Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH hampir dua pekan gas elpiji 3 kilogram sulit dicari di Kabupaten Grobogan, Blora dan Jepara, Jawa Tengah. Akibatnya, warga ketiga daerah tersebut terpaksa kembali menggunakan kayu bakar.
Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah mengembalikan tata niaga gas elpiji ukuran 3 kilogram dengan menghidupkan kembali pengecer agar dapat menjual elpiji tabung melon tersebut, kebijakan itu tidak serta merata dapat langsung terealisasi. Di tingkat pengecer, yakni warung dan toko stok gas melon masih kosong.
Kesulitan memperoleh gas elpiji ukuran 3 kilogram itu sangat dirasakan warga di Grobogan, Blora, dan Jepara yang sudah hampir dua pekan harus mencari ke berbagai wilayah hingga di luar kecamatan tempat mereka tinggal. Bahkan jikapun masih ada yang menjual harganya melambung hingga Rp40.000 per tabung atau naik 100% dibanding sebelumnya Rp20.000-Rp22.000 per tabung.
"Keluarga tetap harus makan, karena elpiji sulit dicari maka untuk memasak makanan guna memenuhi kebutuhan keluarga kembali ke jaman dulu menggunakan kayu bakar," ujar Sriasih, 35, warga Kedungtuban, Kabupaten Blora.
Meskipun tidak biasa menggunakan kayu bakar, lanjut Sriasih, namun dipaksakan juga, bahkan suaminya membuat tungku untuk memasak di luar rumah karena dapur yang ada sempit dan asap yang ditimbulkan cukup banyak, sedangkan kayu yang digunakan dari bekas bongkaran ataupun mencari ranting-ranting di hutan jati.
"Setiap memasak saya menangis karena sulit menghidupkan api," tambahnya.
Hal serupa juga diungkapkan Sunarti, 40, warga Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, meskipun sudah berusaha mencari gas elpiji tabung melon hingga ke beberapa kecamatan tetangga, namun tidak juga dapat sehingga usaha warungan yang digeluti sebagai matapencaharian sering tutup karena tidak dapat memasak.
Bahkan, jikapun masih ada di beberapa warung, menurut Sunarti, tidak mampu membeli karena harganya melonjak Rp40.000 per tabung. Anehnya, beberapa pangkalan juga tidak melayani pembelian eceran sehingga untuk dapat bertahan hidup terpaksa menggunakan kayu bakar.
"Setiap hari suami harus keliling mencari kayu bekas bongkaran di proyek-proyek, karena di sini juga tidak ada pohon yang dapat ditebang," imbuhnya.
Demikian juga Suranto, 30, warga Mlonggo, Kabupaten Jepara, yang mengaku kesulitan memperoleh gas elpiji ukuran 3 kilogram sejak sepekan lalu. Meskipun pemerintah daerah mengatakan stok elpiji cukup besar, hingga Selasa (4/2) ini masih sulut dicari.
"Istri memasak menggunakan kulit padi sebagai sekam, karena sudah seminggu tidak dapat elpiji dan daripada tidak dapat memasak," ujarnya.
Sementara itu Effendi, pemilik pangkalan gas elpiji di Jalan Mr Iskandar, Jetis Kauman, Kecamatan Blora, mengatakan adanya larangan warung atau toko menjadi pengecer gas melon membuat masyarakat panik, sehingga begitu mendapatkan kiriman langsung ludes habis diserbu pembeli yang sudah antre sejak pagi.
"Terakhir kali saya mendapat kiriman elpiji 3 kilogram Senin (3/2) sebanyak 140 tabung. Hanya kurang dari satu jam sudah ludes habis diserbu pembeli," ujar Effendi.
Berdasarkan informasi dari agen, demikian Effendi, pengecer akan dirubah menjadi sub pangkalan, tetapi itu juga tidak mudah karena harus terdaftar dan harus ada Nomor Induk Berusaha (NIB). Ke depan tampaknya ia akan menemui kendala untuk menjadi sub pangkalan. Dus, ia pun memperkirakan, warga akan tetap sulit mendapatkan stok. (AS/J-3)
GAS elpiji 3 kilogram yang seharusnya menjadi hak warga miskin, justru dinikmati oleh para ASN dan pemilik rumah makan di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara.
APARATUR sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dilarang menggunakan gas elpiji 3 kilogram.
KETERSEDIAAN dan pasokan gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, aman untuk kebutuhan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1446 H.
Gas elpiji ukuran 3 kilogram (tabung melon) di Jepara masih langka dan sulit dicari dan harganya melambung hingga Rp32.000 per tabung.
KABUPATEN Temanggung, Jawa Tengah, mendapatkan alokasi gas elpiji 3 kilogram (kg) dari Pertamina sebanyak 29.625 metrik ton tahun ini. Jumlah itu setara dengan 9.875.000 tabung.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) menambah penyaluran tabung elpiji sebesar 2,5 juta tabung selama periode 2-9 Februari 2025.
Tambahan tabung tersebut terdiri atas DIY 345 ribu tabung dan Jateng sebanyak 2,8 juta tabung. Jumlah tersebut 7,7% lebih banyak dari penyaluran normal harian.
Pemerintah Kota Palangka Raya menggelar pasar penyeimbang setiap hari sabtu selama bulan Desember 2025 dengan menyediakan 200 tabung gas LPG 3 kilogram.
Mukhamad Misbakhun meminta Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tidak mempersoalkan harga gas LPG 3 kilogram. Itu menjadi kewenangan Kementerian ESDM
Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Riau AKB Nasriadi mengatakan, lokasi pertama berada di sebuah rumah di Jalan Bangau IV, Kelurahan Perhentian, Kecamatan Marpoyan Damai.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan aturan baru dalam pembelian gas elpiji 3 kilogram (kg).
GAS elpiji 3 kilogram yang seharusnya menjadi hak warga miskin, justru dinikmati oleh para ASN dan pemilik rumah makan di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved