Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
RATUSAN mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh akan diterjunkan untuk kuliah lapangan di Hutan Adat Mukim Paloh dan Mukim Kunyet Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Program ini merupakan inovasi baru dan perdana terkait Mahasiswa Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Di lapangan para mahasiswa tentu harus belajar budaya dan kearifan lokal tekait pemeliharaan atau pengelolaan hutan adat setempat. Lalu mereka juga menyalurkan disiplin ilmu hukum, lingkungan hidup, dan kehutanan yang dianggap bermanfaat sesuai kondisi lapangan.
Hal itu dilakukan guna mengadopsi kearifan lokal dan mendeteksi permasalahan di lapangan terutama terkait masyarakat setempat. Itu sangat bermanfaat untuk menjawab tantangan ke depan.
Baca juga : 8 Kawasan Hutan Adat Mukim Aceh Resmi Diakui Negara
Ketua PIC MBKM Hutan Adat yang juga Dosen Hukum Adat USK, Teuku Muttaqin Mansur, kepada Media Indonesia, Minggu (15/9), mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan berbagai persiapan di kampus hingga ke lokasi tujuan. Kemudian, hal yang paling penting ialah berkoodinasi dengan berbagai pihak terkait sepeti warga, tokoh masyarakat, dan pimpinan formal.
Dikatakan Muttaqin, sekitar sepekan lagi semua persiapan diperkirakan telah rampung. Setelah itu para mahasiswa kampung kebanggaan masyarakat Aceh itu langsung berkolaborasi dengan masyarakat Mukim Paloh dan Mukim Kunyet yang menjadi lokasi ratusan hektare hutan adat berada.
"Mahasiswa akan berada di lokasi selama dua bulan yakni mulai 23 September 2024 hingga 22 November 2024. Di lapangan mahasiswa didampingi oleh Dosen. Dengan mengikuti program Mahasiswa Belajar Kampus Merdeka ini, dapat dikonversi sebagai pengganti 20 SKS kuliah diruang kelas," tutur Muttaqin lelaki kelahiran Beuracan, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya itu.
Baca juga : Mahasiswa Universitas Syiah Kuala Wakili Aceh di Kompetisi Robot Terbang Nasional Di Yogyakarta
Wakil Ketua Pusat Riset Hukum, Islam, dan Adat (PRHIA) Sulaiman mengatakan, melalui kuliah lapangan ini diharapkan mahasiswa dapat belajar sekaligus menerapkan disiplin ilmu yang dimiliki. Setelah selesai, mereka diharapkan sudah memiliki draft proposal skripsi yang akan diajukan ke prodi masing-masing.
Sulaiman mengingatkan mahasiswa supaya menjunjung tinggi adat dan budaya setempat seperti peribahasa di mana bumi dipijak disilah langit di junjung.
"Kami tahu adik-adik mahasiswa ada yang dari luar Aceh, yang dari Aceh dari berbagai kabupaten, saya dulu pernah juga tinggal di Pulau Jawa tujuh tahun dan alhamdulillah tidak mendapat kendala yang berarti. Intinya bagaimana masyarakat, begitulah kita. Ada pantang larang jangan dilanggar," kata Sulaiman.
Baca juga : 245 Dosen USK Aceh Terima SK CPNS
Sekretaris Pelaksana Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA), Zulfikar Arma, juga menyampaikan rasa syukur dan dukungannya atas inisiatif USK menjadi bagian penting dalam mengisi hutan adat pasca ditetapkan oleh pemerintah.
"Kami sangat mendukung MBKM Hutan Adat yang digagas Rektor USK, ini wujud pengabdian kampus untuk masyarakat adat," tutur Zulfikar.
Menurutnya, penetapan delapan kawasan hutan adat sebelumnya tidak terlepas dari peran penting USK. Ini setelah melalui kajian PRHIA. Karena itu, pihaknya siap berkolaborasi dalam berbagai kegiatan mahasiswa MBKM Hutan Adat nantinya. (MR/J-3)
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Ini merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa terdampak sekaligus upaya meringankan beban ekonomi mereka.
Mahasiswa diingatkan agar sebaik mungkin menghindari hal-hal yang merugikan.
Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
Inisiatif Kota Parfum merupakan representasi dari semangat Banda Aceh untuk mengelola warisan menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan.
WALI Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menerima penghargaan sebagai Kepala Daerah Penggerak Zakat dalam ajang BAZNAS Award 2025 di Jakarta, Kamis (28/8).
Puncak arus balik ke Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh, terjadi pada Senin (7/4). Pemudik datang dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dan luar Aceh.
Meski terus diguyur mereka tetap bertahan menunggu pelaksanaan salat.
kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri guna meningkatkan daya saing sektor perikanan melalui inovasi berbasis riset.
Pernyataan tersebut disampaikan JPU Luthfan Al Kamil usai membaca tuntutan tersebut perkara jarimah liwath atau berhubungan sesama jenis di Mahkamah Syariah Banda Aceh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved