Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Bilqis Dua Hari Hidup Bersama Orang Rimba di Jambi

Solmi
10/11/2025 22:06
Bilqis Dua Hari Hidup Bersama Orang Rimba di Jambi
Ilustrasi(Metrotvnews.com/Muhammad Syawaluddin.)

BILQIS Ramadhany, 4 tahun, balita korban penculikan asal Makassar, Sulawesi Selatan, ternyata sempat hidup bersama warga Suku Anak Dalam (SAD), salah satu kelompok suku masyarakat adat terasing di Provinsi Jambi.

Fakta tersebut terkonfirmasi dari keterangan yang diperoleh Media Indonesia dari Komunitas Komunikasi Indonesia (KKI) Warsi, Senin sore (10/11). KKI Warsi adalah ialah satu lembaga nonpemerintah yang selama ini terbilang intens melakukan pendampingan terhadap kelompok-kelompok  warga SAD, atau popular juga dengan sebutan Orang Rimba.

Menurut Manager Komunikasi KKI Warsi Sukma Reni, sebelum diambil oleh tim gabungan Polri sekitar pukul 20.00 WIB Sabtu malam (8/11), Bilqis sudah dua hari hidup di pondok sederhana yang dihuni Begendang, salah seorang warga Orang Rimba di bawah pimpinan Tumenggung Sikar (pimpinan kelompok) yang menumpang bermukim di sela perkebunan kelapa sawit di Desa Gading Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin.

Tidak banyak cerita yang didapatkan KKI Warsi dari mulut Begendang tentang suasana hati dan gestur Bilqis selama dua di pondok Begendang. Yang pasti, selama di lokasi hingga dijemput tim gabungan dari Polrestabes Makassar, Resmob Polda Jambi dibantu personel Polres Merangin, kondisi fisik Bilqis sehat alfiat.

Pengakuan Begendang 

KKI Warsi menyampaikan, berdasarkan keterangan Begendang, kehadiran Bilqis di tengah keluarganya, berawal ketika ketika istrinya didatangi “orang luar” (bukan warga SAD) membawa seorang anak perempuan (Bilqis, Red).  Mengaku dari keluarga tidak mampu, “orang luar” dimaksud – tidak dijelaskan identitas dan jumlahnya -- meminta istrinya untuk merawat Bilqis. Dan permintaan tersebut dikabulkan.

Penyerahan Bilqis pun dilakukan. Di atas surat pernyataan tertulis bermaterai sepuluh ribu rupiah, tertera anak perempuan yang ternyata adalah korban penculikan dari makasar, dinyatakan diserahkan atas nama ibu kandungnya, dan menyatakan tidak ada tuntut menuntut di kemudian hari.

Namun, sekitar dua hari setelah hidup bersama Bilqis, Begendang dan keluarga mendapatkan informasi mengenai kasus penculikan anak. Dan celakanya korbannya adalah balita perempuan yang Begendang dan istri adopsi. 

Disaksikan pimpinan kelompoknya Tumenggung Sikar, Begendang dan keluarga menyerahkan kepada tim gabungan yang sudah mengetahui keberadaan Bilqis dari mulut Mery Ana, 42 tahun dan Adefriyanto Syahputra, 36 tahun, dua tersangka yang beberapa hari lalu tertangkap tim gabungan di Kota Sungaipenuh. Tersangkan melego Bilqis dengan bandrol Rp30 Juta kepada Lina, seorang wanita asal Orang Rimba di Merangin.

Kelompok Rentan

Menyikapi pemberitaan yang menyebut keterlibatan Orang Rimba dalam dugaan kasus penculikan anak, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menilai penting bagi publik untuk memandang persoalan ini secara utuh.

Menurut Robert Aritonang, antropolog KKI Warsi, isu ini tidak dapat dilihat hanya dari permukaan. Karena Orang Rimba sejatinya adalah korban dari situasi sosial, ekonomi, dan struktural yang menjerat mereka selama puluhan tahun.

“Mereka kehilangan hutan yang menjadi sumber kehidupan. Ketika ruang hidupnya berubah menjadi perkebunan dan konsesi, mereka kehilangan akses terhadap pangan, air, dan sumber penghidupan. Dalam kondisi semacam itu, Orang Rimba sangat rentan dimanfaatkan oleh pihak luar yang memiliki kepentingan tertentu,” ujar Robert.

Dikatakan, kelompok yang disebut terlibat dalam kasus ini adalah Orang Rimba Sawitan, yang lantaran kehilangan ruang hidup, kini terpaksa hidup menumpang-numpang di wilayah perkebunan kelapa sawit milik perusahaan besar di Merangin. “Dalam situasi yang tidak mereka mengerti, Orang Rimba bisa dengan mudah percaya pada cerita atau bujukan dari orang luar. Mereka tidak sepenuhnya memahami konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan,” bebernya. Senin.

Lihat Akar Masalah

KKI Warsi menegaskan bahwa dalam kasus ini, Orang Rimba korban dari sistem yang lebih besar, korban dari kemiskinan struktural, kehilangan wilayah hidup, dan ketidakadilan sosial.

“Ada pihak lain yang memanfaatkan kerentanan mereka. Melalui narasi palsu, janji ekonomi, atau bujukan emosional, Orang Rimba dijadikan alat dalam jejaring kejahatan yang mereka sendiri tidak pahami,” tegas Robert.

Selama ini, tegas Robert, Orang Rimba dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kehidupan, menjaga hutan, dan hidup dengan adat yang menghindari konflik. Labelisasi negatif akibat tindakan segelintir orang justru dapat memperparah stigma dan diskriminasi terhadap seluruh komunitas.

KKI Warsi menyerukan agar penegakan hukum dan pemberitaan media dilakukan dengan perspektif perlindungan terhadap kelompok rentan. Publik dan aparat diminta berhati-hati agar tidak menjadikan Orang Rimba kambing hitam atas persoalan sosial yang lebih luas.

“Yang perlu diusut bukan hanya siapa yang terlibat, tetapi siapa yang memanfaatkan Orang Rimba dan menciptakan kondisi yang membuat mereka terjebak dalam situasi ini,” tegas Robert Aritonang. Kasus ini diharapkan menjadi momentum untuk melihat secara utuh problematika Orang Rimba, dan mulai langkah-langkah untuk pemulihan persoalan sosial mereka, dengan memperluas akses terhadap pendidikan, layanan dasar, dan pengakuan hak atas wilayah hidup.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya