Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat telah bersiap untuk menghadapi potensi bencana hidrometerologi basah di awal 2024.
Kepala BPBD Jawa Barat Edy Heryadi mengungkapkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan perangkat daerah untuk melakukan upaya-upaya mitigasi. Upaya mitigasi itu ialah melakukan pemantauan daerah aliran sungai, normalisasi hingga pemantauan debit air.
“Sehingga apabila memang terjadi hujan besar dan lebat itu sudah dilakukan upaya-upaya pengendalian,” kata Edy, Rabu (17/1).
Baca juga : Cuaca Buruk Gubernur Kalsel Ingatkan Pemkab Jaga Ketahanan Pangan
Selain itu, pihaknya juga terus melakukan upaya penyampaian informasi kepada masyarakat agar selalu siap siaga dan waspada apabila terjadi potensi bencana yang mengancam di wilayahnya.
Ia mengakui, hal tersebut tidaklah mudah. Namun dengan konsistensi, ia yakin bahwa penyampaian edukasi mitigasi bencana ke masyarakat akan berjalan lancar.
Baca juga : Ancaman Bencana Masih Tinggi di Kota Semarang
“Kita bekerja sama dengan berbagai pihak melakukan upaya penyuluhan pada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap budaya bencana supaya masyarakat apabila terjadi bencana tidak panik dan bsia melaukan upaya-upaya perlindungan diri dan melaukan evakusi mandiri,” ucapnya.
Terkait dengan adanya siklon tropis anggrek yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem sepekan ke depan di semua wilayah, Edy menyatakan bahwa pihaknya telah mengirim surat edaran kepada perangkat daeran dan kabupaten/kota untuk melakukan upaya pencegahan dan peningkatan kewasapdaan.
“Kami juga megimbuu kepada masyarakat di daerah aliran sungai dan daerah tempat tinggal di lerneg pegunungan untuk tetap waspada menghadapi potensi ancaman bencana yang diakibatkan oleh hujan, sehingga masyarakat yang tinggal di wilayah itu diharapkan melakukan evakuasi saat terjadi bencana,” pungkasnya. (Z-5)
Meskipun modifikasi cuaca merupakan ikhtiar mitigasi yang penting, teknik ini bukanlah solusi permanen.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
KELURAHAN Cisarua di Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Data BMKG selama 16 tahun terakhir (2010–2025) juga memperlihatkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang sejalan dengan kenaikan suhu dan perubahan iklim.
Survei pascabencana yang dilakukan Pusat Koordinasi Nasional Mapala se-Indonesia bersama pegiat lingkungan menemukan ratusan titik longsor di kawasan hulu sungai Tapanuli Selatan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Menurut BPBD, korban meninggal dunia merupakan warga Pacitan yang tertimpa reruntuhan dinding saat gempa terjadi.
Ada dua fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan, yaitu Sekolah Dasar (SD) Jetis dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Jetis, dengan kerusakan cukup berat.
Analisa cuaca harian menjadi pijakan utama dalam pengambilan keputusan strategis.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat.
BPBD Kudus mengatakan longsor terjadi di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog tersebut karena intensitas hujan yang sangat lebat.
Cuaca ekstrem tersebut memicu setidaknya 14 kejadian bencana tersebar di 15 kecamatan, mulai dari pohon tumbang, kerusakan rumah warga, hingga gangguan fasilitas umum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved