Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Bali Gempar, Viral Tiga Tempat Wisata Diduga Siksa Gajah

Arnoldus Dhae
10/11/2025 17:32
Bali Gempar, Viral Tiga Tempat Wisata Diduga Siksa Gajah
Dalam video tampak jelas luka, goresan, dan kedipan mata gajah yang menahan sakit akibat tindakan pawang agar hewan itu patuh terhadap pengunjung.(Tangkapan Layar )

BEREDAR sebuah video yang diunggah oleh akun asal luar negeri bernama PETA (People for the Ethical Treatment of Animals). Video dan narasi tentang penganiayaan gajah demi kepentingan pariwisata tersebut diposting oleh Margarita Sachkova pada 8 November 2025 di laman https://www.peta.org.au.

Dalam narasinya, PETA mengungkap bahwa gajah-gajah di tempat wisata di Bali, Indonesia, dirantai di kandang sempit yang tandus dengan luka dan bekas luka di kepala serta kaki mereka. Para pekerja disebut memukul dan menusuk gajah berulang kali menggunakan bullhook. Yaitu alat mirip besi penusuk perapian dengan kait logam di salah satu ujungnya untuk mengendalikan dan mengarahkan mereka sesuai kebutuhan tamu.

Organisasi internasional tersebut diduga sedang melakukan investigasi mendalam terkait penganiayaan gajah demi kepentingan pariwisata di Bali. Dalam video tampak jelas luka, goresan, dan kedipan mata gajah yang menahan sakit akibat tindakan pawang agar hewan itu patuh terhadap pengunjung.

PETA Sebut Nama Tiga Lokasi Wisata di Bali

Meski tidak dijelaskan secara spesifik lokasi penganiayaan, narasi video menyebut beberapa nama seperti Bakas Adventure Elephant Safari and Rafting, Mason Elephant Park & Lodge, serta Bali Zoo. Ketiga tempat tersebut diketahui berlokasi di Kabupaten Gianyar dan Klungkung, Bali, yang memang menampilkan atraksi wisata menggunakan gajah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari ketiga tempat tersebut terkait dengan tudingan dari PETA.

PETA juga menyoroti bagaimana beberapa destinasi wisata tersebut memasarkan diri kepada turis sebagai “penyelamatan gajah” untuk menarik minat pengunjung.

“Setiap kali gajah tidak mengikuti arahan, kami tidak memberi mereka makanan. Anda harus memukul mereka dengan keras agar mereka lebih patuh. Jika gajah tidak patuh dengan kait tumpul, maka pawang akan menggunakan kait yang tajam hingga gajah tersebut berdarah,” tulis Margarita Sachkova dalam narasinya.

PETA Imbau Wisatawan tidak Kunjungi Destinasi Eksploitasi Gajah

Di bagian akhir tulisannya, PETA meminta agar wisatawan asing tidak berkunjung ke Bali untuk membayar pelecehan dan eksploitasi gajah.

“Industri pariwisata sudah menipu turis agar membayar sejumlah uang melalui pelecehan dan eksploitasi gajah yang seharusnya hidup bersama keluarganya di alam, tidak dirantai dan terus-menerus diancam dengan kekerasan,” tulis Margarita.

Dalam penjelasannya, PETA menyebut bahwa di alam bebas, gajah hidup dalam kelompok matriarkal, saling melindungi, dan berbagi tanggung jawab sebagai ibu bagi bayi-bayi dalam kelompok tersebut. Namun, gajah yang dieksploitasi untuk pariwisata justru dipisahkan dari induknya sejak bayi dan dipaksa tunduk dengan kekerasan fisik maupun psikologis.

Agen Wisata Bali Kewalahan Jawab Pertanyaan Turis Asing

Unggahan video tersebut menimbulkan reaksi di kalangan pelaku pariwisata di Bali. Beberapa agen perjalanan mengaku menerima banyak pertanyaan dari wisatawan asing.

“Kami menerima banyak pesan lewat email dan WhatsApp dari relasi di Australia, Belanda, Inggris, dan Jerman. Mereka bertanya apakah benar kejadian itu di Bali. Kami terpaksa agak sedikit berbohong dengan menjelaskan bahwa nanti kami akan menelusuri,” ujar Stevan, seorang tour guide di Kuta, Bali, Senin (10/11/2025).

Aktivis JAAN: Eksploitasi Gajah di Bali sudah Lama Terjadi

Aktivis pemerhati satwa liar dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Femke den Haas, saat dikonfirmasi, mengaku tidak kaget dengan praktik kekerasan terhadap gajah di Bali.

“Sebenarnya ada dua organisasi internasional yang sering berupaya (menyoroti praktik) membuka usaha pariwisata di Bali dengan eksploitasi gajah. Selain PETA, ada juga WAP (World Animal Protection). Namun, hal ini tidak membuat industri pariwisata di Bali bergeming (berubah),” tutur Femke.

Pendiri JAAN itu mengisahkan bahwa saat pandemi covid-19, ada destinasi wisata di Bali yang menelantarkan gajah-gajahnya tanpa makanan, sementara kaki mereka tetap dirantai.

“Waktu itu saya bersama teman-teman di Bali yang memberi makan hampir tiga bulan lebih. Makanan dan perawatan gajah itu mahal, dan tanpa kunjungan wisata mereka rugi. Akibatnya, gajah ditelantarkan,” lanjutnya.

JAAN Minta Pemerintah Bertindak Tegas

Menanggapi unggahan PETA, Femke meminta pemerintah agar segera bertindak tegas dan melarang eksploitasi gajah untuk pariwisata komersial.

“Usulan saya, pemerintah segera bertindak tegas dan menghentikan eksploitasi gajah untuk kepentingan pariwisata. Banyak turis asing yang tidak suka melihat satwa liar diperlakukan seperti itu. Kalau dibiarkan, siap-siap saja risikonya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pembelaan tentang perlakuan terhadap gajah sebagai hal wajar sudah tidak relevan.

“Di Thailand yang dijuluki Negeri Gajah Putih saja sudah berubah. Gajah dibiarkan hidup di alam liar, dan wisata tetap berjalan. Boleh saja dijadikan destinasi pariwisata, tetapi gajah harus nyaman dan natural,” pungkas Femke. (OL/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik