Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI negara berisiko bencana, Indonesia harus siap menghadapinya dengan berbagai cara, termasuk membangun budaya literasi tentang kebencanaan.
Untuk itu, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia memberikan dukungan kepada Arsip Nasional R.I. (ANRI) yang membangun Pusat Studi Arsip Kebencanaan di Aceh. Pusat studi ini dibangun untuk memberikan sarana edukasi bagi masyarakat terkait literasi kebencanaan.
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan kehadiran Pusat Studi Arsip Kebencanaan mendorong berbagai pihak untuk menyiapkan referensi pengetahuan terkait bencana. Selain itu, sebagai jalan menjelaskan kepada masyarakat tentang potensi bencana yang bisa menjadi pembelajaran bagi dunia.
"Di Perpustakaan Nasional banyak sekali naskah yang menjelaskan tentang kebencanaan ini. Yang paling penting bagaimana masyarakat dapat mendapatkan pelajaran serta edukasi tentang gejala bencana alam, khususnya," ungkapnya dalam seminar nasional dengan tema Menuju Pusat Studi Arsip Kebencanaan Dunia yang diselenggarakan secara hybrid, Jumat (22/10).
baca juga: ANRI Luncurkan Naskah Sumber Arsip Pemilu 1955
Bahan pustaka terkait kebencanaan yang dimiliki Perpusnas terdiri dari beragam koleksi, seperti manuskrip, buku langka, buku elektronik, artikel, dan surat kabar.
Syarif menyebutkan beberapa di antaranya adalah naskah Bugis (Kutika), naskah Melayu, naskah Jawa (Palilindon, Pararaton, Babad Momana dan Sengkala) yang berisi cerita bencana di masa lalu.
Lebih lanjut, Syarif Bando menuturkan hal yang paling utama dalam menyadarkan masyarakat tentang kesadaran bencana adalah dengan menulis atau membukukan setiap kejadian terkait bencana.
"Penulisan terus dilakukan dari gejala-gejala alam yang terjadi sehingga menambah banyak referensi. Karena masih sulit menemui buku-buku yang memang berkualitas di bidang itu. Secara itu berkaitan dengan kemampuan bangsa kita untuk mempersiapkan peralatan terkait pengendalian berbagai bencana yang mungkin timbul," jelasnya.
Sebelumnya pada Kamis (21/10), Kepala Perpusnas, Kepala ANRI Imam Gunarto, dan Plt Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana meresmikan Pusat Studi Arsip Kebencanaan. Kepala ANRI menjelaskan, peresmian dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak yakni Perpusnas, BKN, Universitas Syiah Kuala (USK), serta Pemerintah Daerah Aceh agar hal ini menjadi tanggung jawab bersama.
"Arsipnya sudah ada, sumbernya sudah ada, dukungan politik sudah ada, biaya sudah ada, peralatan sudah ada, gedung sudah ada. Selanjutnya apa? Yaitu untuk membangun kesadaran bersama di seluruh dunia,”"tegas Imam.
Dia berharap hadirnya pusat studi akan memberikan dampak kepada sektor sosial dan pariwisata, karena banyak orang yang datang untuk belajar tentang kebencanaan. "Karena kita bangsa yang mudah lupa, pusat studi ini merupakan suatu upaya memperpanjang ingatan kita tentang kebencanaan," katanya.
Plt. Kepala BKN yang menjadi Koordinator Penyusunan Cetak Biru Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias pada 2004-2009, berkisah mengenai pengalamannya dalam menyelamatkan arsip kala pasca-tsunami.
baca juga:
"Saya saat itu juga membantu ANRI menyelamatkan arsip-arsip yang terkena tsunami. Terutama arsip penting saat itu," ungkap Bima Haria.
Bima Haria mengungkap ide pembangunan Pusat Studi Kebencanaan ini sudah muncul sejak 2005. Masyarakat merupakan pihak yang harus menerima informasi terkait kebencanaan agar paham dan bereaksi cepat ketika terjadi bencana.
"Pusat Studi Kebencanaan itu tidak bersifat materi statis tapi justru yang dinamis. Yang bisa dimengerti, diakses, dan dipelajari orang seluruh dunia. Jadi tidak hanya arsip statis tapi juga arsip digital yang bisa diakses," imbuhnya.
Lebih jauh Bima Haria menyebutkan bahwa sebagai negara rawan bencana, Indonesia kurang memberikan respons terkait kesiapan menghadapi bencana. Pusat studi ini merupakan upaya pemerintah dalam memberikan sarana literasi masyarakat tentang hidup di kawasan rawan bencana.
Rektor USK Samsul Riza mengatakan kesiapan pihaknya untuk melestarikan arsip-arsip, terutama terkait kebencanaan. "Kami siap berkontribusi dan berkolaborasi dalam upaya pusat studi ini terus dapat berkiprah sehingga perlu penelitian lanjutan. Tidak hanya terkait tsunami tapi juga bagaimana penanganan pandemi di Aceh misalnya bisa ada juga di pusat studi ataupun juga kejadian lain yang langka," pungkas Samsul. (N-1)
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pemanfaatan perpustakaan sebagai bagian upaya peningkatan minat baca dan literasi generasi penerus bangsa.
Kolaborasi ini dimulai dengan mengadakan Training of Trainers secara virtual yang dihadiri oleh 191 fasilitator dari Purwakarta, Malang, Kediri, Pekalongan, dan Probolinggo.
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana membagikan buku ke TBM di Pandeglang dan menegaskan komitmennya mengawal sejarah dan sastra sebagai pelajaran wajib dalam RUU Sisdiknas
Perempuan menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban, terutama pada modus penipuan emosional dan relasi personal.
Nota kesepahaman ini sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah pusat dengan daerah yang melingkupi peningkatan literasi, pemartabatan Bahasa Indonesia, pelindungan bahasa daerah
Fokus pembersihan oleh aktivis 98 di Aceh Utara menyasar pada pekarangan Masjid Assa'adah, Meunasah (balai desa), serta akses lorong desa.
Tidak ada lagi seragam sekolah yang tersisa di Jamat. Siswa mengenakan pakaian warna-warni seadanya hasil pemberian donatur.
Merujuk dari terakhir pemerintah, bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu menyebabkan 208.693 unit rumah di Aceh rusak.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November lalu meninggalkan dampak serius bagi petani, pekebun, dan petambak.
Keterisolasian ini memaksa harga durian di tingkat petani terjun bebas. Durian ukuran sedang yang biasanya dihargai Rp8.000 per buah, kini hanya bernilai Rp2.500 per buah.
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan masih ada siswa korban bencana banjir Aceh yang belajar di tenda pengungsian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved