Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Harga Sembako masih Tinggi

Deny Susanto
20/5/2016 02:25
Harga Sembako masih Tinggi
(ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)

OPERASI pasar (OP) gula pasir yang digelar PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) di Pasar Sederhana, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (19/5), sempat ricuh karena terjadi aksi saling dorong antarwarga. Pantauan Media Indonesia, ibu-ibu rumah tangga ataupun para pedagang masih ada yang kedapatan membeli berkali-kali. Padahal panitia telah membatasi penjualan, yakni maksimal 4 kilogram gula per orang. Pihak PPI beberapa kali sempat menghentikan penjualan dan meminta warga untuk tertib mengantre. Direktur Utama PPI, Dayu Padmara, mengakui harga gula di sejumlah daerah saat ini masih tinggi, mencapai Rp15 ribu-Rp16 ribu per kg. Guna mendorong penurunan harga, OP akan terus digelar hingga sepekan setelah Lebaran, Juli mendatang. "Sejauh ini OP yang digelar di seluruh Indonesia telah berhasil menurunkan harga hingga Rp400, dan kita harapkan akan menjadi normal pada pekan-pekan ke depan," tutur Dayu.

Lewat kerja sama dengan Disperindag setempat, OP akan dilakukan setiap hari, khususnya di lokasi dengan populasi terbanyak masyarakat kurang mampu. Total gula yang akan disebar PPI berjumlah 190 ribu ton yang dijual Rp12.500 per kg. Dari jumlah itu, Kalsel mendapat jatah sebanyak 300 ton. "Pemerintah juga berharap para distributor atau spekulan tidak mempermainkan harga gula di pasaran karena akan merugikan masyarakat," ucapnya. Di sisi lain, OP gula pasir di Jatim akan dilakukan tujuh hari sebelum bulan Ramadan. Gubernur Jatim, Soekarwo, menyatakan harga gula harus segera diturunkan karena harga semahal itu ternyata tak sampai membuat petani mendapatkan keuntungan. "Yang untung, kalau harga Rp15 ribu, ya para padagang juga para tengkulak, petani tetap saja tidak dapat untung. Masyarakat juga dirugikan," kata Soekarwo.

Namun, upaya stabilisasi harga gula pasir melalui OP tampaknya belum cukup efektif. Seperti yang ditemukan di Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di pasar tradisional Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, harga gula pasir masih saja naik meskipun musim giling sudah mulai dilakukan di sejumlah pabrik gula di provinsi itu. Pabrik gula berkapasitas 12 ribu ton yang dikelola PT Kebun Tebu Mas (KTM) di Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jatim, menyatakan mulai menggiling penuh pada 1 Juni mendatang. Sementara itu, selain gula pasir, bahan pokok lain yang mengalami kenaikan harga ialah telur dan minyak goreng curah. Di lain hal, harga bawang merah, bawang putih, dan cabai juga masih bertahan tinggi. Di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, harga daging sapi yang sebelumnya dijual Rp110 ribu per kg melonjak menjadi Rp120 ribu per kg. Harga daging ayam naik Rp5.000 dari Rp28 ribu per kg menjadi Rp32 ribu per kg.

Petani gigit jari
Kepala UPTD Pasar Induk Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Dodi Indra mengatakan kenaikan harga yang paling tinggi terjadi pada bawang merah seharga Rp40 ribu per kg. Padahal sebelumnya sempat turun di harga Rp35 ribu per kg. Meski harga bawang merah melambung dari Rp30 ribu menjadi Rp45 ribu per kg, petani di Jawa Tengah mengaku tidak menikmati kenaik-an itu. Wiji, 40, petani bawang di Losari, Brebes, mengungkapkan harga bawang di tingkat petani justru anjlok karena beberapa daerah mulai panen, dari sebelumnya Rp34 ribu per kg kini hanya Rp27 ribu per kg. Hal sama dialami petani cabai merah. Seperti diungkapkan Sarkum, warga Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jabar, Kamis (19/5). "Saat akan panen tanaman cabai kami diserang hama jenis ulat dan lalat. Akibatnya, bunga tanaman cabai pun berguguran. Selain itu, tanaman cabai pun membusuk dan panen berkurang," kata Sarkum. Dari target 2 ton, mereka hanya bisa mendapatkan 8 kuintal. Cabai merah pun hanya dihargai Rp6.000 per kg oleh tengkulak. (HS/FL/RS/LD/YK/RF/AS/UL/TB/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya