Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI dan pedagang pengumpul kakao di kawasan Provinsi Aceh sekarang terus diterpa badai kemiringan harga. Hasil panen buah berjulukan emas cokelat itu yang biasanya menggairahkan, ternyata kini mengundang kelesuan luar biasa.
Pasalnya harga biji kakao kering panen (gabah kakao) sekarang terus menurun dan tidak stabil atau sering berubah-ubah. Dalam sebulan, harga biji kakao bisa berubah harga dua hingga empat kali.
Terkadang dari saat petani memetik buah kakao hingga berakhir proses jemur pengeringan sekitar tiga hari, harganya sudah berubah lagi. Fluktuasi harga tersebut tidak hanya mengecewakan petani, tetapi juga merugikan pedagang pengumpul atau tengkulak.
Sesuai amatan Media Indonesia, di Kabupaten Bireuen, Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur, misalnya, harga biji kakao kering panen pertengahan bulan lalu Rp60.000 per (kilogram), pada awal pekan lalu turun menjadi Rp50.000/kg. Kemudian dari awal pekan lalu Rp50.000/kg, dalam tiga hari terakhir anjlok lagi menjadi Rp45.000/kg.
"Awal bulan September harganya sekitar Rp75.000/kg, lalu pertengahan bulan turun menjadi Rp60.000/kg. Belum berhenti di situ, pada awal Oktober (harga) turun lagi menjadi Rp50.000/kg. Lebih parah lagi sekarang sudah tiga hari terakhir terjun bebas menjadi Rp45.000/kg," tutur Husaini MY, pedagang pengumpul biji kalau di Kabupaten Bireuen, Aceh, kepada Media Indonesia, Senin (20/10).
Dikatakan Husaini, lebih parah lagi, harga biji bahan baku makanan dan kosmetik cokelat itu juga sering berubah-ubah atau tidak stabil. Hal itu bukan saja mengecewakan petani, melainkan juga merugikan pedagang.
"Kekacauan harga itu sangat meresahkan. Karena barang yang sudah dibeli, saat kami jual sudah turun harga. Misalnya kemarin harganya turun Rp2.000, hari ini naik Rp1.000, dan besoknya turun lagi Rp3.000. Jadi barang yang sudah kita beli sangat sulit memperoleh untung, bahkanerugi." tutur Husaini yang juga Ketua Bidang Pemasaran Forum Kakao Aceh (FKA).
Anjloknya harga dan terjadi kekacauan pasar kali ini ditenggarai karena permintaan jumlah kuota kakao dunia oleh penyuplai sudah memenuhi target. Jadi kontrak antara penyuplai di tingkat bawah dan mereka yang kelas dunia sudah memenuhi kuota.
Setelah target penyuplai terpenuhi dan permintaan produsen cokelat memadai tentu sangat berpotensi mempengaruhi harga gabah di tingkat petani. Apalagi semua penyuplai dan pabrik pengolahan cokelat tingkat dunia sudah mencapai target.
"Itu antara lain dugaan sementara. Ditambah lagi hasil produksi kakao dunia melimpah di negara-negara raksasa penghasil kakao seperti Ghana, Pantai Gading, Brazil, dan temasuk Indonesia," tambah Husaini yang sudah belasan tahun bergelut di dunia bisnis kalau itu. (MR/E-4)
ANCAMAN besar korban penyintas bencana di Aceh bukan hanya rumah yang digulung gelombang banjir bandang pada 24-27 November 2025 lalu.
Fokus pembersihan oleh aktivis 98 di Aceh Utara menyasar pada pekarangan Masjid Assa'adah, Meunasah (balai desa), serta akses lorong desa.
Tidak ada lagi seragam sekolah yang tersisa di Jamat. Siswa mengenakan pakaian warna-warni seadanya hasil pemberian donatur.
Merujuk dari terakhir pemerintah, bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu menyebabkan 208.693 unit rumah di Aceh rusak.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November lalu meninggalkan dampak serius bagi petani, pekebun, dan petambak.
Keterisolasian ini memaksa harga durian di tingkat petani terjun bebas. Durian ukuran sedang yang biasanya dihargai Rp8.000 per buah, kini hanya bernilai Rp2.500 per buah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved