Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Menjaga Ginseng Dayak dari Kepunahan

(Surya Sriyanti/N-1)
24/5/2016 01:50
Menjaga Ginseng Dayak dari Kepunahan
(MI/SUSANTO)

SEORANG laki-laki paruh baya duduk di kursi kecil yang terbuat dari plastik di halaman kebunnya. Dengan bercelana pendek dan menggunakan sepatu bot, dia memilah sejumlah biji dengan tekun. Lelehan keringat tidak menghentikan kerjanya. Itulah keseharian yang belakangan ini dilakukan Januminro Bunsal dengan tanaman di lokasi kebunnya yang seluas 20 hektare di Km 35 jalan Trans-Kalimantan ruas Palangka Raya-Banjarmasin, tepatnya di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Lelaki yang lahir di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 53 tahun lalu, itu telah mendapat sejumlah penghargaan dari pemerintah karena upayanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Kalteng. Akhir-akhir ini, dia fokus mengembangbiakkan tanaman pasak bumi (Eurycoma longifolia) yang oleh sebagian orang disebut sebagai ginseng dayak. Tanaman itu menjadi perburuan banyak orang karena dipercaya bisa meningkatkan vitalitas dan kebugaran laki-laki.

Hanya, selama ini para pemburu sering masuk ke hutan dan mematikan tanaman itu demi mendapatkan akar yang bisa diperjualbelikan. Seperti diketahui, bagian pasak bumi yang bisa digunakan ialah akar, sedangkan pohon dan batangnya tidak. Walhasil, tanaman itu semakin jarang ditemui lantaran tidak ada pemburu ginseng dayak yang berpikiran membudidayakannya. Kondisi itu yang membuat Januminro, perintis restorasi hutan rawa gambut Jumpun Pambelom (hutan sebagai sumber kehidupan) sejak 2010, melakukan budi daya pasak bumi. Kondisi tersebut, menurut pemenang Kahati Award 2015 itu, sudah berlangsung puluhan tahun di Kalteng.

Dengan demikian, bila terus dibiarkan, selain akan membuat kerusakan hutan, hal itu juga membuat pasak bumi semakin punah. "Karena orang akan terus memburu tumbuhan yang mulai langka tanpa berpikir untuk budi daya. Bila dibiarkan terus, bukan mustahil akan musnah," ujar dia. Setelah melakukan penelitian dengan sejumlah pihak, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalsel, itu berkesimpulan biji tumbuhan pasak bumi sebenarnya memiliki khasiat yang sama dengan akar pasak bumi.

"Artinya kita tidak perlu merusak pohon pasak bumi hanya untuk mengambil akarnya. Dengan biji pasak bumi, khasiatnya juga setara dengan akarnya," ujar PNS di Pemerintah Kota Palangka Raya itu. Menurutnya, cara menggunakan biji pasak bumi itu kurang lebih sama dengan akar, yakni dengan menyeduh biji di dalam air panas beserta teh, untuk kemudian diminum. Sejak 2010, Januminro sudah mengembangkan sebanyak 1.000 batang pasak bumi. Setelah lima tahun, tumbuhan itu sudah mencapai tinggi antara 2-4 meter.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya