ke I hingga PB XII, dan barisan masyarakat peduli adat keraton yang diangkat menjadi sentana serta paguyuban keraton, gantian mendudukkan Hangabehi untuk menjadi PB XIV.
Artinya, suksesi naik tahta tahun 2025 terjadi pengulangan ontran ontran 2004, yang mana anak tertua raja dipilih menjadi pengganti, karena PB XII tidak pernah memiliki garwa prameswari. KGPH Hangabehi ditetapkan sebagai PB XIV.
Seorang sentana trah darah dalem PB X yang tidak bersedia disebut namanya mengatakan, proses suksesi 2025 menunjukkan bagaimana tata nilai paugeran adat mengulang momen suksesi 2004.
Bahkan, bukan hanya figur 'pemimpinnya', melainkan juga bisa menentukan eksistensi dan masa depan Kraton Surakarta, pelestarian Budaya Jawa dan terjaganya pemeliharaan peradaban kehidupan secara luas.
KGPH Hangabehi dinilai sebagai pemimpin yang lahir dari seorang 'pinilih' (terpilih) yang segalanya 'berkualitas', boleh disebutkan mendapatkan modal 25-50% dari total kualitas calon pemimpin yang ideal.
Kewajiban dan tanggung-jawab memimpin adat yang ada di keraton tentu perlu dibuktikan usai peresmian naik tahta. Seorang Pakubuwono adalah penjaga adat, masyarakat adat, penjaga budaya, dan pemimpin dinasti plus pemerintahan keraton.
Eksistensinya sebagai pusat kearifan lokal (budaya Jawa), seorang Sinuhun PB juga memiliki tugas dan tanggung jawab memelihara peradaban, menjaga ketahanan budaya bangsa.
Banyak warga Pakasa (Paguyuban Keraton Surakarta) dari wilayah Jatim dan Jateng mengatakan, KGPH Hangabehi selama tiga tahun terakhir cukup menunjukkan bukti sebagai pemimpin adat, baik dilihat secara spiritual religiusitas dan kebatinan.
Ketika dianalisis lebih dalam, tiga syarat itu dapat dijadikan takaran untuk menimbang, apakah calon Sinuhun PB seperti KGPH Hangabehi memenuhi kapasitas yang diharapkan.
Konsep 'Ratu tanpa laku' yang bisa dijadikan peringatan bagi semua yang berkepentingan dalam proses suksesi, diakui KPP Wijoyo Adiningrat selaku sentana sepuh darah dalem PB X, melihat, tidak ada pada Hangabehi.
Dari perjalanan pergaulan pribadi hingga di tengah berbagai elemen masyarakat adat, KGPH Hangabehi diakui sangat memadai atau hangat bergaul dan tidak mengecewakan.
Banyak pengurus Pakasa dari berbagai daerah yakin, begitu Hangabehi dinobatkan sebagai PB XIV, diyakini ia akan mampu menjalani tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin adat dan kebudayaan keraton.
Tentu ini menjadi tantangan besar dan rasional untuk dipenuhi seorang Hangabehi sebagai raja atau calon raja. Semoga. (WJ/E-4)
PUTRA bungsu mendiang Pakubuwono XIII, KGPH Purbaya, resmi dinobatkan menjadi Pakubuwono XIV dalam sebuah upacara adat pada Sabtu (15/11).
LANGIT mendung yang sempat didahului hujan pada Sabtu (15/11) pagi mengiringi prosesi penobatan KGPH Purbaya menjadi Raja Pakubuwono XIV.
SENYUM terukir di wajah Pangeran Pati KGPH Purbaya yang baru saja diresmikan sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIV di Kagunan Dalem Sitihinggil, Sabtu (15/11) siang.
GKR Timoer Kusuma Dewayani menegaskan, bahwa upacara pengukuhan Purbaya, sang adik sebagai Pakubuwono XIV adalah mutlak melaksanakan amanat dari sabda raja Pakubuwono XIII.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved