Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Puluhan bencana hidrometeorologi terjadi di Kabupaten Majalengka selama Januari 2025. Puncak musim penghujan masih terjadi di Majalengka.
“Sedikitnya terdapat 47 kejadian bencana sepanjang satu bulan pertama pada tahun ini,” tutur Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Majalengka, Wawan Suryawan, Senin (3/2). Puluhan bencana tersebut terdiri dari banjir, longsor. dan cuaca ekstrem yang meliputi pohon tumbang hingga angin puting beliung, serta bencana lainnya.
Kejadian kebencanaan di Kabupaten Majalengka, lanjut Wawan didominasi longsor yang mencapai 20 kejadian, cuaca ekstrem 13 kejadian, banjir sebanyak 11 kejadian, dan bencana nonalam berupa kebakaran tiga kejadian. Dampak dari 47 kejadian kebencanaan tersebut mengakibatkan 34 rumah rusak ringan, 11 rumah rusak sedang, empat rumah rusak berat, dan 67 rumah terendam banjir. “Sebanyak 398 warga Kabupaten Majalengka yang terdampak, dan dua korban luka-luka akibat bencana selama Januari 2025. Namun tidak ada korban meninggal dunia,” tutur Wawan.
Ditambahkan Wawan, hasil kajian risiko bencana tercatat 19 kecamatan di Majalengka rawan longsor dan pergerakan tanah, serta 15 kecamatan lainnya juga tercatat rawan banjir. “Sebaran kecamatan rawan banjir di wilayah utara Kabupaten Majalengka, sedangkan untuk kecamatan rawan longsor dan pergerakan tanah di selatan," tutur Wawan.
Selanjutnya Wawan menyampaikan, saat ini wilayah Kabupaten Majalengka masih memasuki masa puncak musim hujan. “Sehingga potensi bencana hidrometeorologi masih berpotensi meningkat,” tutur Wawan. Untuk itu Wawan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. (S-1)
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
ADA dua artikel yang ditulis Phil O’Keefe, Ken Westgate, dan Ben Wisner dalam dua tahun berturut-turut: 1976 dan 1977.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti alih fungsi lahan dan menurunnya daya dukung lingkungan sebagai faktor utama yang memperparah dampak bencana alam.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved