Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BALAI Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengungkap hasil pengamatan Gunung Merapi selama seminggu dari hari Kamis (16/11) hingga Rabu (21/11). Selama periode pengamatan tersebut, aktivitas kegempaan Gunung Merapi didominasi dengan gempa Fase Banyak atau Multi Phase (MP) dan gempa Guguran atau Rock Fall (RF).
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa dalam keterangan tertulisnya, Sabtu menjelaskan selama seminggu, gempa Fase Banyak mencapai 2.226 kali, sedangkan gempa Guguran mencapai 1.116 kali.
Kegempaan lainnya, Frekuensi Rendah atau Low Frequency 15 kali dan gempa Tektonik 8 kali," katanya.
Kegempaan ini, jelasnya mengindikasikan suplai magma yang masih tinggi sehingga bisa sewaktu-waktu memunculkan terjadinya awan panas. Diingatkan saat ini Gunung Merapi masih dalam fase erupsi efusif.
Lebih lanjut Agus Budi Santosa mengemukakan selain gempa, selama sepekan itu juga terjadi guguran lava yang mencapai 196 kali ke arah barat daya masuk hulu Sungai Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter dari puncak.
"Juga terdengar dua kali suara guguran. Suara dengan intensitas lemah hingga sedang itu terdengar di Pos Kaliurang dan Babadan," katanya.
Sementara asap kawah tertinggi municipia 250 meter dari puncak gunung yang ketinggiannya 2.968 mdpl tercatat terjadi pada Senin (18/11) pukul 05.05 WIB dari Pos Pengamatan Kaliurang dan Babadan.
BPPTKG hingga saat ini masih menetapkan status Siaga atau Level III. "Kami harap masyarakat mematuhi arahan dari Pemda masing-masing terkait dengan situasi Gunung Merapi," katanya.
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Jarak luncur ke-8 kali awan panas guguran itu maksimum 1.500 meter dari puncak dan mengarah ke barat daya atau mengarah ke hulu Kali Krasak, Bebeng dan Sat/Putih.
BPPTKG Yogyakarta melihat adanya sedikit perubahan morfologi pada kubah barat daya Gunung Merapi, akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava.
BPPTKG Yogyakarta menyatakan luncuran awan panas guguran maupun lava Gunung Merapi, masih dalam jarak aman dari permukiman maupun destinasi wisata di lereng gunung itu.
BADAN Geologi ESDM menyebut dari sekitar 500 gunung api di Indonesia, pertengahan Desember ini sebanyak 3 gunung berstatus siaga, 24 waspada, dan total 127 gunung api berstatus aktif.
"Jadi memang wajar (terjadi guguran) ketika musim hujan di bulan November, Desember (2025), kemudian puncaknya nanti Januari, Februari (2026) itu intensitas guguran akan sedikit meningkat,"
Gunung Merapi yang berada di perbatasan Magelang, Boyolali, Klaten (Jawa Tengah) dan Sleman (DIY) mengalami kegempaan ratusan kali dan kembali menggugurkan lava delapan kali.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved