Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
“KENAPA saya tidak bangga kepada santri yang hanya pintar? Karena pintar saja belum tentu berhasil.” Kalimat penuh makna ini disampaikan KH. Imam Jazuli, Lc., MA, saat memberikan motivasi untuk para santri di acara wisuda English Program Pesantren Bina Insan Mulia 1 dan Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, di Hotel Aston, Cirebon, belum lama ini.
Wisuda diikuti 408 santri beserta 1200 hadirin memenuhi ruangan acara tersebut. Mereka adalah para santri peserta program, wali santri, civitas pesantren, dan tamu undangan. Di sela-sela acara, hadirin juga disuguhi beragam penampilan seni dari para santri.
Dalam sambutannya, Kyai Imam Jazuli menjelaskan alasan mengapa ia lebih menghargai santri yang memiliki visi besar, motivasi kuat, kerja keras, serta mau diarahkan—daripada hanya mengandalkan kepintaran semata. “Pengalaman pesantren menunjukkan, orang yang pintar belum tentu berhasil. Tapi yang punya visi besar dan mau bekerja keras, peluang suksesnya jauh lebih tinggi,” tegas Kyai Imam Jazuli dalam keterangan yang diterima.
Menurutnya, peluang untuk melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri, sangat terbuka bagi para santri Bina Insan Mulia. Ia menegaskan bahwa santri Bina Insan Mulia tidak harus menjadi juara kelas untuk bisa kuliah ke luar negeri.
“Di pesantren lain, untuk bisa kuliah di Timur tengah atau Eropa saja harus anak yang pintar atau anak seorang tokoh atau anak orang kaya. Tapi di sini, anak peringkat 25 pun bisa kami kirim ke Australia. Anak ranking 10 bisa masuk Universitas Al-Azhar,” ungkap Kyai Imjaz sapaan akrab Kyai.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia itu menyinggung sedikit pengalaman para santrinya kuliah di Manouba University di Tunisia yang menggunakan tiga bahasa dalam penyampaian sehari-hari, yaitu Inggris, Arab, dan Perancis.
“Kakak-kakak kalian sudah banyak yang kuliah di sana dengan hasil yang membanggakan, meskipun mereka tidak mengambil jurusan studi Islam. Mereka mengambil study teknologi, sains, human sains, politik dan hukum,” papar Kyai kepada para santri.
Untuk bisa mengakses peluang beasiswa kampus-kampus internasional di luar negeri dan dalam negeri, menurut Kyai Imjaz, bahasa Inggris menjadi kunci yang wajib dimiliki. “Bahasa Inggris adalah alat pergaulan global, senjata untuk menembus dunia akademik dan syarat untuk sukses di dunia profesional,” ujarnya.
“Semua santri di Bina Insan Mulia harus mendapatkan standar penguasaan bahasa Inggris yang diakui dunia, baik TOEFL maupun IELTS agar mereka memiliki lebih banyak pilihan dalam melanjutkan studi atau berkiprah secara profesional,” tambahnya menegaskan pentingnya belajar bahasa Inggris.
Melihat kondisi Indonesia yang masih tertinggal dalam banyak aspek, padahal memiliki berlimpah sumber daya, KH. Imam Jazuli berpesan agar para santri memiliki visi besar dan orientasi yang benar agar dapat membangun bangsa. “Indonesia bukan kekurangan orang pintar, tetapi krisis orang-orang yang punya visi besar dan orang-orang yang orientasi hidupnya benar. Banyak orang pintar yang justru korup karena hanya memikirkan dirinya sendiri,” jelasnya.
Ia mendorong para santri agar kelak dapat menempati posisi-posisi strategis dalam pembangunan Indonesia, seperti menjadi anggota DPR, menteri, CEO, birokrat, bupati, bahkan presiden. “Indonesia ini negeri yang ajaib. Kaya sumber daya alam dan manusia, tapi rakyatnya miskin. Ada 70 juta pengangguran dan sekitar 194 juta menurut Bank Dunia masyarakat kita miskin. Ini bukan karena kekurangan sumber daya, tapi karena krisis kepemimpinan dan pengelolaan,” tegasnya.
Di akhir sambutan, Kiai Imam Jazuli membagikan filosofi pendidikan di Bina Insan Mulia yang dikenal dengan istilah "dua jalur kesuksesan", yaitu a) jalur darat seperti usaha keras, belajar sungguh-sungguh, dan totalitas, dan b) jalur langit: pendekatan spiritual seperti tirakat, puasa Senin-Kamis, dan salat tahajud. Kombinasi kedua jalur inilah yang, menurut Kiai Imjaz, membuat Pesantren Bina Insan Mulia mampu menghadapi tantangan seberat apa pun.
“Saya tidak menyangka akan mendapat begitu banyak tawaran program internasional dan beasiswa dari kampus-kampus ternama, baik dalam maupun luar negeri. Semua itu datang dari arah dan cara yang tidak kita bayangkan,” ungkapnya.
“Saya ingin kalian—para peserta program ini—menjadi tokoh-tokoh penting yang akan membangun Indonesia ke arah yang lebih baik,” pungkasnya. (H-2)
Di tengah perayaan kelulusan, ribuan wisudawan beserta keluarga melakukan aksi solidaritas untuk korban bencana banjir di wilayah Sumatra.
Wisuda kali ini diikuti oleh 2.946 wisudawan dari jenjang sarjana, magister, dan doktor.
UNRI akan terus memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui sinergi akademik, kolaborasi internasional, dan inovasi berkelanjutan.
Deputi Ojat mengatakan bahwa isu strategis dia sampaikan dalam kesempatan ini adalah terkait dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk masa depan Indonesia.
Wisudawan UMS harus mampu melanjutkan perjuangan intelektual mereka, dengan memanfaatkan peluang beasiswa LPDP sebagai investasi strategis negara untuk masa depan.
Banjir Pekalongan dan kecelakaan KA Menoreh di Cirebon menyebabkan sejumlah kereta di Stasiun Brebes terlambat hingga lebih dari satu jam.
MASYARAKAT di wilayah Cirebon merasakan suhu udara yang lebih dingin dalam beberapa hari terakhir.
Penggunaan Silpa berjalan secara transparan. Pemanfaatannya dilakukan untuk program prioritas.
Setelah stagnan selama lima tahun, target tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp 4 miliar, turun dari target 2025 yang mencapai Rp4.637.073.350.
Bencana yang mendominasi sepanjang 2025 lalu yaitu pohon tumbang dengan 67 kejadian, bangunan ambruk sebanyak 45 kejadian, cuaca ekstrem sebanyak 18 kejadian, banjir 11 kejadian.
Keputusan untuk melanjutkan operasional KA tambahan pada masa angkutan Nataru dilakukan berdasarkan hasil evaluasi terhadap tren pergerakan penumpang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved