Jumat 18 Februari 2022, 13:37 WIB

Perajin Tempe di Malang Kian Terpuruk Imbas Kenaikan Harga Minyak dan Kedelai

Bagus Suryo | Nusantara
Perajin Tempe di Malang Kian Terpuruk Imbas Kenaikan Harga Minyak dan Kedelai

MI/Bagus Suryo
Perajin tempe keripik di Malang

 

HARGA kedelai yang tidak stabil membuat perajin tempe di sentra industri tempe Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, semakin terpuruk. Kondisi diperparah dengan kelangkaan minyak goreng dan melonjaknya harga tepung kanji serta tepung beras.

"Perekonomian kami terhambat kerena sepi pembeli, karena minyak goreng langka di pasaran. Harga sempat turun saat diumumkan pemerintah, tapi kondisi harga naik lagi justru sulit dicari di pasaran," kata perajin keripik tempe di sentra industri tempe Sanan, Kota Malang, Laili Afida, Jumat (18/2).

Perajin keripik tempe Kiky itu mengungkapkan persoalan harga minyak yang melambung belum kelar lalu kini barang tersebut minim di pasaran. Ditambah, harga kedelai menyusul naik dari semula Rp9.500 per kg menjadi Rp11 ribu per kg.

Para perajin pun kelimpungan, mereka harus bersusah payah membeli minyak goreng dan mencari cara mempertahankan usaha di tengah harga kedelai yang tidak stabil. Keadaan semakin parah apalagi saat ini ditetapkan PPKM Level 3 yang imbasnya membuat sepi pembeli.

"Selain minyak goreng dan kedelai, harga tepung kanji naik menjadi Rp10.500 per kg sebelumnya Rp8.000. Tepung beras naik dari Rp105.000 per kg menjadi Rp110.000," ujarnya.

Baca juga:  Benih Kedelai di Jampang Kulon Mulai Diuji Coba

Bahkan, harga plastik ikut terkerek semula Rp35.000 per kg menjadi Rp38.000 per kg. Kenaikan semua harga bahan baku itu kian memberatkan perajin. Di sisi lain, belum ada bantuan yang meringankan para perajin.

Perajin keripik tempe lainnya, Reni Kurniawati, mengatakan yang bisa dilakukan para produsen tempe hanya berusaha menjaga kelangsungan usaha agar tidak tutup. Namun, mereka tidak mengetahui sampai kapan mampu bertahan.

"Kami mulai mengurangi produksi dari 6 alir sampai 7 alir menjadi 4 alir per hari. Per alirnya sekitar 5-6 kg keripik tempe lalu dikemas menjadi 300 bungkus keripik tempe atau dijual Rp50.000 per kg keripik," tuturnya.

Sementara itu, perajin tempe Sunyoto memahami kenaikan harga kedelai ini secara wajar meski merasakan perkembangan harga kurang stabil.

"Ini biasa saja karena sudah pekerjaannya. Yang saya lakukan mengurangi produksi sekitar 10-20 kg per hari dari kapasitas produksi 80 kg per hari," katanya.

Tempe yang ia produksi dijual ke pasar rakyat Rp20.000 per lonjor ukuran 48 sentimeter.(OL-5)

Baca Juga

dok.pribadi

Jaringan Santri di Tangerang Dukung Airin Jadi Gubernur Banten 2024

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 September 2022, 15:58 WIB
FIGUR mantan Wali kota Tangsel Airin Rachmi Diany kian menjadi magnet di tengah masyarakat. Sosoknya dipandang berpengalaman dan...
dok.Ant

Hari Ini, Titik Api Tidak Terlihat Laagi di Hutan Gunung Ciremai

👤Nurul Hidayah 🕔Kamis 29 September 2022, 15:49 WIB
HARI ini tidak terlihat lagi titik api di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Namun patroli tetap disiagakan mengantisipasi...
MI/Denny Susanto

Jhonlin Group Berangkatkan Umrah 870 Warga Tanah Bumbu

👤Denny Susanto 🕔Kamis 29 September 2022, 15:08 WIB
Jhonlin Group memberangkatkan sebanyak 870 orang warga Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan untuk menunaikan ibadah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya